koranindopos.com – Jakarta, Tahun 2026 menjadi momentum istimewa dalam kehidupan keagamaan di Indonesia. Untuk pertama kalinya dalam 163 tahun, empat perayaan besar dari latar belakang agama dan budaya berbeda—Ramadan, Prapaskah, Nyepi, dan Imlek—berlangsung dalam waktu yang berdekatan.
Fenomena langka ini terakhir terjadi pada 1863 dan diperkirakan baru akan terulang kembali pada 2189.
Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menilai momen tersebut sebagai modal spiritual besar yang perlu dimanfaatkan untuk memperkuat persatuan bangsa.
“Momentum perayaan hari besar keagamaan yang berlangsung hampir bersamaan pada tahun ini merupakan peristiwa langka. Ini adalah modal spiritual besar yang harus dimanfaatkan untuk memperkuat persatuan bangsa,” ujar Nasaruddin dalam program Satu Meja The Forum di Kompas TV, Rabu (25/3/2026).
Saat ini, setelah perayaan Imlek, Nyepi, dan Idulfitri, umat Kristiani tengah menjalani masa Prapaskah. Menag mengajak umat Kristen dan Katolik untuk memaknai Prapaskah sebagai periode refleksi diri, pengendalian, serta penguatan kepedulian sosial menuju perayaan Paskah.
Ia menekankan bahwa nilai-nilai spiritual yang dilatih selama Ramadan maupun Prapaskah seharusnya tidak berhenti pada ritual, melainkan diwujudkan dalam tindakan nyata di kehidupan sehari-hari.
“Rasa syukur tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Nilai empati dan kepedulian sosial harus terus dijaga,” ujarnya.
Lebih lanjut, Menag menjelaskan bahwa setiap ajaran agama pada dasarnya mengajarkan nilai-nilai universal seperti kejujuran, empati, dan kepedulian terhadap sesama. Dalam konteks Indonesia, nilai tersebut menjadi kekuatan penting dalam menjaga harmoni di tengah keberagaman.
Menurutnya, karakter masyarakat Indonesia yang terbentuk dari budaya maritim yang terbuka dan egaliter menjadi modal sosial kuat dalam membangun toleransi dan kerukunan.
“Indonesia memiliki modal sosial yang kuat. Kita terbiasa hidup dalam perbedaan, dan itu menjadi kekuatan dalam membangun toleransi,” jelasnya.
Menag juga menekankan pentingnya mengintegrasikan nilai keagamaan dengan nilai kebangsaan melalui Pancasila sebagai titik temu seluruh elemen bangsa.
“Kita memiliki modal sosial, ekonomi, dan spiritual. Nilai agama dan kebangsaan dapat berjalan selaras melalui Pancasila,” tegasnya.
Ia berharap momentum beriringannya perayaan keagamaan ini dapat menjadi ruang bersama untuk memperkuat solidaritas lintas iman. Masyarakat pun diajak untuk terus mengamalkan nilai kejujuran, keadilan, toleransi, dan kebersamaan dalam kehidupan berbangsa.
“Momentum ini harus menjadi pengingat bahwa nilai-nilai kebaikan tidak berhenti pada satu perayaan,” pungkasnya. (hai)










