koranindopos.com – Jakarta. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Situasi ini memicu ancaman dari Iran untuk menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia.
Pada Sabtu (28/2), seorang pejabat Uni Eropa menyebut kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz telah menerima transmisi dari pasukan elit Iran, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), yang menyatakan tidak ada kapal yang diizinkan melewati perairan tersebut. Meski demikian, pejabat tersebut menegaskan Iran belum secara resmi menutup selat tersebut.
Ancaman ini langsung memicu kekhawatiran global, mengingat posisi Selat Hormuz yang sangat vital dalam distribusi energi dunia.
Selat Hormuz adalah jalur perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Berdasarkan data dari Encyclopædia Britannica, selat ini memiliki panjang sekitar 990 kilometer dengan lebar yang bervariasi antara 55 hingga 340 kilometer.
Secara geografis, Selat Hormuz terletak di antara wilayah Oman dan Iran. Posisinya yang strategis menjadikannya salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia.
Selat Hormuz sering disebut sebagai “chokepoint” energi global. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia diperkirakan melewati jalur ini setiap harinya. Negara-negara produsen minyak besar di kawasan Teluk Persia—seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Irak, dan Iran—mengandalkan selat ini untuk mengekspor minyak mentah ke pasar Asia, Eropa, dan Amerika.
Jika Selat Hormuz benar-benar ditutup, dampaknya bisa sangat luas, antara lain:
-
Lonjakan harga minyak dunia
-
Gangguan pasokan energi global
-
Ketidakstabilan pasar keuangan internasional
-
Ketegangan geopolitik yang semakin meningkat
Bahkan ancaman penutupan saja sudah cukup membuat pasar minyak bergejolak.
Hingga kini, belum ada pengumuman resmi dari pemerintah Iran mengenai penutupan total Selat Hormuz. Meski terdapat laporan mengenai transmisi peringatan kepada kapal-kapal yang melintas, aktivitas pelayaran internasional masih berlangsung.
Namun, ancaman ini tetap menjadi perhatian serius komunitas internasional. Negara-negara besar dan organisasi global terus memantau perkembangan situasi untuk mengantisipasi potensi krisis energi.
Ketegangan di sekitar Selat Hormuz bukanlah hal baru. Wilayah ini kerap menjadi titik panas konflik geopolitik, terutama karena kepentingan energi global yang sangat besar. Penutupan selat, meski hanya sementara, bisa menjadi tekanan politik sekaligus alat negosiasi dalam konflik internasional.
Bagi dunia, Selat Hormuz bukan sekadar jalur laut biasa, melainkan salah satu titik paling strategis dalam sistem perdagangan energi global.(dtk/dhil)










