Koranindopos.com – Banda Aceh. Membaca bukan sekadar aktivitas biasa, melainkan proses interpretasi dan analisis untuk menggali pesan yang ingin disampaikan oleh penulis. Peran membaca sangat penting dalam menciptakan generasi cerdas yang siap menghadapi tantangan masa depan.
“Membaca adalah salah satu cara paling efektif dalam menumbuhkan literasi,” kata Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Aceh, Edi Yandra, dalam acara “Bincang-Bincang Bersama Duta Baca Indonesia” yang digelar pada Kamis, (3/10/2024).
Namun, meski jumlah generasi muda Indonesia sangat melimpah, kebiasaan membaca di kalangan mereka masih jauh dari harapan. Anak-anak muda yang hidup di tengah era digital cenderung lebih tertarik pada permainan gawai, bahkan tidak sedikit yang terjerumus dalam judi online.
“Padahal, dengan kemajuan teknologi, akses terhadap bahan bacaan semakin mudah. Ada banyak aplikasi baca digital yang bisa dimanfaatkan,” ujar Ketua Pengurus Daerah Ikatan Pustakawan Indonesia (PD IPI) Aceh, Nazaruddin Musa.

Meskipun era digital menawarkan banyak kemudahan, kebiasaan membaca buku fisik tetap memiliki tempat istimewa. Nazaruddin menjelaskan, buku cetak menciptakan hubungan yang lebih personal dengan pembaca. Sensasi saat menyentuh halaman-halaman buku, hingga aroma khas buku baru, memberikan pengalaman membaca yang berbeda.
“Selalu ada sensasi unik yang tidak bisa digantikan oleh buku digital,” tambahnya.
Di sisi lain, Ratu Baca Aceh, Fania Shella Farahma, menyoroti fenomena meningkatnya remaja Aceh yang terpapar permainan dan judi online. Menurutnya, hal ini sering terlihat di warung kopi tempat anak muda berkumpul.
Sebagai Duta Baca Aceh, Fania berkomitmen untuk mengubah kebiasaan negatif tersebut dengan bekerja sama dengan perpustakaan. Menurutnya, teknologi harus dimanfaatkan secara positif untuk meningkatkan minat baca di kalangan anak muda.
“Salah satu caranya adalah dengan mengenalkan perpustakaan digital kepada Gen Z dan remaja di Aceh,” tutup Fania.










