Koranindopos.com – Jakarta – Media sosial belakangan ramai dengan beredarnya informasi yang mengklaim bahwa menyemprotkan parfum langsung ke area leher dapat memicu kanker tiroid. Narasi tersebut menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat karena menyangkut kebiasaan sehari-hari yang dilakukan banyak orang.
Menanggapi isu tersebut, dokter spesialis bedah subspesialis bedah onkologi, Dr. dr. Diani Kartini, SpB(Onk), menegaskan bahwa informasi yang menghubungkan penggunaan parfum di area leher dengan risiko kanker tiroid tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat.
“Kalau menyemprotkan parfum untuk daerah leher itu sebuah hoaks ya kalau untuk menyebabkan kanker tiroid,” tegas dr. Diani.
Menurutnya, hingga saat ini tidak terdapat bukti medis yang menunjukkan bahwa penggunaan parfum pada leher secara langsung dapat memicu terbentuknya kanker tiroid. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk tidak mudah percaya terhadap informasi kesehatan yang beredar di media sosial tanpa verifikasi dari sumber yang kredibel.
Kanker tiroid merupakan penyakit yang terjadi akibat pertumbuhan sel abnormal pada kelenjar tiroid yang berada di bagian depan leher. Penyebabnya dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti riwayat keluarga, paparan radiasi dosis tinggi, faktor genetik tertentu, serta kondisi medis tertentu. Namun, penggunaan parfum sehari-hari bukan termasuk faktor risiko yang diakui dalam dunia medis.
Para ahli kesehatan mengingatkan bahwa informasi kesehatan yang tidak akurat dapat menimbulkan kepanikan yang tidak perlu. Di era digital saat ini, masyarakat diimbau untuk selalu memeriksa sumber informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya kembali.
Selain itu, penting untuk memahami bahwa parfum yang beredar secara resmi telah melalui berbagai proses pengujian keamanan sesuai standar yang berlaku. Selama digunakan sesuai petunjuk dan tidak menimbulkan reaksi alergi pada kulit, penggunaan parfum pada area tubuh, termasuk leher, umumnya aman dilakukan.
Meski demikian, sebagian orang yang memiliki kulit sensitif tetap disarankan untuk memperhatikan reaksi tubuh setelah menggunakan produk parfum tertentu. Jika muncul iritasi, kemerahan, atau keluhan lain, konsultasi dengan dokter kulit dapat menjadi langkah yang tepat.
Dr. Diani juga mengajak masyarakat untuk lebih kritis dalam menyikapi berbagai informasi kesehatan yang viral di internet. Menurutnya, keputusan terkait kesehatan sebaiknya didasarkan pada penjelasan tenaga medis dan penelitian ilmiah, bukan hanya berdasarkan unggahan media sosial yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Dengan klarifikasi dari pakar onkologi tersebut, masyarakat diharapkan tidak lagi khawatir terhadap klaim yang menyebutkan bahwa menyemprotkan parfum di area leher dapat menyebabkan kanker tiroid. Edukasi dan literasi kesehatan yang baik tetap menjadi kunci untuk melindungi masyarakat dari informasi yang menyesatkan.(dhil)










