Koranindopos.com, MERAUKE – Kerja keras, disiplin, dan semangat pantang menyerah mengantarkan SMA Negeri 3 Merauke meraih juara Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI Tahun 2026 tingkat Provinsi Papua Selatan. Kemenangan tersebut sekaligus memastikan sekolah itu akan mewakili Papua Selatan pada Grand Final LCC Empat Pilar MPR RI tingkat nasional di Jakarta.
Ajang yang berlangsung di Hotel Halogen, Kelapa Lima, Merauke, Sabtu (18/7/2026), tidak hanya menjadi arena adu pengetahuan mengenai Empat Pilar MPR RI, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter, sportivitas, dan semangat persatuan di kalangan pelajar Papua Selatan.
Kegiatan dibuka oleh Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal MPR RI, Siti Fauziah, didampingi jajaran Sekretariat Jenderal MPR RI, serta dihadiri Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Selatan, Dr. Marteh Rummar, bersama dewan juri yang berasal dari kalangan akademisi Universitas Musamus.
Sebanyak sembilan sekolah terbaik dari berbagai kabupaten dan kota di Papua Selatan mengikuti kompetisi tersebut setelah lolos dari tahap seleksi sebelumnya.
Keberhasilan SMAN 3 Merauke bukanlah hasil yang diraih secara instan. Di balik kemenangan tersebut terdapat proses pembinaan intensif selama hampir dua bulan yang dipimpin guru Pendidikan Pancasila sekaligus pembimbing tim, Agus Mulyono.
Menurut Agus, para siswa tidak hanya mempelajari materi Empat Pilar MPR RI, tetapi juga dilatih berpikir kritis agar mampu menjawab berbagai persoalan kebangsaan secara komprehensif.
“Anak-anak sudah kami persiapkan sekitar dua bulan. Kami hanya memberikan pendampingan, sementara mereka yang berjuang dengan kerja keras dan disiplin hingga akhirnya mampu meraih hasil terbaik,” ujarnya.
Ia menjelaskan, perjalanan tim dimulai dari seleksi ujian tertulis secara daring yang diselenggarakan MPR RI. Setelah lolos ke tingkat provinsi, para siswa harus mampu membagi waktu antara kegiatan belajar di sekolah dan persiapan menghadapi kompetisi.
Menurut Agus, kualitas soal pada LCC Empat Pilar tahun ini jauh lebih menantang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena tidak hanya menguji kemampuan menghafal, tetapi juga mendorong peserta memahami nilai-nilai kebangsaan secara mendalam.
“Peserta dituntut berpikir kritis, memahami makna nilai-nilai kebangsaan, bukan sekadar menghafal materi,” katanya.
Bagi Ketua Tim SMAN 3 Merauke, Aisyah, kemenangan tahun ini menjadi jawaban atas kegagalan pada penyelenggaraan LCC Empat Pilar tahun sebelumnya, ketika timnya hanya mampu finis di posisi kedua.
Ketua OSIS sekaligus Duta SMAN 3 Merauke itu mengaku pengalaman tersebut justru menjadi motivasi terbesar untuk bangkit dan mempersiapkan diri lebih baik.
“Kami belajar dari penyesalan. Tahun ini tekad kami sudah bulat karena memang ingin menjadi juara. Banyak waktu istirahat yang kami korbankan demi mempersiapkan kompetisi ini,” ungkapnya.
Ia bahkan mengaku bersama rekan-rekannya hanya tidur sekitar dua jam pada malam sebelum final karena masih melakukan persiapan sekaligus menahan rasa gugup menghadapi pertandingan.
Di tengah kesibukannya mengurus Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB), Aisyah bersama tim juga membuat grup komunikasi bertajuk “Siap Nasional” sebagai penyemangat untuk menjaga kekompakan dan optimisme.
Menurutnya, pelaksanaan kompetisi berlangsung secara terbuka dan menjunjung tinggi sportivitas.
“Nilai sportivitasnya sangat tinggi. Dewan juri juga terbuka menerima masukan maupun interupsi dari peserta sehingga kompetisi berjalan adil,” katanya.
Lebih dari sekadar perlombaan, LCC Empat Pilar MPR RI dinilai menjadi sarana efektif menanamkan wawasan kebangsaan kepada generasi muda, khususnya di Papua Selatan.
Agus Mulyono menilai kegiatan tersebut mampu memperkuat pemahaman siswa mengenai Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai fondasi kehidupan berbangsa.
Ia berharap semakin banyak sekolah, termasuk yang berada di wilayah pedalaman Papua, dapat mengikuti kompetisi serupa agar kesempatan memperoleh pendidikan karakter semakin merata.
Sementara itu, Aisyah mengaku keikutsertaannya dalam LCC Empat Pilar membuat dirinya semakin memahami pentingnya hukum, konstitusi, dan kehidupan demokrasi di Indonesia.
“Saya menjadi lebih peduli terhadap politik, hukum, dan kehidupan berbangsa. Kami ingin berbagi pengetahuan itu kepada teman-teman lain agar semakin banyak generasi muda yang memahami nilai-nilai kebangsaan,” ujarnya.
Bagi Aisyah, pendidikan karakter yang diperoleh melalui LCC Empat Pilar menjadi bekal penting untuk mewujudkan cita-citanya berkontribusi dalam pengembangan pendidikan dan sistem hukum Indonesia.
Keberhasilan SMAN 3 Merauke pun menjadi bukti bahwa pembelajaran mengenai nilai-nilai kebangsaan mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, semangat persatuan, serta kepedulian terhadap masa depan bangsa. (hai)










