Koranindopos.com, JAKARTA – Ada andil Arab Saudi dalam serangan militer gabungan AS-Israel ke Iran. Kabar tersebut disiarkan The Washington Post. Mereka menyebutkan bahwa Saudi melakukan lobi secara diam-diam terhadap Trump selama beberapa bulan terakhir.
Laporan media terkemuka AS tersebut menyebut otoritas Saudi melobi Presiden AS Donald Trump agar melancarkan serangan ke Iran. Media itu mengutip keterangan dari empat narasumber mereka yang diklaim memiliki informasi valid terkait hal tersebut.
Pihak Kedutaan Besar Saudi di Washington buru-buru memberikan sanggahan pada Senin (2/3/2026). Sebagaimana dilansir dari Al Arabiya, juru bicara Kedubes Saudi Fahad Nazer mengatakan negaranya mendukung upaya diplomasi. “Kerajaan Arab Saudi telah konsisten dalam mendukung upaya diplomatik untuk mencapai kesepakatan yang kredibel dengan Iran. Tidak pernah dalam seluruh komunikasi kami dengan pemerintahan Trump, kami melobi Presiden untuk mengadopsi kebijakan yang berbeda,” kata Nazer dalam pernyataan via media sosial X.
Saudi termasuk di antara negara-negara Teluk yang berupaya mencegah konfrontasi militer di kawasan Timur Tengah, dan telah secara terbuka menyatakan bahwa Riyadh tidak akan menjadi bagian dari potensi perang apa pun.
Putra Mahkota Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), yang juga penguasa de-facto Kerajaan Saudi, mengatakan kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam percakapan telepon pada 26 Januari lalu bahwa Saudi tidak akan mengizinkan wilayah udaranya atau wilayahnya digunakan untuk serangan militer apa pun terhadap Iran.
Namun, menyusul serangan besar-besaran AS dan Israel pada Sabtu (28/2) waktu setempat, Iran mulai melancarkan serangan terhadap negara-negara tetangganya yang menampung pasukan AS. AS bersama Saudi, Bahrain, Yordania, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA) menandatangani pernyataan bersama pada Minggu (1/3) malam yang isinya mengecam Iran karena menargetkan negara-negara mereka dan warga sipil di kawasan tersebut.
Serangan AS dan Israel terhadap Iran itu menewaskan jajaran pemimpin senior dan pejabat tinggi Teheran, termasuk pemimpin tertinggi negara tersebut, Ayatollah Ali Khamenei, yang berkuasa selama 36 tahun terakhir. (dtc/mmr)










