koranindopos.com – Jakarta. Otoritas di Iran dilaporkan kembali menutup Selat Hormuz pada Rabu (8/4) waktu setempat. Kebijakan ini diambil menyusul meningkatnya ketegangan di kawasan, terutama setelah serangan militer yang dilakukan oleh Israel di Lebanon yang menargetkan kelompok militan Hizbullah, sekutu Iran.
Laporan mengenai penutupan jalur pelayaran vital tersebut disampaikan oleh media pemerintah Iran, Fars News Agency. Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati perairan ini setiap harinya. Penutupan selat ini pun berpotensi memicu dampak besar terhadap pasar energi internasional.
Meski demikian, di tengah situasi yang memanas, dua kapal tanker dilaporkan berhasil melintasi selat tersebut. Berdasarkan data dari MarineTraffic, kapal milik Yunani bernama NJ Earth serta kapal berbendera Liberia, Daytona Beach, menjadi yang pertama melewati jalur strategis tersebut setelah diumumkannya gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran.
Keberhasilan kedua kapal tersebut menunjukkan bahwa meskipun ada pembatasan, jalur tersebut belum sepenuhnya tertutup secara total. Namun, situasi tetap dinilai sangat rentan terhadap perubahan cepat, mengingat konflik regional yang masih berlangsung.
Penutupan Selat Hormuz kerap dijadikan sebagai langkah strategis Iran dalam merespons tekanan geopolitik. Dengan perannya yang krusial dalam distribusi energi global, setiap gangguan di kawasan ini hampir selalu berdampak langsung pada harga minyak dunia dan stabilitas ekonomi internasional.
Hingga saat ini, komunitas internasional terus memantau perkembangan situasi, sembari mendorong deeskalasi konflik guna mencegah krisis yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.(dhil)










