Koranindopos.com, JAKARTA – Berbagai upaya akselerasi transformasi digital Indonesia melalui perluasan layanan internet terus dilakukan. Di antaranya, dengan proyek Satelit Republik Indonesia-1 (Satria-1) dan Satelit Republik Indonesia atau Satria-2. Dengan proyek yang membutuhkan dana sebesar Rp 15 triliun tersebut, kesenjangan akses internet di beberapa daerah di Indonesia bisa teratasi.
Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Johnny G. Plate menuturkan, perusahaan asal Perancis, Thales Group berkomitmen untuk menjalankan kerja sama proyek Satria-1. Hal itu disampaikannya setelah menerima kunjungan dari Senior Executive Vice President of International Development of Thales Group Pascale Sourisse. ”Thales menyampaikan komitmennya untuk proses pengadaan Satelit Satria-1 dengan menggunakan semua keahlian dan kesempatan manajemen yang dimiliki,” terang Johnny.
Menurut Johnny, saat ini proses produksi Satria-1 telah masuk pada fase penting. Oleh karena itu, dia berharap kerjasama pemerintah Indonesia dengan Thales dapat berjalan lancar. Dengan begitu, peluncuran Satria-1 dapat dilakukan sesuai jadwal. ”Mudah-mudahan nanti sampai dengan Desember bisa selesai dan selanjutnya kita bisa mulai persiapkan peluncuran atau launching satelitnya di pertengahan tahun depan, sekitar bulan Juli,” ungkapnya.
Terkait peluncuran Satria-1 tersebut, Kementerian Kominfo menjadwalkan untuk diluncurkan pada pertengahan 2023 dan diharapkan satelitnya bisa beroperasi pada akhir tahun 2023.
Dia juga menyebutkan tidak hanya membahas terkait komitmen dengan Thales Group, tetapi juga mitigasi potensi masalah terkait proyek Satria-1 tersebut. ”Kami juga mendiskusikan hal yang sulit dalam mitigasi potensi masalah-masalah yang muncul agar pembangunan proyek seperti satelit bisa terlaksana,” katanya.
Johnny juga menyampaikan, pertemuan dengan perusahaan teknologi yang berbasis di Perancis itu juga membahas teknologi lain. Yakni, keamanan digital (cyber security), smart mobility, hingga identitas digital (digital ID). (wyu/mmr)










