Koranindopos.com, Jakarta – Film horor Indonesia kembali menghadirkan cerita dengan pendekatan berbeda lewat Juminten Edan yang akan tayang di bioskop mulai 23 Juli 2026. Alih-alih hanya mengandalkan kemunculan sosok menyeramkan, film ini mengangkat persoalan keluarga dan trauma yang terus menghantui kehidupan seseorang.
Kisahnya mengikuti Juminten, perempuan tunawicara yang memutuskan pulang ke kampung halamannya setelah delapan tahun meninggalkan tempat tersebut. Ia datang bersama suaminya, Manto, serta putri mereka, Saskia, dengan harapan memulai kehidupan yang lebih tenang.
Namun, kepulangan itu justru membangkitkan kembali kenangan masa lalu yang selama ini disimpan rapat. Sejak kembali ke desa, berbagai peristiwa aneh mulai terjadi dan membuat perubahan sikap Juminten semakin sulit dipahami.
Sutradara Dedy Mercy mengatakan cerita dalam film ini lahir dari persoalan yang dekat dengan kehidupan banyak keluarga di Indonesia. Menurutnya, hubungan antaranggota keluarga menjadi bagian penting yang membangun konflik sepanjang cerita.
“Secara keseluruhan, film ini sebuah kisah keluarga, miniatur dari kisah keluarga seluruh Indonesia sebenarnya. Bagaimana hubungan antara mertua dan menantu, anak dan ibu mertua gitu. Jadi itu yang, kisahnya itu coba kita ambil yang lebih dekat dengan pemirsa,” kata Dedy Mercy saat press screening di Jakarta.
Situasi menjadi semakin mencekam ketika perilaku Juminten berubah drastis. Teror yang muncul bukan hanya membuat keluarganya ketakutan, tetapi juga memicu keresahan warga sekitar hingga mereka memutuskan memasung Juminten karena dianggap membahayakan.
Dedy Mercy menjelaskan, Juminten Edan tidak ingin sekadar menghadirkan kisah tentang sosok yang dianggap tidak waras. Ia ingin mengajak penonton melihat bahwa penilaian terhadap seseorang sering kali tidak sesederhana yang terlihat.
“Ini yang orang-orang yang mungkin dianggap waras seringkali melakukan sebuah kegilaan dalam tanda kutip. Bahkan mungkin sebaliknya juga gitu, orang-orang yang dianggap gila atau orang yang gak dianggap justru punya keluhuran budi. Punya kewarasan yang dalam tanda kutip,” ujarnya.
Film produksi Mercusuar Films bersama Digital Frame Production ini dibintangi Meisya Amira sebagai Juminten dan Dimas Aditya sebagai Manto. Deretan pemain lainnya antara lain Anne J. Coto, Kukuh Prasetyo, Deden Bagaskara, Bambang Oeban, Wina Marrino, Sharon Jovian, Teguh Julianto, Wanto Cacing, Feril Ali, dan Maria Lituhayu.
Lewat perpaduan unsur horor, drama keluarga, dan misteri psikologis, Juminten Edan mengajak penonton mengikuti perjalanan mengungkap penyebab perubahan Juminten sekaligus rahasia besar yang tersimpan di masa lalunya. (Brg/Kul)










