Koranindopos.com, Jakarta – Aktris muda Lutesha Shadewa menunjukkan sisi berbeda dalam karya terbarunya, Rest Area. Jika biasanya ia dikenal lewat peran-peran yang lebih natural dan tidak banyak bermain di ranah horor, kali ini ia menantang dirinya dengan cara yang tidak biasa: menjadikan pengalaman prosesi kematian sebagai sarana eksplorasi akting.
Film yang diproduksi Mahakarya Pictures ini bukan sekadar menampilkan teror hantu, melainkan juga menguji batas psikologis para pemainnya. Lutesha bahkan harus menjalani adegan ekstrem—dikafani, ditandu, hingga dimasukkan ke liang kubur—sebuah pengalaman yang ia gunakan untuk memahami rasa takut dari sudut pandang berbeda.
“Ini, jujur ini sungguh pertanyaan yang bagus. Soalnya bisa dibilang aku itu bukan tipe orang yang mudah takut, kalau misalnya melihat penampakan hantu ataupun creature yang lainnya, gitu. Gimana aku menimbulkan rasa takut itu? Ini kan salah satunya ada di trailer juga ada aku dikafanin, aku dioper-oper, lalu aku masuk liang kubur,” kata Lutesha ketika ditemui di kawasan Epicentrum, Jakarta Selatan, Selasa (23/9).

Alih-alih membayangkan sosok hantu, ia justru membangun rasa takut dari sesuatu yang nyata: kematian itu sendiri. “Itu salah satu menjadi metode aku yang aku kembangkan. Ya bisa dibayangin kayak, ‘Oh, jadi ini ya kalau misalnya aku entar mati someday, aku dikafanin, aku dimandiin, terus aku ditandu ke liang kubur,’ gitu. Jadi ini bisa dibilang aku mencoba untuk menimbulkan perasaan, ‘Wah, begini yang aku rasain kalau misalnya aku entar meninggal suatu saat,’ gitu,” jelasnya.
Metode tersebut membuat pengalamannya terasa lebih reflektif daripada sekadar akting biasa. Lutesha menyebut, justru dari pengalaman inilah ia menemukan cara untuk menampilkan ketakutan yang autentik di layar. “Dan ini suatu perasaan yang memang menyeramkan gitu. Kan kita meninggal sekali gitu seumur hidup, itu akhir hayat kita gitu. Dari situ sih aku berusaha untuk memunculkan perasaan itu, gitu,” tambahnya.
Selain simulasi kematian, tantangan lain datang dari adegan teknis di mana ia harus ditarik ke dalam toilet. Bagi Lutesha, adegan ini bukan hanya soal fisik, tetapi juga menguji imajinasinya dalam menempatkan diri pada situasi yang tidak mungkin dialami dalam kehidupan nyata. “Kalau misalnya masuk ke toilet, jujur itu takut sih. Soalnya secara teknis emang juga lumayan ribet. Kita bikin, toiletnya diakalin lah gitu. Terus aku harus masuk semacam barrel yang besar lah, gitu. Dan ya itu ketakutan yang aku coba untuk bangun adalah kayak, ‘Lu bayangin lu masuk ke dalam toilet terus ditarik sama orang.’ Itu kejadian yang enggak akan pernah kejadian sehari-hari, gitu,” ujarnya.
Dengan pendekatan unik itu, Rest Area menghadirkan pengalaman menonton yang lebih dalam dari sekadar horor gaib. Kisah lima remaja kaya yang terjebak di rest area terpencil memang menampilkan teror Hantu Kresek—makhluk dengan kepala terbungkus plastik—tetapi yang membedakan film ini adalah cara rahasia dan konflik batin para tokoh perlahan terbuka seiring teror berlangsung.
Dibintangi Lutesha bersama Ajil Ditto, Chicco Kurniawan, Julian Jacob, Lania Fira, Haydar Salishz, dan Afrian Arisandy, film ini menempatkan karakter-karakternya dalam pusaran ketakutan yang bukan hanya bersifat fisik, melainkan juga psikologis. Perpecahan, saling curiga, hingga rasa putus asa mewarnai perjalanan mereka ketika jalan keluar selalu tertutup misteri. (Brg/Kul)










