JAKARTA, koranindopos.com – Kualitas udara Jakarta pada Rabu, 15 Juni 2022, sekitar pukul 11.00 menjadi yang terburuk di dunia. Data tersebut ditampilkan melalui laman resmi lembaga pendata kualitas udara IQAir. Kemarin (16/6) kualitas udara Jakarta masih buruk dengan berada di peringkat kedua di dunia sekitar pukul 08.00.
Buruknya kualitas udara ibu kota tidak ditampik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI. Kepala Seksi Penyuluhan dan Hubungan Masyarakat DLH DKI Yogi Ikhwan menuturkan, dari hasil stasiun pemantauan kualitas udara (SPKU) yang dikelola pihaknya sejak dini hari pada 15 Juni 2022, kelembapan udara di Jakarta tinggi. ”Jadi, hasil pemantauan kelembapan tinggi, sedangkan suhunya rendah. Akibatnya, polutan pencemar udara terakumulasi di lapisan troposfer,’’ ujarnya.
Karena hal itu, lanjut Yogi, udara akan terlihat seperti kabut. ’’Kabut juga kelihatan dengan cuaca yang mendung,’’ tambahnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Ahmad Riza Patria menyebutkan, pihaknya akan mengecek lebih lanjut terkait data tersebut. Selain itu, dia bersama jajarannya bakal mengevaluasi memburuknya kualitas udara di Jakarta. ”Kami akan cek kembali informasi itu. Tentu, itu menjadi perhatian kami untuk melakukan evaluasi dan mengatasi masalah itu,’’ terangnya.
Meski begitu, Riza menyatakan bahwa kualitas udara sangat dipengaruhi kepadatan penduduk dan kendaraan di Jakarta. Dia juga menduga, polusi meningkat karena mobilitas kendaraan kembali tinggi di Jakarta. ”Memang, Jakarta ini cukup padat. Kendaraan kembali normal. Ada peningkatan polusi. Makanya, jadi perhatian kami,’’ ujarnya.
Menurut Riza, untuk memperbaiki kualitas udara di Jakarta, DKI sudah menyusun berbagai program. Salah satunya, program langit biru. Namun, untuk menyukseskan program itu, dia mengaku membutuhkan waktu yang tidak sebentar. ”Semua itu perlu waktu. Semua program kami laksanakan. Teman-teman tahu, program banjir, transportasi, taman, dan polusi. Semua program kami laksanakan, tapi itu perlu waktu,’’ tuturnya. (wyu/mmr)










