
JAKARTA, koranindopos.com – Bagi Indonesia, komoditas kedelai terhitung tinggi. Tiap tahun konsumsi kedelai di tanah air dalam bentuk tempe sekitar 50%, tahu 40%, dan produk lain seperti tauco, kecap, susu kedelai, dan lain-lain 10%. Total kebutuhan kedelai di Indonesia sekitar 3 juta ton/tahun. Kebutuhan tersebut dipasaok dari produksi di dalam negeri sekitar 0,5 juta ton dan impor 2,5 juta ton.
Sekalipun produksi kedelai local belum mencukupi, namun secara kualitas kedelai local terhitung bagus. Khususnya untuk pembuatan tahu. Karakteristik kedelai local, memiliki rendemennya tinggi dan rasa tahunya lebih enak. Itu, setidaknya tahu Sumedang yang terkenal enak, lazimnya menggunakan kedelai lokal.
Hanya saja, memang ada kendala. Kedelai lokal kurang direkomendasikan untuk pembuatan tempe. Selain ukuran biji kecil, kulit arinya sulit terkelupas saat pencucian, dan peragiannya lebih lama. Untuk pembuatan tempe, perajin lebih suka memanfaatkan kedelai impor.
Dengan karakteristik seperti itu, Pemerintah pun melakukan segmentasi kedelai sesuai dengan kebutuhan industri pengolahan. Untuk memproduksi tahu, kecap, tauco, dan minyak kedelai, sebaiknya menggunakan kedelai lokal. Namun, untuk memproduksi tempe sebaiknya kedelai impor, yang kebanyakan kedelai transgenik. Sebab tempenya jauh lebih bagus.
Bersamaan dengan itu, Pemerintah terus melakukan upaya-upaya yang dilakukan baik melalui perluasan areal tanam maupun peningkatan produktivitas. Untuk mengatasi keterbatasan lahan, pengembangan kedelai diarahkan penanaman di lahan kering, integrasi dengan perkebunan, perhutanan dan budidaya tumpangsari.
“Untuk dongkrak produksi, Kami juga menyiapkan benih unggul varietas lokal dengan potensi produksi mulai 2 – 3,5 ton per hektare,” jelas Sekretaris Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Maman Suherman, sebagaimana dikutip dari Siaran Pers
Langkah lain untuk mengatasi kelangkaan kedelai, saat ini Kementan tengah mengkaji pengembangan kedelai nasional, baik melalui ekstensifikasi maupun intensifikasi. Untuk menumbuhkan minat petani menanam kedelai pemerintah memberikan bantuan sarana produksi berupa benih unggul. Bahkan pemerintah mewacanakan wajib tanam bagi para importir kedelai.
“Keterlibatan importir wajib tanam kedelai sangat positif dalam rangka ikut membina dan memberi semangat kepada petani untuk mengembangkan kedelai nasional baik dengan pola mandiri maupun pola kemitraan,” ungkap Maman.
Dalam catatan Kementan, angka produksi kedelai dari waktu ke waktu menunjukkan peningkatan. Tahun 2018 misalnya sebesar 983 ribu ton atau melonjak naik sebesar 82,39 % dibanding tahun 2017. Angka tersebut merupakan capaian produksi tertinggi selama 2014-2018, dan lebih tinggi dibanding rata-rata produksi 2014-2018 yang berada di kisaran 859.830 ton. (dni)









