Koranindopos.com – JAKARTA – Ketidakpastian ekonomi semakin menjadi bagian dari dinamika kehidupan sehari-hari. Perkembangan geopolitik, volatilitas pasar keuangan, perubahan kebijakan ekonomi global, hingga pesatnya perkembangan teknologi dapat memengaruhi dunia usaha sekaligus keputusan finansial masyarakat.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak berarti peluang untuk tumbuh ikut tertutup. Indonesia dinilai masih memiliki fundamental ekonomi yang relatif kuat sehingga peluang pertumbuhan tetap terbuka, terutama bagi individu dan keluarga yang mampu mempersiapkan strategi finansial secara tepat.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat mencapai 5,61 persen pada kuartal I 2026. Berbagai lembaga internasional juga masih memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5 persen dalam beberapa tahun mendatang.
Pandangan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Risk Awareness Series #3 yang digelar Prudential Indonesia di Jakarta pada 22 Juli 2026. Forum tersebut menghadirkan sejumlah tokoh dari bidang ekonomi, investasi, dan industri asuransi untuk membahas perkembangan ekonomi sekaligus strategi membangun ketahanan finansial di tengah ketidakpastian.
Anggota Dewan Ekonomi Nasional Republik Indonesia, Chatib Basri, mengatakan ketidakpastian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dinamika ekonomi.
Menurut dia, berbagai tantangan seperti kondisi geopolitik, volatilitas harga komoditas, pelemahan permintaan masyarakat, hingga tekanan terhadap nilai tukar dan pasar keuangan tetap perlu diantisipasi.
“Ketidakpastian akan selalu menjadi bagian dari dinamika ekonomi. Yang membedakan adalah bagaimana kita mempersiapkan diri menghadapinya. Selama fundamental ekonomi tetap terjaga dan kepercayaan pasar terus membaik, peluang untuk bertumbuh tetap terbuka. Situasinya memang tidak mudah, tetapi opportunity-nya ada,” ujar Chatib.
Pernyataan tersebut menunjukkan pentingnya melihat kondisi ekonomi secara lebih menyeluruh. Gejolak pasar tidak selalu berarti hilangnya kesempatan, tetapi dapat menjadi momentum bagi masyarakat untuk mengevaluasi kembali strategi pengelolaan keuangan.
Dari perspektif investasi, President Director Schroders Indonesia Michael T. Tjoajadi menilai volatilitas merupakan bagian dari siklus ekonomi yang harus dihadapi investor.
Karena itu, ketidakpastian seharusnya tidak otomatis menjadi alasan untuk menghentikan atau menunda perencanaan investasi. Hal yang lebih penting adalah memastikan strategi investasi tetap sesuai dengan tujuan finansial jangka panjang.
Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah membangun portofolio yang terdiversifikasi dan mengevaluasinya secara berkala. Diversifikasi dapat membantu mengurangi dampak gejolak pada satu jenis aset terhadap keseluruhan portofolio.
Strategi tersebut juga memungkinkan investor tetap memiliki peluang pertumbuhan aset tanpa terlalu bergantung pada kinerja satu instrumen investasi.
Chief Financial Officer Prudential Indonesia Adit Trivedi mengatakan ketidakpastian ekonomi sebaiknya tidak dipandang semata-mata sebagai sesuatu yang harus ditakuti.
Sebaliknya, kondisi tersebut dapat menjadi pengingat bagi setiap individu untuk membangun ketahanan finansial sejak dini.
“Di tengah dinamika ekonomi saat ini, kemampuan memahami dan mengelola risiko menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan jangka panjang. Bagi kami, keputusan yang baik lahir dari pemahaman risiko yang lebih baik dan mengombinasikan pertumbuhan aset dengan perlindungan yang tepat,” ujar Adit.
Menurutnya, kombinasi antara pengelolaan risiko, peluang pertumbuhan aset, dan perlindungan dapat membantu individu maupun keluarga mengambil keputusan finansial dengan lebih baik.
Pendekatan tersebut juga tercermin dalam strategi Prudential Indonesia melalui berbagai solusi perlindungan dan investasi yang menerapkan prinsip diversifikasi untuk memenuhi kebutuhan nasabah dalam berbagai kondisi pasar.
Berdasarkan pemaparan Chatib Basri dan Michael T. Tjoajadi, terdapat sejumlah prinsip yang dapat dijadikan pegangan masyarakat dalam menjaga sekaligus mengembangkan kondisi finansial.
Perubahan pasar dalam jangka pendek sebaiknya tidak menjadi satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan finansial. Setiap keputusan perlu kembali disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai, seperti menyiapkan dana pendidikan, membeli rumah, mempersiapkan masa pensiun, atau membangun aset jangka panjang.
Tabungan, investasi jangka panjang, dan diversifikasi aset dapat ditempatkan sesuai kebutuhan dan profil risiko masing-masing individu. Portofolio juga perlu dievaluasi secara berkala agar tetap relevan dengan perubahan kondisi ekonomi, kemampuan finansial, serta tujuan yang hendak dicapai.
Perencanaan keuangan tidak hanya berbicara mengenai bagaimana mengembangkan aset, tetapi juga bagaimana melindunginya dari risiko yang tidak terduga.
Perlindungan kesehatan dan jiwa dapat menjadi bagian dari strategi tersebut sehingga kejadian yang tidak direncanakan tidak serta-merta mengganggu rencana finansial keluarga.
Kebutuhan terhadap perlindungan semakin relevan seiring meningkatnya biaya kesehatan dan semakin panjangnya harapan hidup masyarakat.
Dalam kondisi tersebut, perencanaan keuangan tidak cukup hanya berfokus pada akumulasi aset. Kemampuan mempertahankan kualitas hidup dan menjaga kestabilan keuangan ketika menghadapi risiko juga perlu diperhitungkan.
Industri asuransi kemudian memiliki peran dalam memberikan perlindungan finansial terhadap berbagai risiko. Dengan perlindungan yang memadai, masyarakat dapat memiliki ruang finansial yang lebih baik ketika menghadapi kondisi tidak terduga.
Prudential Indonesia menilai pemahaman mengenai risiko menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan finansial masyarakat.
Selama lebih dari tiga dekade, perusahaan tersebut menyatakan terus mendorong ketahanan finansial melalui perlindungan jiwa dan kesehatan, inovasi layanan yang berpusat pada nasabah, peningkatan literasi keuangan, serta penguatan tata kelola dan budaya manajemen risiko.
Komitmen tersebut salah satunya diwujudkan melalui Risk Awareness Series 2026, yang mempertemukan ekonom, regulator, dan praktisi industri untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai risiko dan literasi keuangan.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, kemampuan mengelola risiko menjadi semakin penting. Masyarakat tidak hanya dituntut mampu mencari peluang pertumbuhan aset, tetapi juga memastikan fondasi keuangan tetap kuat ketika kondisi ekonomi berubah.
Dengan perencanaan jangka panjang, diversifikasi, serta perlindungan yang sesuai kebutuhan, ketidakpastian tidak harus selalu dipandang sebagai ancaman. Justru, kondisi tersebut dapat menjadi momentum untuk membangun sistem keuangan pribadi dan keluarga yang lebih tangguh.(dhil)










