Koranindopos.com, Jakarta – Gelaran Mahabbah Allah Pakem 9 menghadirkan konsep berbeda di Auditorium PPHUI Jakarta. Pertunjukan yang digagas bersama oleh PWI Jaya dan komunitas Tiga Jantung itu memadukan nuansa musik rock modern dengan lirik-lirik bernapaskan spiritualitas.
Acara tersebut tidak hanya menampilkan pertunjukan musik, tetapi juga membawa pesan refleksi sosial dan ajakan memperbaiki diri di tengah situasi bangsa saat ini. Para musisi lintas generasi yang terlibat membawakan lagu-lagu bernuansa sufistik dengan balutan aransemen modern.
Perwakilan komunitas Tiga Jantung, Kiai Syaiful Umar, mengatakan konser ini lahir dari keprihatinan terhadap berbagai persoalan yang terjadi di Indonesia, termasuk rentetan bencana alam di sejumlah wilayah.
“Kita tidak ingin ada bencana lebih besar di negeri ini, makanya kita mesti mohon kepada Allah dan tobat bersama,” kata Syaiful Umar.
Menurut pria yang akrab disapa Mbah Syaiful itu, konser Mahabbah Allah Pakem 9 juga menjadi sarana menyampaikan pesan spiritual kepada masyarakat luas melalui jalur kebudayaan dan musik.
Ia menilai pendekatan seni lebih mudah diterima berbagai kalangan dibanding penyampaian pesan melalui forum formal. Karena itu, konser tersebut dikemas dengan perpaduan musik populer agar dapat menjangkau generasi muda.
“Setelah konser pertobatan dan ruwatan ini, kita mohon kepada Allah semoga ke depan bencana-bencana tidak terjadi lagi,” imbuhnya.
Dalam pertunjukan tersebut, sejumlah musisi ikut terlibat dalam formasi Interstate Pakem 9 Band. Beberapa nama yang tampil antara lain Baruna Elpamas, Taraz Biztara, Yoel Pery, serta vokalis Axl.
Para musisi membawakan sekitar sepuluh lagu dengan warna musik ambient modern rock. Aransemen gitar elektrik, dentuman drum, serta lapisan keyboard menjadi elemen utama dalam pertunjukan malam itu.
Taraz Biztara menyebut tantangan terbesar dalam konser tersebut adalah menerjemahkan pesan spiritual dari lagu-lagu ciptaan Mbah Syaiful agar bisa diterima lintas generasi.
“Tantangannya, kami harus mendeliver karya yang dibuat para seniman senior agar sampai ke telinga dan hati penonton lintas generasi. Tugas kami saat di panggung, menerjemahkan lirik itu ke dalam ekspresi,” ujar Taraz Biztara saat konferensi pers.
Selain membawakan aransemen rock modern, konser itu juga menghadirkan sesi akustik melalui lagu “Tersenyumlah”. Lagu tersebut awalnya direncanakan dibawakan vokalis perempuan, namun akhirnya diputuskan menggunakan penyanyi pria.
“Ada satu lagu yang dibawakan secara akustik, yaitu ‘Tersenyumlah.’ Tadinya lagu tersebut mau dibawakan pemain kibor kami, cewek, tapi Mbah Saiful mendapat wangsit tetap cowok saja,” kata Taraz.
Mahabbah Allah Pakem 9 turut menghadirkan lagu-lagu bertema religius dan kebangsaan seperti “Rasulullah”, “Astaghfirullah”, “Pemimpin”, “NKRI Harga Mati”, hingga “Do’a Bangsa”. Seluruh repertoar tersebut dibawakan dengan pesan utama keselamatan bangsa dan ajakan memperbaiki akhlak sosial.
Di sela penyampaiannya, Mbah Syaiful juga mengaitkan kondisi bangsa dengan berbagai peristiwa bencana yang terjadi belakangan ini. Ia menyinggung kekhawatirannya terhadap kemungkinan bencana yang lebih besar jika manusia terus mengabaikan peringatan alam.
“Konser ini dibuat untuk seluruh umat manusia, saya khawatir kalau kita tidak segera bertaubat ada bencana yang lebih besar menimpa negri ini. Rentetanya sudah jelas, ada banjir Aceh dan Sumatera Utara, belum kemarin gempa di Maluku Utara dan Sulawesi Utara,” ujar Mbah Syaiful. (BRG/Kul)










