Koranindopos.com – Jakarta – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih akan menghadapi tantangan pada paruh kedua 2026 seiring ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Allianz Global Investors (AllianzGI) menilai keputusan Federal Reserve (The Fed) terkait suku bunga acuan akan menjadi faktor utama yang memengaruhi sentimen investor di pasar saham Indonesia.
AllianzGI memperkirakan The Fed berpotensi kembali menaikkan suku bunga acuan hingga total 50 basis poin pada semester II-2026. Kebijakan suku bunga yang lebih tinggi dipandang dapat memperkuat nilai tukar dolar AS sekaligus meningkatkan daya tarik aset-aset investasi di Amerika Serikat.
Kondisi tersebut berpotensi memicu arus keluar modal asing (capital outflow) dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Akibatnya, sejumlah sektor di Bursa Efek Indonesia yang memiliki kepemilikan asing tinggi maupun sektor yang sensitif terhadap likuiditas global diperkirakan akan mengalami tekanan.
Meski demikian, Head of Equity AllianzGI Indonesia Octavius Prakarsa menilai gejolak tersebut lebih bersifat jangka pendek dan tidak mengubah prospek positif pasar saham Indonesia dalam jangka panjang.
“Volatilitas yang dipicu oleh faktor eksternal seperti perubahan kebijakan The Fed umumnya bersifat sementara dan tidak mengubah prospek jangka panjang pasar saham Indonesia,” ujar Octavius dalam keterangannya.
Menurut AllianzGI, Indonesia masih memiliki sejumlah faktor fundamental yang membuatnya tetap menarik dibandingkan banyak negara berkembang lainnya. Ketahanan ekonomi domestik, inflasi yang relatif terkendali, serta kondisi makroekonomi yang terus membaik menjadi modal penting dalam menjaga daya tarik pasar modal nasional.
Di tengah kondisi tersebut, AllianzGI menilai investor perlu menerapkan strategi investasi yang lebih selektif dengan berfokus pada perusahaan-perusahaan berkualitas.
Saham-saham yang memiliki arus kas kuat, struktur neraca sehat, kemampuan menjaga margin keuntungan, serta prospek pertumbuhan laba yang berkelanjutan dinilai lebih mampu bertahan menghadapi tekanan akibat kondisi keuangan global yang semakin ketat.
“Di tengah kondisi pasar yang penuh ketidakpastian, kemampuan memilih saham secara aktif menjadi semakin penting. Strategi active management memungkinkan investor mengidentifikasi perusahaan yang memiliki fundamental kuat dan mampu beradaptasi terhadap perubahan siklus ekonomi,” jelas Octavius.
Dari sisi global, AllianzGI melihat masih terdapat sejumlah faktor yang membuat The Fed cenderung mempertahankan sikap hawkish dalam beberapa bulan mendatang.
Salah satunya adalah inflasi inti Amerika Serikat yang masih berada di atas target bank sentral. Pada Mei 2026, inflasi inti Personal Consumption Expenditures (Core PCE) tercatat mencapai 3,4 persen secara tahunan, menunjukkan tekanan harga masih belum sepenuhnya mereda meski suku bunga telah berada pada level tinggi.
Tim Chief Investment Officer (CIO) AllianzGI dalam laporan House View Update bertajuk “Fed Hikes Back in Focus” menilai pasar sebelumnya terlalu optimistis terhadap peluang pelonggaran kebijakan moneter setelah pergantian kepemimpinan di Federal Reserve.
Namun, menurut AllianzGI, prioritas utama bank sentral AS tetap menjaga kredibilitas dalam mengendalikan inflasi sebelum mempertimbangkan kebijakan yang lebih longgar.
AllianzGI memperkirakan The Fed akan tetap mengedepankan pendekatan “first things first”, yakni memastikan inflasi kembali menuju target sebelum mengalihkan fokus pada agenda reformasi ekonomi jangka panjang.
Meski volatilitas pasar diperkirakan meningkat, AllianzGI menilai prospek jangka panjang IHSG tetap positif selama fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga.
Karena itu, investor disarankan tidak hanya terpaku pada sentimen jangka pendek, tetapi juga mempertimbangkan kualitas fundamental emiten serta menerapkan strategi investasi yang disiplin agar mampu memanfaatkan peluang ketika pasar mengalami koreksi.(dhil/dtk)










