Koranindopos.com, Jakarta – Meningkatnya angka harapan hidup masyarakat Indonesia membawa tantangan baru di sektor kesehatan, khususnya pada penanganan penyakit otak dan gangguan neurologis. Penyakit seperti stroke, Parkinson, demensia, hingga berbagai tipe movement disorder kini membutuhkan metode deteksi serta penanganan medis yang jauh lebih dini. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, prevalensi stroke di Indonesia mencapai 8,3 per 1.000 penduduk, sementara penderita demensia diproyeksikan melonjak hingga 4 juta orang pada tahun 2050.
Isu krusial ini dibahas secara mendalam dalam ajang The 1st International King’s–EMC Neuroscience Masterclass & Symposium 2026. Forum ilmiah internasional tersebut mempertemukan jajaran dokter dan pakar neurologi ternama dari Indonesia serta mancanegara, termasuk para ahli dari King’s College London.
Simposium internasional ini merupakan bentuk nyata dari kolaborasi akademik antara EMC Healthcare dan King’s College London yang sudah berjalan selama tiga tahun. Program kerja sama yang semula ditujukan untuk memperkuat kapabilitas internal tenaga medis EMC Healthcare kini mulai diperluas dengan merangkul para medis di luar jaringan EMC.
CEO EMC Healthcare Jusup Halimi mengungkapkan bahwa kerja sama strategis ini berawal dari kegelisahan terhadap tingginya kasus gangguan saraf yang terlambat terdeteksi di tengah masyarakat.
“Parkinson dan movement disorder lainnya sering kali terlambat didiagnosis. Ketika diagnosis dilakukan terlambat, treatment-nya menjadi lebih kompleks, lebih sulit, dan tentunya meningkatkan biaya,” ujar Jusup di Jakarta, Sabtu (22/8/2026).
Masalah tersebut mendorong EMC Healthcare untuk lebih memfokuskan perhatian pada penanganan Parkinson dan demensia di Indonesia melalui kemitraan internasional. Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, EMC Healthcare secara konsisten mengirimkan dokter spesialis neurologi, dokter rehabilitasi medik, serta tenaga rehabilitasi medis untuk mengikuti pelatihan khusus intensif bersama King’s College London, termasuk program ilmiah yang digelar di Dubai.
Langkah penguatan kapasitas medis ini dinilai sangat mendesak demi mematahkan stigma salah mengenai proses penuaan di tengah publik.
“Padahal banyak hal seperti ini sebenarnya bisa diatasi sehingga kualitas hidup para penderitanya dapat ditingkatkan,” katanya.
Menanggapi inisiatif tersebut, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin yang hadir membuka acara menyampaikan apresiasinya dan berharap jaringan internasional ini dapat dimanfaatkan secara luas oleh para akademisi serta praktisi dalam negeri.
“Saya berharap bisa menstimulasi keinginan dokter-dokter di Indonesia dan peneliti Indonesia terkait penyakit neuro seperti ini untuk bisa berhubungan dengan teman-teman di luar negeri,” ujar Budi.
Ia menegaskan pentingnya pertukaran pengetahuan agar standar pelayanan medis di dalam negeri dapat berkembang cepat.
“Terpenting nantinya bisa mengakselerasi pemahaman teman-teman Indonesia terhadap penyakit ini setara dengan yang di luar negeri,” urai dia.
Pemerintah sendiri terus memperkuat infrastruktur fisik nasional untuk menunjang fasilitas diagnostik modern di seluruh wilayah. Fasilitas penunjang seperti CT scan kini disiapkan di 514 kabupaten/kota, berdampingan dengan penyediaan layanan cath lab serta peningkatan kapasitas dokter spesialis untuk menangani kasus stroke serta gangguan neurovaskular yang kompleks.
Namun, Menkes mengingatkan bahwa tantangan besar berikutnya berada pada ranah penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan demensia yang masih memerlukan pembuktian ilmiah mendalam. Oleh sebab itu, akselerasi riset riset serta adopsi teknologi diagnostik mutakhir berbasis biomarker, genomik, kecerdasan buatan (AI), hingga bioteknologi menjadi kunci utama pelayanan kesehatan masa depan. (RIS/Hend)










