Rabu, 7 Oktober 2026
  • Masuk
Indopos
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
Indopos
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
Home Opini

Manfaat Penyatuan TKA dan AN

Editor : Anggoro oleh Editor : Anggoro
31 Maret 2026
in Opini
A A
0
Manfaat Penyatuan TKA dan AN

Moch. Abduh, Ph.D Staf Ahli Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Teknologi Pendidikan

Share on FacebookShare on Twitter

koranindopos.com – Setelah menyelesaikan hajatan besar nasional bernama Tes Kompetensi Akademik (TKA) jenjang SMA/SMK sederajat pada November 2025 lalu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menetapkan penyelenggaraan TKA jenjang SMP/MTs sederajat pada tanggal 6 –16 April 2026, sementara jenjang SD/MI sederajat dijadwalkan pada tanggal 20 – 30 April 2026. Kemendikdasmen pun telah menetapkan Asesmen Nasional (AN) diselenggarakan bersamaan dengan TKA sesuai jenjang masing-masing.

Penyatuan TKA dan AN tidak cukup hanya berorientasi pada waktu penyelenggaran yang sama, jauh lebih penting dari itu, bagaimana mengolah hasil keduanya? Upaya meningkatkan mutu pendidikan  pun tidak cukup hanya mengukur hasil belajar peserta didik, tetapi juga harus memahami konteks yang membentuk hasil tersebut. Dalam kerangka itu, penyelarasan antara TKA dan AN menjadi langkah strategis. Selama ini keduanya dipersepsikan berjalan dengan fungsi berbeda. TKA menilai capaian akademik murid, sedangkan AN memetakan mutu satuan pendidikan. Ketika hasilnya dibaca secara terpisah, informasi yang dihasilkan menjadi kurang utuh dan berisiko melahirkan kebijakan yang tidak sepenuhnya tepat sasaran.

TKA memberikan gambaran tentang penguasaan materi dan kompetensi akademik peserta didik pada bidang tertentu. Sebaliknya, AN yang memuat Survei Karakter dan Survei Lingkungan Belajar, menghadirkan potret kualitas proses pembelajaran dan ekosistem sekolah. Apabila capaian TKA dipahami tanpa mempertimbangkan konteks hasil AN, maka capaian akademik hanya dimaknai secara simplistik. Sebaliknya, jika temuan AN tidak dikaitkan dengan capaian konkret peserta didik, maka analisis mutu berisiko kehilangan pijakan pada realitas performa akademik.

Karenanya, membaca hasil TKA dan AN secara berdampingan pada tahun yang sama memungkinkan analisis yang lebih komprehensif. Capaian akademik tidak lagi dilihat sebagai produk akhir semata, tetapi sebagai hasil interaksi antara kemampuan individu, praktik pedagogik, serta kondisi lingkungan belajar. Dengan pendekatan ini, kesenjangan antar sekolah dapat ditelaah secara lebih adil. Apakah bersumber dari strategi pembelajaran, dukungan sumber daya, atau faktor lain dalam tata kelola pendidikan?

Artikel Terkait

Membawa Pulang Standar Dunia ke Sekolah Menengah Kejuruan

Zakat Sebagai Pengurang Pajak?

TEFA Perlu Kafah, Jangan Mualaf terhadap Deep Learning

Integrasi tersebut juga memperkuat orientasi TKA sebagai instrumen perbaikan pembelajaran. Ketika analisis hasil TKA diperkaya dengan informasi hasil AKM dan survei dalam AN, sekolah memiliki dasar yang lebih kuat untuk merancang intervensi. Misalnya, capaian numerasi yang belum optimal dapat dikaitkan dengan pola pembelajaran yang kurang menekankan penalaran atau pemecahan masalah. Dengan demikian, rekomendasi tindak lanjut tidak lagi bersifat umum, melainkan spesifik dan berbasis bukti.

Dalam konteks pengambilan kebijakan, kombinasi data TKA dan AN menghadirkan fondasi yang lebih proporsional. TKA menyajikan bukti performa akademik aktual, sementara AN menjelaskan kualitas sistem yang menopangnya. Sinergi keduanya membantu pembuat kebijakan membedakan persoalan capaian yang bersifat pedagogis dari yang berkaitan dengan dukungan struktural atau manajerial. Intervensi pun dapat dirancang secara lebih presisi dan berkeadilan.

Dari sisi tata kelola asesmen pendidikan nasional, integrasi ini membuka peluang efisiensi. Sistem pelaporan dan analisis yang terpadu dapat mengurangi tumpang tindih informasi sekaligus memperkuat transparansi. Sekolah tidak lagi dihadapkan pada berbagai hasil asesmen yang berdiri sendiri, melainkan memperoleh gambaran mutu yang menyeluruh dan mudah ditindaklanjuti.

Landasan Konseptual Integrasi

Penyatuan pembacaan hasil TKA dan AN perlu didasarkan pada keselarasan tujuan asesmen dengan tujuan pembelajaran. OECD dalam Synergies for Better Learning (2013) menekankan bahwa sistem evaluasi hanya akan efektif jika selaras dengan sasaran pembelajaran yang hendak dicapai. Tanpa keterpaduan tersebut, hasil asesmen sulit dijadikan dasar perbaikan yang sahih.

National Research Council melalui Knowing What Students Know (2001) pun menegaskan bahwa asesmen harus terintegrasi dengan kurikulum dan praktik pembelajaran. Artinya, integrasi keduanya tidak dimaknai sebagai penggabungan instrumen, melainkan penyelarasan kerangka interpretasi agar berbagai hasil asesmen dapat ditafsirkan secara koheren.

Dalam perspektif ini, TKA tetap berfungsi mengukur capaian kompetensi akademik peserta didik, sementara AN mempertahankan perannya sebagai instrumen pemetaan mutu satuan pendidikan. Keduanya tidak dilebur, tetapi diposisikan dalam satu ekosistem penjaminan mutu yang saling melengkapi. TKA membantu menjawab dimensi “apa yang dicapai”, sedangkan AN menerangkan dimensi “kondisi apa yang mempengaruhi capaian tersebut”.

Pendekatan integratif ini menuntut kapasitas analitik yang memadai agar data tidak sekadar dikompilasi, tetapi benar-benar digunakan untuk refleksi dan perbaikan. Karenanya, integrasi harus dilakukan pada level analisis dan tindak lanjut kebijakan, bukan sekadar integrasi teknis basis data.

Prasyarat Implementasi

Agar integrasi berjalan efektif, terdapat sejumlah prasyarat penting. Pertama, penegasan paradigma bahwa asesmen bukan hanya alat pelaporan hasil, melainkan instrumen peningkatan mutu. Karenanya, TKA tidak berhenti pada fungsi seleksi, tetapi menjadi sumber informasi untuk memperbaiki strategi pembelajaran.

Kedua, penguatan kapasitas pemanfaatan data di tingkat satuan pendidikan dan pemerintah daerah. Data TKA dan AN harus dipahami sebagai satu kesatuan informasi yang saling menerangkan. Tanpa literasi asesmen yang memadai, integrasi berisiko hanya menghasilkan tumpukan angka tanpa makna. Ketiga, penyelarasan tata kelola pelaksanaan dan pemanfaatan hasil. Sinkronisasi waktu, mekanisme pelaporan, serta sistem analitik akan meningkatkan konsistensi sekaligus mengurangi beban administrasi yang berulang.

Penyandingan keduanya bukan sekadar inovasi teknis, melainkan langkah konseptual untuk membangun sistem evaluasi pendidikan lebih utuh. Integrasi ini memungkinkan asesmen berfungsi ganda: mengukur capaian akademik sekaligus menelaah kualitas proses dan lingkungan belajar yang membentuknya. Dengan fondasi tersebut, evaluasi pendidikan Indonesia dapat bergerak menuju model yang lebih kontekstual, adil, dan berorientasi perbaikan berkelanjutan. Sinergi keduanya menjadi penting sebagai ikhtiar menghadirkan Pendidikan Bermutu bagi Semua.

Penulis: Moch. Abduh, Ph.D (Staf Ahli Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Teknologi Pendidikan)

Topik: Asesmen NasionalKemendikdasmenTes Kompetensi AkademikTKA

TerkaitBerita

Membawa Pulang Standar Dunia ke Sekolah Menengah Kejuruan
Opini

Membawa Pulang Standar Dunia ke Sekolah Menengah Kejuruan

oleh Editor : Anggoro
28 September 2026
ZAKAT DAN PAJAK: Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendorong pemerintah segera mengevaluasi skema integrasi zakat dan pajak yang berlaku. Mereka menilai zakat yang telah dibayarkan masyarakat melalui lembaga resmi seharusnya dapat diperhitungkan secara langsung untuk mengurangi kewajiban pajak. (Foto Ilustrasi: iStockphoto)
Opini

Zakat Sebagai Pengurang Pajak?

oleh Editor : Memoarto
22 September 2026
“Echo Chamber”, Pengganggu Pembelajaran Mendalam?
Opini

TEFA Perlu Kafah, Jangan Mualaf terhadap Deep Learning

oleh Editor : Anggoro
23 Agustus 2026
Transformasi Jaminan Sosial menuju Pemberdayaan dan Kemandirian
Opini

Transformasi Jaminan Sosial menuju Pemberdayaan dan Kemandirian

oleh Editor : Anggoro
15 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Direkomendasikan

Sopir Taksi Green SM Ditusuk Wanita di Pademangan, Pelaku Diamankan Polisi

Sopir Taksi Green SM Ditusuk Wanita di Pademangan, Pelaku Diamankan Polisi

7 Oktober 2026
KPK Dalami Dugaan Pemberian Uang dan Barang ke Eks Sekjen MPR Ma’ruf Cahyono

KPK Dalami Dugaan Pemberian Uang dan Barang ke Eks Sekjen MPR Ma’ruf Cahyono

7 Oktober 2026
Indonesia-Norwegia Luncurkan Dana Masyarakat FOLU Net Sink 2030, Siapkan Rp20 Miliar

Indonesia-Norwegia Luncurkan Dana Masyarakat FOLU Net Sink 2030, Siapkan Rp20 Miliar

7 Oktober 2026
Harga Galaxy S26 Naik hingga Rp3,2 Juta, Imbas Kelangkaan Memori Global

Harga Galaxy S26 Naik hingga Rp3,2 Juta, Imbas Kelangkaan Memori Global

6 Oktober 2026

Terpopuler

  • Perdana, Kemenag-LPDP Siapkan 10.000 Kuota Beasiswa Pendidikan Profesi Guru

    Perdana, Kemenag-LPDP Siapkan 10.000 Kuota Beasiswa Pendidikan Profesi Guru

    4912 shares
    Share 1965 Tweet 1228
  • Laga Awal Musim Membuka Peluang AC Milan Berkembang

    343 shares
    Share 137 Tweet 86
  • Mayoritas Menteri Disentil Presiden, Menag Ingatkan Bawahannya Membeli Produk Dalam Negeri

    1010 shares
    Share 404 Tweet 253
  • Posting Kalimat Galau di Instagram, Ada Apa Dengan Yogie Nandes?

    313 shares
    Share 125 Tweet 78
  • Pemilahan Sampah Warga Rorotan Tembus 90 Persen, Biodigester Olah 1,2 Ton Sampah per Hari

    312 shares
    Share 125 Tweet 78
  • Tentang Kami
  • Redaksi Indopos
  • Pedoman Media Siber
  • Sitemap
Kontak Kami : 0899 064 8218

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya