Koranindopos.com, JAKARTA – Nama Siti Hardijanti Hastuti masih melekat di telinga generasi milenial. Namun tidak demikian dengan generasi Z (gen Z) dan alpa. Debut politik anak sulung Presiden ke-2 RI Soeharto itu meredup sejak jabatannya di MPR RI ikut lengser bersama sang ayah pada 1998. Untuk menjaga eksistensi, dia menerbitkan buku berjudul Selangkah di Belakang Mbak Tutut.
Buku yang ditulis dan dikurasi oleh Donna Sita Indria tersebut secara resmi dirilis di Balai Sudirman Ballroom Prajurit, Jalan Dr. Saharjo, No. 268, Tebet, Jakarta Selatan pada Jumat (15/8/2025). Donna menguraikan perjalanan hidup perempuan yang akrab disapa Mbak Tutut tersebut ke dalam buku yang berisi seribu halaman itu.
”Pembuatan buku ini kurang lebih sampai tujuh tahun lamanya, berisi seribu halaman. Saya sempat terkaget. Ada beberapa komentar dari pembaca; saya harus membaca 1000 halaman?, tetapi saya coba membaca dan tidak bisa berhenti,” ujar Donna, mengutip pernyataan pembaca yang mengapresiasi buku tersebut.
Donna menjelaskan, buku itu bersumber dari wawancara dengan teman-teman dekat Mbak Tutut. Seperti yang disampaikan anak kedua Mbak Tutut, Danty Indriastuty Purnamasari atau yang dikenal dengan sapaan Danty. ”Saya sendiri tidak tau bagaimana ibu terhadap teman bisnisnya, dalam lingkungan pekerja sosial, bahkan di mata keluarga. Jadi, buku ini menceritakan seperti itu. Saya sangat bangga sebagai anaknya pada saat melihat komentar dari hasil buku ini,” kata Danty. (rls/why/mmr)










