koranindopos.com, JAKARTA – Adopsi mobil listrik di Indonesia saat ini masih berada pada fase awal dan didominasi oleh early adopter serta early majority. Kelompok konsumen ini dikenal berani mencoba inovasi baru dan siap menanggung risiko, namun jumlahnya belum mencerminkan penerimaan luas di masyarakat. Temuan tersebut disampaikan dalam riset terbaru ID COMM bertajuk “Menuju Era Mobil Listrik: Sejauh Mana Indonesia Siap”, yang diluncurkan di Jakarta, Kamis (11/12).

Riset dilakukan melalui wawancara mendalam dengan konsumen, pelaku industri, dan media, serta analisis terhadap kebijakan dan regulasi kendaraan listrik di Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa percepatan adopsi mobil listrik membutuhkan sinergi kuat antara kebijakan pemerintah, arah bisnis produsen, dan edukasi publik yang lebih komprehensif.
Adopsi Masih Didominasi Motif Ekonomi dan Kelompok Menengah Atas
Menurut ID COMM, alasan utama konsumen membeli mobil listrik adalah efisiensi biaya operasional serta insentif fiskal berupa pajak tahunan yang jauh lebih rendah, sekitar Rp150.000. Selain itu, sebagian pemilik merasa bangga menjadi pelopor, menjadikan aspek psikologis sebagai dorongan tambahan.
Menariknya, seluruh responden dalam riset ini telah memiliki mobil konvensional sebelumnya. Dengan kisaran harga mobil listrik Rp189 juta hingga Rp1,58 miliar, segmen pengguna didominasi kelas menengah atas urban.
Tiga rentang usia mendominasi pasar mobil listrik:
-
25–35 tahun: profesional muda dengan mobilitas tinggi
-
36–50 tahun: konsumen keluarga yang mapan
-
50 tahun ke atas: pengguna yang mencari kenyamanan dan biaya operasional rendah menjelang masa pensiun
Media sosial dan influencer otomotif menjadi sumber informasi utama bagi calon pengguna sebelum memutuskan pembelian.
Kebijakan Pemerintah: Fondasi Ekosistem yang Sedang Bertumbuh
Sejak diterbitkannya Perpres No. 55/2019, pemerintah berupaya mempercepat ekosistem mobil listrik dari hulu ke hilir. Mulai dari pengaturan fiskal, industri, infrastruktur, hingga daur ulang baterai, kebijakan yang ada dirancang untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dan menekan emisi gas rumah kaca.
Meski demikian, sinergi kebijakan masih perlu diperkuat agar mampu mengakomodasi kebutuhan industri dan mendorong minat publik secara masif.
ID COMM mencatat pertumbuhan unit Battery Electric Vehicle (BEV) cukup signifikan:
-
2023: 15.318 unit
-
2024: 43.188 unit
-
2025 (Jan–Ags): 51.191 unit
Namun, peningkatan ini belum mencerminkan perluasan pasar, melainkan pergeseran dari pengguna mobil berbahan bakar fosil.
Pelaku Industri: Dinamis, namun Masih ‘Wait and See’
Riset ID COMM menemukan bahwa pelaku industri otomotif bersikap sangat berhati-hati. Ketidakpastian kebijakan, perang harga, dan dinamika pasar membuat sebagian produsen memilih sikap wait and see sebelum melakukan investasi jangka panjang.
Dua tahun pertama pertumbuhan mobil listrik di Indonesia lebih dianggap sebagai fase bertahan hidup dan pembelajaran. Produsen harus menghadapi:
-
perang harga yang dipimpin pabrikan Tiongkok,
-
tekanan margin,
-
siklus pembaruan model yang semakin cepat, dan
-
pasar domestik yang belum matang.
Penjualan mobil listrik yang meningkat justru terjadi ketika total penjualan mobil nasional menurun, menandakan fenomena “kanibalisme pasar”.
Peran Media: Penjaga Kredibilitas dan Edukator Publik
Dalam ekosistem mobil listrik yang dipenuhi influencer dan key opinion leader, media arus utama tetap memegang peran penting sebagai penyedia informasi yang berimbang dan kontekstual.
Media tidak hanya menyampaikan perkembangan teknologi, tetapi juga memberikan sudut pandang kritis untuk membantu masyarakat mengambil keputusan. Hal ini krusial untuk menghilangkan kesenjangan pemahaman antara kebijakan pemerintah, industri, dan publik.
Mendorong Indonesia Masuk Fase Early Majority
Menurut ID COMM, percepatan adopsi mobil listrik memerlukan:
-
konsistensi kebijakan pemerintah,
-
arah bisnis yang lebih jelas dari produsen,
-
pengalaman konsumen yang lebih baik, termasuk kualitas SPKLU dan layanan purna jual,
-
serta narasi edukatif yang menekankan manfaat praktis, bukan sekadar fitur.
Dengan sinergi antara pemangku kepentingan, mobil listrik berpotensi bergerak dari produk eksklusif menuju penggunaan massal yang berkelanjutan. (sh)















