Koranindopos.com, JAKARTA – Raja Yordania Abdullah II menyebut Israel sebagai ancaman regional yang bertindak dengan tingkat impunitas yang menakutkan. Pernyataan itu disampaikan saat isu Palestina menjadi fokus utama pidatonya dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) ke-81 di New York, Amerika Serikat (AS) pada Selasa (22/9/2026).
Pada hari pembukaan acara tersebut, Abdullah mengatakan dunia saat ini menghadapi momen unik dalam sejarah karena perubahan berlangsung dengan skala dan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. “Setiap hari membawa krisis lain, tragedi lain, keadaan darurat lain yang menuntut perhatian kita. Setiap generasi percaya bahwa tantangan yang mereka hadapi tidak tertandingi; mungkin bagi kita itu benar,” kata Abdullah seperti dilaporkan Arab News.
Menurut Abdullah, perhatian telah menjadi aset penting di seluruh dunia karena menentukan konflik mana yang menerima diplomasi berkelanjutan dan mana yang memudar dari agenda. “Apakah gencatan senjata bertahan setelah kamera pergi dan apakah penderitaan kemanusiaan tetap tak tertahankan atau menjadi hal yang biasa,” ungkapnya
Abdullah kemudian menyoroti berbagai konflik berkepanjangan di Timur Tengah, termasuk di Lebanon, Yaman, Sudan, dan Iran. “Jika ada yang ragu bahwa krisis di wilayah kita hanya akan tetap di sana, lihat saja tagihan energi dan bahan makanan keluarga biasa dari Mumbai hingga Madrid hingga Minnesota,” katanya.
Namun, Abdullah mengatakan Gaza tetap menjadi salah satu persoalan utama yang harus mendapat perhatian dunia. “Selama beberapa dekade, saya telah berdiri di hadapan majelis ini dan memperingatkan bahaya membiarkan konflik Palestina-Israel tidak terselesaikan,” katanya.
Abdullah menilai komunitas internasional selama ini lebih memilih “mengelola” konflik Palestina-Israel daripada menyelesaikannya. Ia mempertanyakan nilai hukum internasional jika aturan tersebut dapat diabaikan selama puluhan tahun. “Jika hukum internasional dapat diabaikan selama beberapa dekade, lalu apa sebenarnya nilai hukum itu? Dan bagaimana kita dapat menegakkannya jika kita bahkan tidak mau mengecam pelanggarannya?” kata Abdullah. (cnni/mmr)









