Koranindopos.com – Jakarta — Seorang gadis berusia 16 tahun di Amerika Serikat datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) setelah mengalami muntah-muntah selama sehari. Pemeriksaan CT scan kemudian mengungkap adanya benda asing berukuran besar di dalam perutnya yang ternyata merupakan gumpalan rambut.
Kondisi tersebut dikenal sebagai trichobezoar, yakni massa rambut yang menumpuk dan menggumpal di dalam saluran pencernaan. Kondisi ini tergolong langka, tetapi dapat menyebabkan komplikasi serius dan berpotensi mengancam nyawa apabila tidak ditangani.
Dalam kasus yang sangat jarang, gumpalan rambut dapat memanjang dari lambung hingga masuk ke usus. Kondisi ekstrem tersebut dikenal sebagai Sindrom Rapunzel.
Kasus ini menjadi perhatian karena pasien tidak menunjukkan tanda-tanda yang biasanya dapat membantu mengarahkan dokter pada kebiasaan mencabut dan memakan rambut.
Pasien tidak mengalami kebotakan maupun kerontokan rambut yang terlihat. Kebotakan dapat menjadi salah satu petunjuk adanya trikotilomania, yaitu dorongan kompulsif untuk mencabut rambut sendiri.
Dokter juga tidak menemukan riwayat gangguan mental pada pasien.
“Pasien kami tidak memenuhi kriteria untuk gangguan suasana hati apa pun, serta mencapai tahapan perkembangan yang normal dan tetap sepenuhnya tanpa gejala hingga terjadi penyumbatan total pada saluran gastrointestinal,” tulis para dokter dalam laporan medis tersebut, dikutip dari ScienceAlert, Rabu (9/9/2026).
Gumpalan rambut yang ditemukan juga tidak dapat dikeluarkan melalui prosedur endoskopi. Dokter akhirnya memutuskan melakukan operasi untuk mengangkat massa tersebut.
Setelah menjalani operasi, pasien baru mengungkapkan kepada dokter bahwa dirinya telah mencabuti rambut sendiri dan memakannya selama sekitar dua tahun.
Namun, perilaku tersebut tidak dilakukan setiap hari. Pasien mengatakan kebiasaan itu hanya terjadi sekitar sekali dalam sepekan dan setiap kali dilakukan hanya mencabut sekitar tiga helai rambut.
Frekuensi yang relatif jarang tersebut diduga menjadi salah satu alasan kebiasaan tersebut tidak terdeteksi sebelumnya.
Meski demikian, rambut yang tertelan secara bertahap akhirnya membentuk gumpalan berukuran sangat besar. Massa rambut yang dikeluarkan dari perut pasien berukuran sekitar 21,2 x 15,8 x 7,7 sentimeter dengan berat mencapai sekitar 1,5 kilogram.
Dalam pemeriksaan lebih lanjut, pasien menyangkal adanya pemicu stres, penelantaran, trauma, maupun kekerasan yang baru-baru ini dialaminya.
Ia juga tidak menunjukkan tanda-tanda gangguan kejiwaan lainnya.
Namun, pasien memiliki riwayat serangan migrain yang disertai muntah siklik sejak usia dini. Kondisi tersebut bahkan membuatnya harus menjalani homeschooling.
Riwayat tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat keluhan muntah pada pasien tidak serta-merta mengarah pada dugaan adanya masalah akibat gumpalan rambut di saluran pencernaan.
Selain trikotilomania, kondisi ini berkaitan dengan trikofagia, yaitu kebiasaan memakan rambut.
Perilaku tersebut dapat sulit diketahui karena seseorang mungkin berusaha menyembunyikannya. Stigma sosial dan rasa malu yang berkaitan dengan trikotilomania maupun trikofagia dapat membuat pasien enggan menceritakan kebiasaannya kepada keluarga maupun tenaga kesehatan.
Dalam kasus ini, pasien bahkan baru mengungkapkan kebiasaannya setelah menjalani operasi.
Dokter menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa tidak adanya kerontokan rambut atau gangguan kejiwaan yang terlihat bukan berarti kemungkinan trichobezoar dapat langsung dikesampingkan.
“Mengingat trichobezoar berpotensi menyebabkan kondisi yang sangat berbahaya dan terkadang bahkan dapat berakibat fatal, penting untuk tidak mengabaikan kemungkinan diagnosis ini pada remaja perempuan yang mengalami mual, muntah, atau nyeri perut, meskipun tidak terdapat kerontokan rambut yang terlihat maupun gangguan kejiwaan yang menyertai,” ungkap dokter dalam laporannya.
Setelah gumpalan rambut berhasil dikeluarkan melalui operasi, pasien mendapatkan penanganan lanjutan.
Dokter memberikan sertraline, obat yang digunakan dalam penanganan sejumlah kondisi seperti depresi, kecemasan, dan gangguan obsesif-kompulsif (OCD).
Pasien juga dirujuk untuk menjalani terapi perilaku kognitif (CBT) sebelum diperbolehkan meninggalkan rumah sakit.
Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa trichobezoar dapat berkembang tanpa selalu disertai tanda-tanda yang mudah dikenali. Keluhan seperti mual, muntah, atau nyeri perut yang menetap, terutama pada remaja, perlu mendapat evaluasi medis untuk mencari penyebab yang mendasarinya.
Penanganan yang tepat menjadi penting karena gumpalan rambut yang semakin besar dapat menyebabkan penyumbatan saluran pencernaan dan komplikasi serius.(dhil/dtk)










