Koranindopos.com – JAKARTA — Peristiwa tragis meninggalnya seorang pelari berusia 24 tahun saat mengikuti ajang maraton menarik perhatian publik dan komunitas olahraga. Dokter membeberkan bahwa dugaan kuat penyebab kematian mendadak tersebut berkaitan dengan kondisi medis berbahaya yang dikenal sebagai rhabdomyolysis (rabdomiolisis).
Rhabdomyolysis merupakan sindrom medis serius yang terjadi akibat kerusakan atau penyusutan jaringan otot rangka (skeletal muscle) secara akut. Kerusakan tersebut menyebabkan komponen seluler dalam otot pecah dan melepaskan protein myoglobin ke dalam aliran darah, yang berisiko tinggi merusak organ ginjal.
Spesialis kedokteran olahraga dan dokter spesialis penyakit dalam menjelaskan bahwa rhabdomyolysis kerap mengintai pelaku aktivitas fisik ekstrem, terutama pada jarak jauh seperti maraton, ultramaraton, atau latihan kekuatan fisik melampaui batas batas ambang kemampuan tubuh (exertional rhabdomyolysis).
Kondisi ini dipicu oleh beberapa faktor kombinasi:
-
Overexertion (Aktivitas Berlebih): Pemaksaan fisik secara mendadak tanpa pembagian ritme (pacing) atau persiapan latihan yang memadai.
-
Dehidrasi dan Cuaca Panas: Kurangnya cairan tubuh saat berlari di bawah terik matahari mempercepat kerusakan jaringan sel otot.
-
Ketidakseimbangan Elektrolit: Gangguan kadar natrium dan kalium memicu kram berat hingga kegagalan fungsi seluler.
Ketika protein myoglobin terlepas dalam jumlah besar, ginjal harus bekerja ekstra keras untuk menyaring zat beracun tersebut. Dalam kondisi dehidrasi berat, penumpukan myoglobin dapat menyumbat saluran ginjal dan berujung pada gagal ginjal akut (acute kidney injury) hingga memicu komplikasi fatal pada sistem kardiovaskular.
Para praktisi kesehatan mengimbau masyarakat dan penggiat olahraga lari untuk mengenali tiga gejala klasik (triad symptoms) dari rhabdomyolysis:
-
Nyeri Otot Hebat: Otot terasa sangat sakit, kaku, memar, atau melemah secara tak wajar melampaui rasa pegal biasa.
-
Urin Berwarna Gelap: Perubahan warna air seni menjadi cokelat pekat seperti teh atau minuman cola akibat penumpukan myoglobin.
-
Kelelahan Ekstrem: Rasa lemas parah yang disertai mual, muntah, hingga penurunan kesadaran saat atau setelah berolahraga.
Para dokter menekankan pentingnya pencegahan dini saat menguji ketahanan fisik dalam ajang lari jarak jauh:
-
Persiapan Bertahap: Melakukan program latihan (training plan) secara konsisten beberapa bulan sebelum hari pertandingan, menghindari peningkatan jarak lari secara mendadak.
-
Hidrasi Teratur: Memenuhi kebutuhan cairan tubuh dan elektrolit secara berkala sebelum, saat, dan sesudah berlari.
-
Dengarkan Sinyal Tubuh: Jangan memaksakan diri untuk terus berlari jika tubuh sudah memberikan sinyal kelelahan hebat, kram parah, atau pusing. Segera berhenti dan hampiri pos medis terdekat.(dhil/dtk)









