koranindopos.com – Jakarta. Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) menyatakan komitmennya untuk turut serta membangun sistem penyelamatan di Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat (NTB). Janji ini disampaikan menyusul meningkatnya kekhawatiran atas keselamatan pendaki setelah serangkaian kecelakaan tragis terjadi di jalur pendakian gunung yang menjadi ikon wisata Lombok tersebut.
Dalam dua bulan terakhir, tercatat tiga insiden beruntun yang mencoreng citra keselamatan Rinjani. Dua pendaki dilaporkan meninggal dunia: Juliana Marins, turis asal Brasil, dan Rennie Abdul Ghani, pendaki asal Malaysia. Sementara itu, satu pendaki lain asal Malaysia, Nazli Awan Mahat, mengalami cedera serius di bagian kepala.
Melihat kondisi ini, FPTI merasa perlu turun tangan untuk mendukung peningkatan sistem keamanan dan keselamatan pendaki di jalur-jalur menuju puncak Rinjani.
“Kami siap membantu membangun sistem rescue (penyelamatan) yang lebih terstruktur dan profesional di Gunung Rinjani,” ujar Dyson Toba, Ketua Umum Pengprov FPTI DKI Jakarta sekaligus pendiri brand outdoor terkenal, Consina.
Dyson mengaku telah menyampaikan usulan ini langsung kepada Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal. Menurutnya, peran FPTI penting karena organisasi ini memiliki kompetensi di bidang evakuasi medan ekstrem dan medan vertikal, termasuk pendakian gunung.
FPTI berharap sistem penyelamatan di Rinjani tidak hanya bersifat reaktif, melainkan proaktif, terlatih, dan dilengkapi dengan peralatan sesuai standar internasional. Langkah ini memerlukan sinergi antara pemerintah daerah, pengelola Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), komunitas pendaki, dan relawan lokal.
Sistem ini diharapkan mencakup:
-
Tim rescue tetap dan terlatih di setiap pos pendakian,
-
Pelatihan berkala untuk porter dan pemandu wisata,
-
Ketersediaan alat komunikasi dan evakuasi medis di titik-titik krusial,
-
Simulasi penanganan darurat secara rutin.
Gunung Rinjani merupakan salah satu destinasi pendakian paling populer di Indonesia dan Asia Tenggara. Namun, seiring bertambahnya jumlah wisatawan domestik dan mancanegara, tantangan keselamatan semakin kompleks. Kecelakaan yang terjadi belakangan ini menjadi pengingat bahwa sistem penyelamatan yang solid adalah kebutuhan mendesak, bukan sekadar pilihan.
Pemerintah daerah NTB sendiri menyambut baik inisiatif dari FPTI ini dan diharapkan segera menindaklanjutinya dalam bentuk aksi nyata di lapangan.(dhil)










