Koranindopos.com, Jakarta – Film drama keluarga “Jangan Buang Ibu” resmi diperkenalkan kepada publik melalui sebuah konferensi pers di Jakarta. Film produksi LEO Pictures ini mengangkat kisah tentang hubungan anak dan ibu yang diuji oleh waktu, jarak, serta dinamika kehidupan keluarga modern. Cerita yang dihadirkan tidak sekadar menampilkan konflik keluarga, tetapi juga menggambarkan realitas yang kerap ditemui dalam kehidupan masyarakat.
Produser film tersebut, Agung Saputra, mengatakan bahwa gagasan menghadirkan film ini berangkat dari keinginannya membuat cerita keluarga yang dekat dengan pengalaman penonton. Menurutnya, sosok ibu memiliki peran penting sebagai pusat dalam kehidupan keluarga.
“Ibu adalah rumah. Rumah adalah segalanya. Lewat film ini kami ingin mengingatkan kembali bahwa ibu punya peran besar dalam kehidupan kita, baik dulu, sekarang, maupun nanti,” ujar Agung dalam acara tersebut.
Menariknya, proyek film ini awalnya tidak direncanakan sebagai drama keluarga. Agung mengungkapkan bahwa ia sempat menawarkan proyek film horor kepada sang sutradara, Hadrah Daeng Ratu, yang dikenal sukses menggarap sejumlah film horor populer. Namun sang sutradara justru mengajukan keinginan untuk membuat film drama.
“Awalnya saya menawarkan horor, karena Bu Hadrah dikenal sebagai sutradara horor. Tapi beliau justru ingin membuat drama, dan kebetulan kami sedang mengembangkan judul ‘Jangan Buang Ibu’. Dari situ proses kreatifnya dimulai,” kata Agung.
Menurutnya, proses pengembangan cerita film tersebut berlangsung cukup emosional bagi tim kreatif. Ia bahkan mengaku diskusi naskah kerap berujung pada suasana haru di antara tim produksi.
“Setiap kali kami mengembangkan cerita, sering kali kami ikut terbawa emosi. Ceritanya memang sangat dekat dengan pengalaman banyak orang,” ujarnya.
Selain menghadirkan cerita yang emosional, film ini juga menampilkan kolaborasi para pemain lintas generasi.
Salah satu pemeran utama adalah Nirina Zubir yang memerankan tokoh Ristiana, seorang ibu yang memasuki usia lanjut. Dalam film ini, ia harus menjalani proses transformasi karakter yang cukup berat.

Nirina mengungkapkan bahwa ia harus menjalani proses rias wajah hingga empat jam setiap hari untuk memerankan karakter perempuan berusia sekitar 70 tahun. Pengalaman tersebut menjadi tantangan baru sepanjang kariernya di dunia film.
“Empat jam sebelum pemain lain datang saya sudah harus siap. Baru benar-benar mengerti arti pre-call dalam produksi film,” kata Nirina sambil tersenyum.
Film ini juga menghadirkan Dwi Sasono yang memerankan sosok ayah dengan konflik batin. Karakter tersebut digambarkan sebagai figur kepala keluarga yang masih bergulat dengan ego dan ambisinya, sehingga keputusan-keputusan yang diambilnya berdampak pada hubungan dalam keluarga.
“Sebagai seorang bapak, kadang ada ego dan ambisi yang belum selesai dengan diri sendiri. Hal-hal seperti itu bisa memengaruhi keputusan yang berdampak pada keluarga,” kata Dwi.
Sementara itu, Refal Hady memerankan karakter Tama, anak sulung yang memikul tanggung jawab besar terhadap keluarganya. Ia menilai karakter tersebut mewakili banyak anak pertama dalam keluarga yang sering memendam tekanan tanpa banyak mengungkapkannya.
Refal mengaku langsung tersentuh ketika pertama kali membaca naskah film tersebut. “Waktu membaca skripnya, saya langsung merasa ceritanya sangat menyentuh dan dekat dengan realitas hubungan keluarga,” ujarnya.
Aktris Amanda Manopo juga menghadapi tantangan tersendiri selama proses syuting. Saat produksi berlangsung, ia tengah menjalani masa kehamilan trimester pertama sehingga harus tetap menjaga kondisi fisik dan emosinya di tengah adegan drama yang cukup intens.
“Waktu itu saya sedang hamil muda, jadi harus lebih hati-hati ketika menjalani adegan emosional. Untungnya seluruh tim produksi sangat mendukung,” kata Amanda.
Selain para pemeran utama, film ini juga menampilkan Erika Carlina yang untuk pertama kalinya memerankan karakter seorang ibu di layar lebar. Menurut Erika, peran tersebut terasa lebih dekat dengan kehidupannya karena ia juga telah menjadi seorang ibu di kehidupan nyata.
“Ini pertama kalinya saya memerankan seorang ibu. Karena di kehidupan nyata saya juga sudah menjadi ibu, rasanya jadi lebih relate dengan karakter,” ujar Erika.
Film “Jangan Buang Ibu” sendiri berkisah tentang Ristiana, seorang ibu tunggal yang membesarkan tiga anaknya setelah suaminya meninggal dunia. Ketika memasuki masa tua, ia justru menghadapi kenyataan pahit ketika anak-anaknya mulai menjauh dan menitipkannya di panti jompo. Melalui cerita tersebut, film ini menyoroti kerinduan seorang ibu terhadap perhatian dan kehangatan keluarga.
Selain para aktor yang telah disebutkan, film ini juga dibintangi oleh Saskia Chadwick, Mpok Atiek, serta Basmalah Gralind. Film drama keluarga ini dijadwalkan tayang di bioskop pada musim liburan tahun ini.(BRG/Kul)










