koranindopos.com, JAKARTA – Kebaya bukan sekadar busana tradisional, melainkan bagian dari cerita dan identitas perempuan Indonesia yang terus tumbuh mengikuti zaman. Melalui gerakan Kita Berkebaya, Indonesia Kaya konsisten mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memaknai kebaya sebagai ekspresi diri yang hidup, dinamis, dan relevan dengan gaya hidup masa kini.
Melanjutkan semangat tersebut, Indonesia Kaya menghadirkan Padel Berkebaya di Bounce, Jakarta. Sebuah ruang pertemuan yang hangat dan penuh energi, tempat kebaya bertemu dengan olahraga padel—menciptakan pengalaman baru yang menyatukan budaya, gerak, dan kebersamaan. Di sini, kebaya tidak hanya dikenakan, tetapi ikut bergerak dalam tawa, keringat, dan semangat yang dibagi bersama.
Melalui Padel Berkebaya, Indonesia Kaya ingin menghadirkan cara merayakan warisan budaya yang terasa lebih dekat dengan keseharian. Kebaya hadir bukan hanya di panggung seremoni, tetapi di ruang-ruang aktif dan ekspresif, menjadi bagian dari gaya hidup perempuan masa kini yang percaya diri dan autentik.
“Lewat Padel Berkebaya, kami ingin menunjukkan bahwa kebaya bisa hadir di ruang-ruang yang dekat dengan generasi muda. Tidak hanya dalam acara formal, tetapi juga dalam aktivitas yang menyenangkan dan penuh energi. Ketika kebaya semakin sering dikenakan, ekosistem di sekitarnya pun ikut bergerak—dari perajin, desainer, hingga pelaku UMKM dan ekonomi kreatif,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Indonesia Kaya.
Diselenggarakan sebagai ajang kebersamaan, Padel Berkebaya menjadi wujud advokasi budaya yang membumi. Kebaya dijalani sebagai bagian dari gaya hidup aktif, bukan sekadar simbol, tetapi sebagai pernyataan bahwa budaya dapat hidup seiring langkah dan gerak perempuan modern.
Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah figur publik yang dikenal dengan gaya hidup aktif dan kecintaannya pada kebaya, di antaranya Ririn Ekawati, Anastasia Siantar, Ola Harika, Noi Aswari, dan Kushandari Arfanidewi (Kelinci Tertidur), bersama para pecinta padel lainnya. Bagi peserta pemula, tersedia pula sesi coaching clinic agar semua dapat merasakan pengalaman bermain padel secara inklusif dan menyenangkan.
“Awalnya saya tidak membayangkan kebaya bisa dipakai bermain padel. Tapi hari ini saya merasakannya sendiri—kebaya bisa tampil sporty, nyaman, dan tetap cantik. Pengalaman ini membuat kebaya terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Buat saya, ini pesan indah untuk generasi muda bahwa kita bisa mencintai budaya dengan cara kita sendiri,” ungkap Ririn Ekawati.
Tak hanya olahraga, Padel Berkebaya juga menghadirkan pasar kebaya yang menampilkan berbagai kebaya dan perlengkapan pendukungnya. Suasana semakin hidup dengan alunan musik dari DJ Ninda dan DJ Neysa, menciptakan atmosfer yang cair dan penuh perayaan. Perpaduan kebaya, olahraga, dan musik dalam satu ruang menjadi simbol bahwa budaya dapat terus hidup tanpa kehilangan daya tariknya.
“Kami berharap Padel Berkebaya dapat menginspirasi lebih banyak perempuan untuk mengenakan kebaya dalam keseharian, bukan karena kewajiban, tetapi karena rasa memiliki. Ketika perempuan bergerak bersama kebaya, di situlah budaya benar-benar hidup,” tutup Renitasari. (rls/sh)










