koranindopos.com – Jakarta, Ketua Delegasi Grup Kerja Sama Bilateral (GKSB) DPR RI untuk Palestina, Syahrul Aidi Maazat, menyatakan bahwa kabar keretakan hubungan antara mantan Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dapat menjadi momentum diplomatik baru bagi perjuangan kemerdekaan Palestina. Pernyataan tersebut disampaikan dalam sela-sela 13th Meeting of the Permanent Committee on Palestine, yang merupakan bagian dari Konferensi ke-19 Parliamentary Union of the OIC Member States (PUIC), di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta.
“Mudah-mudahan ini menjadi kebaikan. Kita dengar di media bahwa Trump dan Netanyahu sedang ada clash. Semoga ini menjadi momentum positif bagi Palestina,” ujar politisi Fraksi PKS.
Syahrul menyebut, dinamika geopolitik antara dua tokoh berpengaruh itu membuka celah baru yang bisa dimanfaatkan oleh dunia internasional, termasuk negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), untuk meningkatkan tekanan terhadap Israel.
Dengan merujuk pada sejarah kemerdekaan Indonesia yang tercapai saat Jepang melemah di akhir Perang Dunia II, Syahrul menekankan pentingnya momen global dalam mendorong perjuangan sebuah bangsa.
“Kemerdekaan Indonesia terjadi ketika Jepang, penjajah saat itu, dilemahkan oleh perang. Kita memanfaatkan itu. Palestina juga perlu momentum seperti ini,” tegasnya.
Ia juga menyatakan keyakinannya bahwa Palestina akan mencapai kemerdekaan, terlebih dengan dukungan aktif dari Indonesia, terutama di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Sikap Indonesia terhadap Palestina sangat kuat, baik melalui Presiden langsung maupun Menteri Luar Negeri. Kita patut bangga,” lanjut Syahrul.
Ia juga mengingatkan bahwa Palestina adalah satu-satunya negara peserta Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung yang hingga kini belum merdeka. Oleh karena itu, Syahrul menyerukan agar semangat solidaritas yang dulu pernah dibangun dapat dihidupkan kembali.
Sementara itu, Ketua DPR RI Dr. (H.C.) Puan Maharani menyampaikan bahwa keberhasilan Indonesia menjadi tuan rumah PUIC 2025 mencerminkan kekuatan diplomasi parlemen Indonesia. Puan menekankan bahwa PUIC bukan sekadar forum seremonial, tapi menjadi wadah untuk mendorong diplomasi berbasis solusi.
“Lewat PUIC, kita bangun panggung kepemimpinan untuk menyatukan suara, memperkuat solidaritas, dan memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan sebagaimana semangat Konferensi Asia Afrika 1955,” ujar cucu Bung Karno tersebut.
Puan juga menyoroti pentingnya PUIC 2025 karena berdekatan dengan peringatan 70 tahun KAA, yang telah digelar di Bandung pada 18 April lalu.
“Spirit Bandung tidak berhenti di tahun 1955. Tahun 2025 adalah saat yang tepat untuk menghidupkan kembali semangat solidaritas global Selatan-Selatan. PUIC adalah panggung strategis untuk itu,” tandasnya.
Konferensi PUIC 2025 diharapkan menjadi momentum kuat bagi negara-negara OKI dan Asia-Afrika untuk mendukung perjuangan Palestina, sekaligus mempererat kerja sama antarnegara dalam membangun keadilan dan kemerdekaan yang setara. (hai)










