Koranindopos.com, Taiwan — Upaya meningkatkan kualitas layanan bagi penyandang disabilitas intelektual kembali menjadi fokus Federasi Nasional untuk Kesejahteraan Disabilitas Intelektual (FNKDI) setelah menghadiri The 27th Asian Federation on Intellectual Disabilities (AFID) Conference yang digelar pada 26–31 Oktober 2025 di Taipei, Taiwan. Keikutsertaan Indonesia dalam forum dua tahunan ini membuka peluang baru bagi penguatan sistem pendidikan inklusif dan fasilitas pendukung di Tanah Air.
Konferensi berskala internasional tersebut menghadirkan delegasi dari berbagai negara di Asia dan sejumlah mitra global. Dari Indonesia, rombongan dipimpin langsung oleh Ketua Umum FNKDI, dr. Endro Basuki S. SpBS (K). M.Kes bersama Bp. Dasuki, Ibu Sudarmaningsih, Ibu Merry Meilan, Bp. Heru Yuwono, dan satu perwakilan siswa disabilitas intelektual bernama Benedict. Kehadiran delegasi Indonesia terselenggara berkat dukungan Bank BRI yang ikut mendorong peran Indonesia dalam forum internasional tersebut.
Pada kesempatan itu, FNKDI menempatkan penguatan kerja sama sebagai agenda utama, mulai dari sektor pendidikan, peningkatan layanan terapi, pengembangan teknologi hingga peluang riset lintas negara. Komitmen ini ditegaskan langsung oleh dr. Endro yang menyebut forum AFID sebagai ruang penting untuk mengukur kesiapan Indonesia berkompetisi dan berkontribusi dalam isu-isu global terkait disabilitas intelektual.

“Konferensi ini menjadi tolak ukur partisipasi Indonesia di level internasional. Dukungan BRI sangat berarti dalam upaya kami mengharumkan nama Indonesia,” ujar dr. Endro.
Selama berlangsungnya konferensi, para delegasi mendapatkan wawasan baru mengenai perkembangan teknologi pendampingan disabilitas intelektual, termasuk materi yang dipresentasikan oleh perwakilan dari Jerman dan Amerika Serikat. Informasi tersebut dipandang dapat membuka peluang kolaborasi lanjutan demi mempercepat peningkatan kualitas pendidikan khusus di Indonesia.
Salah satu agenda yang menjadi sorotan adalah kunjungan ke New Taipei Special School (NTSS). Sekolah tersebut dinilai sebagai contoh nyata bagaimana negara menyediakan fasilitas komprehensif bagi anak-anak disabilitas intelektual, mulai dari ruang pelatihan keterampilan hidup, peralatan terapi, hingga black dream room yang diperuntukkan bagi anak dengan sensitivitas terhadap cahaya.
“Sekolahnya sangat luas dan semua fasilitas dipenuhi oleh negara. Anak-anak disabilitas intelektual dibimbing agar mandiri bahkan hingga mampu bekerja,” jelas Merry Meilan selaku Public Relation FNKDI.
FNKDI menilai bahwa model sekolah seperti NTSS dapat menjadi rujukan dalam membangun sekolah negeri khusus disabilitas intelektual di Indonesia. Dengan fasilitas yang memadai, kualitas pendampingan dan pendidikan dinilai dapat ditingkatkan secara signifikan.
Konferensi tahun ini mengusung tema “Participation, Equity, and Well-Being”, sebuah gagasan yang menekankan pentingnya kesetaraan dan kesejahteraan bagi anak disabilitas intelektual di seluruh Asia. Komitmen terkait tema tersebut turut disampaikan langsung oleh Pemerintah Taiwan melalui kehadiran Wakil Presiden Bi-Khim Hsiao dan Menteri Pendidikan Ying-Yao Cheng.
Indonesia juga membawa pulang kabar baik setelah kembali ditetapkan sebagai Full Member dan terpilih menjadi 3rd Vice President AFID. Penetapan ini sekaligus menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah penyelenggaraan AFID ke-31 pada tahun 2033.
“Harapan kami, saat Indonesia menjadi tuan rumah kelak, kita sudah memiliki fasilitas yang layak dan modern untuk pendidikan serta pendampingan anak-anak disabilitas intelektual,” kata dr. Endro.
Setelah kembali ke Tanah Air, FNKDI akan segera melakukan audiensi dengan pemerintah pusat dan daerah untuk merumuskan tindak lanjut hasil konferensi. Organisasi ini juga mengajak sektor swasta dan masyarakat umum untuk turut mengambil peran dalam memperkuat ekosistem pendampingan bagi penyandang disabilitas intelektual.
“Mereka adalah saudara kita. Mereka membutuhkan pendidikan, kasih sayang, dan ruang untuk tumbuh. FNKDI ingin menjadi jembatan antara pemerintah, orang tua, guru, dan dunia usaha untuk mewujudkan ekosistem yang peduli terhadap disabilitas intelektual,” pesan Merry Meilan.
Dengan dorongan kolaborasi lintas sektor dan rencana tindak lanjut yang konkret, FNKDI optimistis Indonesia dapat bergerak menuju sistem pendidikan dan layanan disabilitas intelektual yang lebih modern, setara, dan berkelanjutan. (Brg/Kul)
















