koranindopos.com – Bojonegoro, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus berkomitmen untuk meningkatkan inklusi keuangan, khususnya di wilayah perdesaan, melalui peluncuran program Ekosistem Keuangan Inklusif (EKI). Program ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat desa dan meningkatkan kesejahteraan mereka. Peluncuran program ini berlangsung di Desa Dolokgede, Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur, Sabtu (3/8/2024).
Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, dalam sambutannya menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional sangat bergantung pada kekuatan potensi domestik, terutama pertumbuhan ekonomi daerah. “Kunci pertumbuhan ekonomi nasional adalah kekuatan potensi domestik yaitu pertumbuhan ekonomi daerah. Tentu dengan menopang seluruh perekonomian di daerah adalah di tingkat desa,” jelas Mahendra.
Sejak tahun lalu, OJK telah menugaskan 35 Kantor OJK Daerah untuk menginventarisasi, memetakan, dan mendukung pertumbuhan sektor dan industri unggulan di setiap provinsi, hingga tingkat kabupaten dan kota. Program EKI diharapkan dapat melengkapi upaya ini dengan memperluas partisipasi dan manfaatnya secara menyeluruh di wilayah perdesaan, dengan dukungan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD).
Acara Kick Off EKI dihadiri oleh Menteri Sekretaris Negara RI Pratikno, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan OJK, Friderica Widyasari Dewi, serta pejabat dan perwakilan lembaga keuangan lainnya. Pratikno mengapresiasi inisiatif OJK, menyatakan bahwa program ini menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru untuk Desa Dolokgede, yang dulunya makmur dengan lahan tembakau.
“Desa kami ini cukup kaya. Di sini dulu ada beberapa lahan tembakau yang memproduksi cerutu ekspor, jadi cukup makmur di sini, tapi kemudian mengalami degradasi. Jadi, kami memang perlu membuat mesin-mesin baru untuk menumbuhkan potensi di sini,” ungkap Pratikno.
Program EKI mencakup berbagai inisiatif, termasuk Desaku Cakap Keuangan, yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat pedesaan tentang lembaga, produk, dan layanan keuangan. Friderica Widyasari Dewi menyampaikan bahwa hingga saat ini, program EKI telah menginisiasi 36 lokasi dengan dampak positif dalam peningkatan literasi dan inklusi keuangan.
Beberapa capaian dari program EKI meliputi:
- Pembukaan lebih dari 8.000 rekening tabungan.
- Penyaluran kredit kepada lebih dari 1.500 debitur.
- Penambahan titik akses keuangan melalui agen Laku Pandai dan sistem pembayaran QRIS.
- 500 kegiatan edukasi keuangan untuk masyarakat desa.
Pada tahun 2024, program EKI diimplementasikan di 44 wilayah desa, termasuk Desa Dolokgede, dengan melibatkan berbagai lembaga dan kementerian terkait. Desa Dolokgede memiliki potensi unggulan di bidang pertanian dan olahraga, yang dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata berbasis edukasi dan olahraga.
Rangkaian kegiatan program EKI di Desa Dolokgede akan berlangsung dari Juli 2024 hingga Desember 2024, melibatkan berbagai kelompok masyarakat termasuk UMKM, petani, peternak, perempuan, buruh, dan pelajar. Program ini terdiri dari tiga tahapan:
- Pra-Inkubasi: Identifikasi dan pemetaan potensi desa dengan dukungan Lembaga Riset RISE Indonesia.
- Inkubasi: Pendampingan dan edukasi keuangan oleh berbagai lembaga keuangan.
- Pasca-Inkubasi: Optimalisasi penggunaan produk keuangan untuk mendukung usaha dan kegiatan produktif, termasuk penambahan Agen Laku Pandai dan penyaluran kredit Kartu Pedagang Produktif (KPP).
Program EKI diharapkan dapat meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di Desa Dolokgede, serta mendorong kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan UMKM dan peningkatan akses keuangan. (hai)










