koranindopos.com – Jakarta. 17 tahun sudah Ronni Waluya menggeluti dunia public speaking sebagai trainer. Sama lamanya, bahkan, mungkin lebih lama dibandingkan dengan karirnya bermusik. Asam-garam, pahit-manis telah dia lalui. Lalu bagaimana cara Ronni mengembangkan bisnis training tersebut di tengah iklim usaha yang kian kompetitif? Berikut wawancara ekslusif Ronni Waluya dengan Koranindopos.com bagian-2.
BAGI Ronni, keterampilan berkomunikasi hanya dapat dikuasai dengan praktik. Oleh karena itu, sejak awal dia menekankan kepada audien dan muridnya untuk mengaplikasikan ilmunya secara simultan. ”Gue tuh selalu disclaimer di awal pengajaran, bahwa ilmu komunikasi adalah ilmu praktek. Jadi, kalau misalnya lu sudah belajar ataupun lu belajar sama siapa pun juga, tapi kalau enggak mempraktekin, ya enggak akan jadi apa apa juga ilmunya,” ujar ayah lima anak tersebut.
Sejak awal mengajar pada 2008 hingga saat ini, Ronni memperkirakan jumlah muridnya mencapai 10 ribu orang. Sementara untuk kelas public speaking masih di angka ratusan orang. Untuk menjaga komunikasi dengan para alumnus dan pengajaran yang berkesinambungan, Ronni selalu membuka ruang konsultasi. ”Setelah ikutan kelas gue, paling konsultasi-konsultasi aja. Ketika mereka dihadapkan pada suatu situasi yang membutuhkan gue, baru mereka konsultasi. Ya kalau ditanya ada Yang berhasil…? Rafika Duri pernah ikutan kelas gue. Itu salah satu contoh yang berhasil. Mba Fika tuh selalu bilang, eh gue belajar communication skill dari Kang Ronni,” kata Ronni, berkelakar.
Bicara pengalaman menarik selama mengajar, Ronni mengaku saat dirinya harus berhadapan dengan para pegawai BUMN yang telah purnatugas atau pensiun dini. Dia diminta oleh perusahaan pelat merah tersebut untuk memberikan training kepada para calon pensiunan agar dapat mengembangkan diri pasca di-rumah-kan.
”Perusahaan BUMN akan melakukan golden shake hand. Artinya, karyawan ditawari pensiun dini. Maka lu akan dikasih uang pensiun kan. Nah rata-rata pesertanya itu orang yang sudah bekerja paling sedikit 30 tahun. Jadi bisa dibayangkan, mereka sudah berada di zona nyaman selama 30 tahun. Terus harus resign. Nah itu PR nya. Ketika mindset mereka yang tadinya gak ngapa-ngapain dapat gaji, terus masuk ke dunia enterpreneur. Let’s say, mereka dapat uang pensiun dua miliar. Mau diapain uang itu? Nah kita mengajarkan mereka yang pertama adalah mindset harus diubah dulu, dari yang awalnya hanya gajian, gimana caranya dari uang pensiun itu mereka terima gaji dari situ selama sisa hidupnya,” beber Ronni.
Tentu tidak mudah. Bagi Ronni itu adalah seni dalam mengajar. Terutama saat menghadapi orang yang bermental blok. Atau menutup diri. ”Orang yang cenderung sombong, gitu loh, mental blok-nya tinggi banget. Berasa punya jambatan dan wewenang,” ujarnya.
Biasanya situasi tersebut terjadi pada hari pertama training diselenggarakan. ”Mereka ketemu gue liat siapa loh. Ngeliat ke kita tuh seperti itu. Elo siapa? Tapi begitu di akhir acara, kan itu training-nya tiga hari, ketika mau pulang, mereka minta maaf. Jadi kita mengubah mindset itu yang tadinya mereka merasa sombong, paling punya, paling bisa, tapi akhirnya mereka merasa oh iya ya. Ketika mereka keluar dari BUMN, mereka bukan siapa-siapa,” papar Ronni.
Tetapi Ronni tidak merasa jumawa. Dia menganggap perubahan sikap positif para pensiunan BUMN tersebut bukan karena dirinya. ”Bukan gue yang mengubah, tapi bagaimana mereka itu punya goals, punya tujuan. Dan tujuan itu lah yang membuat mereka berubah sebetulnya. Bukan karena ikut training,” ungkap Roni.
Sejatinya, sambung Ronni, trik untuk mengubah pola pikir atau mindset audien ke arah positif caranya mudah. Langkah pertama adalah menggali apa yang menjadi ’tombol merah’ mereka. Sebab, setiap orang punya tombol merah yang ketika itu diklik, maka orang tersebut berubah dengan sendirinnya. ”Kita tanyakan kepada mereka, sebenarnya tujuan hidup mereka itu apa? Untuk siapa? Dan mau ngapain?. Terus kita gali begitu kita dapet, ya sudah kita pegang aja tombolnya, kita pencet tombolnya, mereka mau berubah. Dan itu mainnya psikologis, menarik sih,” tuturnya. (why/mmr/bersambung)










