Koranindopos.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan signifikan hingga penutupan perdagangan sesi I pada Jumat (24/7/2026). Pelemahan ini terjadi seiring sentimen negatif yang juga membayangi mayoritas bursa saham Asia, mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar terhadap perkembangan ekonomi global.
Berdasarkan data RTI Business, IHSG ditutup melemah 1,75 persen ke level 6.204,63 pada akhir sesi pertama. Bahkan, pada perdagangan intraday, indeks sempat merosot lebih dari dua persen hingga menyentuh level 6.161,13, sebelum memangkas sebagian kerugiannya.
Aktivitas perdagangan berlangsung cukup ramai. Volume transaksi mencapai 24,60 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp10,51 triliun. Sementara itu, frekuensi perdagangan tercatat mencapai 1.459.047 kali transaksi, menunjukkan tingginya aktivitas jual di pasar.
Tekanan jual terjadi hampir di seluruh sektor. Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, hanya 80 saham yang berhasil menguat, sementara 594 saham melemah dan 115 saham bergerak stagnan.
Indeks saham unggulan LQ45 juga ikut terkoreksi dengan penurunan 1,66 persen ke level 616,700, menandakan tekanan tidak hanya terjadi pada saham lapis kedua, tetapi juga pada emiten-emiten berkapitalisasi besar.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelaku pasar cenderung melakukan aksi jual di tengah meningkatnya ketidakpastian global, sehingga mendorong IHSG bergerak di zona negatif sejak awal perdagangan.
Pelemahan IHSG sejalan dengan tren negatif yang terjadi di berbagai pasar saham Asia.
Indeks Nikkei 225 Jepang menjadi salah satu yang mengalami koreksi terdalam dengan penurunan sekitar 2,95 persen hingga akhir sesi pagi. Sementara itu, Hang Seng Index Hong Kong turun sekitar 1,28 persen, diikuti Shanghai Composite Index yang melemah sekitar 1,30 persen.
Di kawasan Asia Tenggara, Straits Times Index (STI) Singapura juga bergerak di zona merah dengan penurunan sekitar 0,36 persen.
Koreksi yang terjadi secara serentak di sejumlah bursa regional mengindikasikan bahwa sentimen eksternal masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan pasar keuangan Asia.
Pelaku pasar saat ini masih mencermati berbagai perkembangan global, mulai dari arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve), kondisi ekonomi dunia, hingga dinamika geopolitik yang berpotensi memengaruhi arus modal ke negara berkembang.
Sikap hati-hati investor mendorong aksi profit taking dan perpindahan dana ke aset yang dinilai lebih aman, sehingga memberikan tekanan pada pasar saham, termasuk Indonesia.
Meski demikian, sejumlah analis menilai volatilitas yang dipicu faktor eksternal umumnya bersifat sementara. Fundamental ekonomi domestik yang relatif stabil masih menjadi salah satu faktor penopang bagi prospek pasar modal Indonesia dalam jangka menengah hingga panjang.
Investor pun diimbau tetap disiplin dalam menerapkan strategi investasi, memperhatikan manajemen risiko, serta mencermati perkembangan sentimen global yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan IHSG pada perdagangan selanjutnya.(Dhil/dtk)










