Koranindopos.com – JAKARTA — Kepolisian masih menganalisis sejumlah rekaman kamera pengawas (CCTV) dan video amatir untuk mengungkap kasus pengeroyokan terhadap remaja bernama Faturrahman di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto mengatakan, rekaman tersebut menjadi salah satu bahan yang tengah diteliti penyidik untuk mengidentifikasi pihak-pihak yang diduga terlibat dalam penganiayaan.
“Ada beberapa kamera CCTV dan video-video amatir yang masih harus kami lakukan analisa,” kata Budi kepada wartawan, Rabu (16/9/2026).
Selain menganalisis rekaman, penyidik juga masih mengumpulkan keterangan dari korban dan sejumlah saksi. Hasil pemeriksaan medis atau visum terhadap Fatur turut menjadi bagian dari proses penyelidikan.
“Ini masih dilakukan pendalaman dari tim penyidik Ditreskrimum maupun Polres Metro Jakarta Pusat. Karena memang kita butuh dari keterangan saksi, korban, termasuk hasil visum,” jelas Budi.
Fatur diduga menjadi korban pengeroyokan oleh sejumlah orang tak dikenal di kawasan Pejompongan pada Kamis (27/8/2026) malam, setelah aksi demonstrasi di sekitar Gedung DPR/MPR RI.
Fatur mengaku tidak terlibat dalam demonstrasi maupun kerusuhan yang terjadi malam itu. Namun, ia melihat sejumlah massa masuk ke gang tempat tinggalnya.
Menurut Fatur, sejumlah orang kemudian mendorong dan menariknya keluar dari gang.
“Setelah itu mendorong saya sampai jatuh, (mereka) masuk ke sini dan menarik saya. Narik saya,” ungkap Fatur saat ditemui Kompas.com, Jumat (28/8/2026).
Fatur mengatakan dirinya sempat menjelaskan kepada orang-orang tersebut bahwa ia merupakan warga setempat. Namun, penjelasan tersebut disebut tidak digubris.
Ia kemudian diseret keluar gang dan dipukul oleh sejumlah orang lainnya.
Setelah mengalami kekerasan di sekitar tempat tinggalnya, Fatur kemudian dibawa ke kawasan Gedung DPR/MPR RI.
Di lokasi tersebut, ia mengaku diinterogasi oleh petugas mengenai dugaan keterlibatannya dalam kerusuhan yang terjadi setelah demonstrasi.
Fatur mengaku kembali mengalami pemukulan ketika menjalani pemeriksaan. Menurut keterangannya, pemukulan dilakukan menggunakan tangan kosong serta benda tumpul tipis yang disebut menyerupai pisau atau penggaris.
“Ada pemaksaan. Ada (pemukulan) di bagian dada, terus punggung, kepala,” ujar Fatur.
Setelah itu, Fatur dibawa ke Mapolda Metro Jaya untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Fatur kemudian dipulangkan pada Jumat (28/8/2026) siang dengan didampingi gurunya.
Saat dipulangkan, wajah Fatur terlihat lebam dan ditutupi sejumlah perban.
Gurunya, Fahmi, mengatakan Fatur mengalami sejumlah luka pada beberapa bagian tubuh, termasuk mata, mulut, wajah, punggung, dan dada.
Fatur juga disebut mendapatkan 12 jahitan akibat luka yang dialaminya. Informasi mengenai luka tersebut menjadi bagian dari keterangan yang masih didalami penyidik bersama hasil visum.
Polda Metro Jaya bersama Polres Metro Jakarta Pusat masih melakukan pendalaman untuk mengungkap rangkaian kekerasan yang dialami Fatur.
Selain keterangan korban dan saksi, rekaman CCTV serta video yang beredar di masyarakat akan dianalisis untuk membantu penyidik menyusun kronologi dan mengidentifikasi pihak yang diduga terlibat.
Hasil visum juga akan menjadi salah satu bahan penyidik dalam memastikan jenis serta tingkat luka yang dialami korban.
Polisi hingga kini masih mengumpulkan bukti sebelum menentukan langkah hukum terhadap pihak yang diduga melakukan pengeroyokan terhadap Fatur.(dhil/kmps)










