Koranindopos.com – Jakarta. Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam meningkatkan budaya literasi, terutama jika dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia. Dalam upaya ini, perempuan, khususnya dalam perannya sebagai ibu, memegang peran penting untuk membangun fondasi literasi di keluarga sebagai unit terkecil masyarakat.
Isu ini menjadi sorotan dalam diskusi bertema “Meningkatkan Peran Perempuan dalam Membangun Budaya Literasi di Lingkungan Keluarga dan Komunitas” yang digelar oleh Perpustakaan Nasional pada Senin (25/11/2024). Acara ini menegaskan pentingnya peran perempuan dalam menciptakan generasi yang gemar membaca dan mencintai ilmu pengetahuan.
Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (KOWANI), Giwo Rubianto Wiyogo, menekankan kolaborasi yang telah dilakukan oleh organisasi perempuan dalam membudayakan kebiasaan membaca. “Saat ini sebanyak 111 organisasi anggota KOWANI terus berkolaborasi dengan masyarakat untuk memberikan advokasi pembudayaan kegemaran membaca,” ujarnya.

Giwo menjelaskan bahwa keluarga adalah pilar utama pembentukan budaya literasi karena ibu memiliki peran strategis dalam mendidik anak-anak untuk mencintai buku dan ilmu pengetahuan sejak dini. “Mereka adalah ujung tombak dalam pembudayaan kegemaran membaca di lingkungan keluarga,” tambahnya.
Hal senada diungkapkan oleh Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian. Ia menyatakan bahwa peran perempuan dalam literasi sangat krusial untuk mendukung pertumbuhan generasi yang berkualitas. “Semakin banyak perempuan yang bergerak membangun budaya literasi, semakin banyak anak-anak Indonesia yang akan tumbuh dengan kegemaran membaca,” tuturnya. Hetifah juga mengingatkan bahwa Undang-Undang Perpustakaan telah mengatur pentingnya pembudayaan membaca melalui keluarga, pendidikan, dan masyarakat.
Sebagai langkah konkret, Perpustakaan Nasional memberikan dukungan nyata dengan menyalurkan bahan bacaan bermutu ke berbagai perpustakaan desa/kelurahan dan Taman Baca Masyarakat (TBM) di seluruh Indonesia. Tahun ini, sebanyak 10 ribu perpustakaan telah menerima bantuan koleksi bacaan, masing-masing terdiri dari 1.000 eksemplar buku. Deputi Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, Adin Bondar, berharap bantuan ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh keluarga, sekolah, dan komunitas di sekitar perpustakaan.
Literasi, menurut para ahli, merupakan investasi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan keluarga. Guru Besar Ilmu Politik Universitas Indonesia, Valina Singka Subekti, menyampaikan bahwa keluarga yang memiliki budaya literasi cenderung lebih harmonis dan mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan. “Mari mulai langkah kecil hari ini untuk menciptakan keluarga yang cinta literasi,” ajaknya.
Upaya kolektif dari berbagai pihak ini menunjukkan bahwa perempuan, sebagai ibu dan pendidik utama dalam keluarga, adalah kunci keberhasilan dalam meningkatkan literasi masyarakat Indonesia.









