koranindopos.com – Jakarta. Presiden Iran Masoud Pezeshkian membuat pernyataan mengejutkan terkait ketegangan militer yang sempat terjadi antara Iran dan Israel bulan lalu. Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan tokoh media Amerika Serikat, Tucker Carlson, Pezeshkian mengungkap bahwa Israel melakukan upaya pembunuhan terhadap dirinya saat konflik berkecamuk, namun gagal.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam wawancara yang dirilis pada Senin (7/7) malam waktu AS dan kemudian dikutip oleh AFP, Selasa (8/7/2025). Menurut Pezeshkian, serangan terhadap dirinya merupakan bagian dari rangkaian operasi militer Israel selama perang 12 hari yang sempat mengguncang kawasan Timur Tengah.
“Mereka (Israel) mencoba membunuh saya, tetapi mereka gagal,” ujar Pezeshkian tanpa merinci lebih lanjut soal metode dan waktu pasti percobaan pembunuhan tersebut.
Pernyataan mengejutkan ini muncul kurang dari sebulan setelah Israel meluncurkan serangan udara masif terhadap sejumlah target strategis di Iran. Serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya itu dilaporkan menewaskan beberapa tokoh penting militer dan ilmuwan nuklir Iran.
Serangan tersebut disebut sebagai respons Israel terhadap dugaan peningkatan aktivitas nuklir Iran dan dukungan Teheran terhadap kelompok militan anti-Israel di kawasan.
Walau perang secara terbuka telah mereda, hubungan kedua negara masih berada dalam kondisi sangat tegang. Pernyataan Pezeshkian tentang upaya pembunuhan ini diperkirakan dapat memanaskan kembali situasi, baik secara diplomatik maupun militer.
Belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Israel terkait tuduhan ini. Namun, sejumlah pengamat menilai bahwa klaim tersebut — jika benar — bisa dikategorikan sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional, termasuk pelanggaran terhadap kedaulatan negara dan prinsip non-intervensi.
Sementara itu, AS dan negara-negara Eropa terus menyerukan agar kedua pihak menahan diri dan mendorong penyelesaian diplomatik atas konflik yang telah menyebabkan instabilitas kawasan.
Masoud Pezeshkian adalah presiden Iran terpilih yang baru menjabat awal 2025. Ia dikenal sebagai tokoh moderat yang sebelumnya menjabat anggota parlemen dan menteri kesehatan. Namun, masa jabatannya langsung diwarnai ketegangan militer terbesar Iran dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam wawancaranya, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tidak menginginkan perang, namun siap membela diri dari segala bentuk agresi asing.(dhil)










