Dalam dunia medis, kondisi tersebut dikenal sebagai exercise-induced gastrointestinal distress atau lebih populer disebut runner’s trot. Meski sering dianggap sepele atau memalukan untuk dibicarakan, kondisi ini dialami oleh sekitar 30 hingga 50 persen pelari jarak jauh.
Menurut dokter spesialis kedokteran olahraga, dr. Antonius Andi Kurniawan, SpKO, salah satu penyebab utama munculnya rasa ingin buang air besar saat lomba adalah pola makan yang kurang tepat sebelum perlombaan.
Aktivitas fisik dengan intensitas tinggi dapat memengaruhi aliran darah ke saluran pencernaan. Ketika tubuh lebih banyak mengalirkan darah ke otot-otot yang bekerja keras, sistem pencernaan bisa menjadi lebih sensitif dan memicu rasa tidak nyaman pada perut.
Selain faktor fisiologis, stres, kecemasan menjelang lomba, serta konsumsi makanan yang belum terbiasa dikonsumsi juga dapat memperbesar risiko gangguan pencernaan saat berlari.
Untuk mengurangi risiko runner’s trot, dr. Andi menyarankan pelari agar lebih selektif dalam memilih makanan menjelang hari perlombaan.
Beberapa jenis makanan yang sebaiknya dikurangi sebelum race antara lain:
- Sayuran mentah
- Buah dengan kandungan serat tinggi
- Kacang-kacangan
- Makanan tinggi serat lainnya
Pelari juga dianjurkan makan sekitar dua hingga tiga jam sebelum start agar tubuh memiliki waktu yang cukup untuk mencerna makanan.
“Jangan makan terlalu mepet dengan waktu perlombaan,” ujarnya.
Kesalahan yang cukup sering dilakukan pelari pemula adalah mencoba makanan, minuman, atau suplemen baru pada hari perlombaan.
Padahal, setiap tubuh memiliki toleransi yang berbeda terhadap jenis makanan tertentu. Apa yang aman bagi orang lain belum tentu cocok untuk diri sendiri.
Karena itu, pelari disarankan hanya mengonsumsi makanan atau produk energi yang sudah pernah dicoba saat sesi latihan.
Race day bukan waktu yang tepat untuk melakukan eksperimen nutrisi.
Selain makanan, pola minum selama perlombaan juga berperan penting dalam menjaga kenyamanan sistem pencernaan.
Banyak pelari yang panik lalu mengonsumsi air dalam jumlah besar saat melewati water station. Kebiasaan ini justru dapat memicu ketidaknyamanan pada perut.
Sebaliknya, hidrasi sebaiknya dilakukan sesuai pola yang sudah dilatih sebelumnya selama masa persiapan.
Untuk lomba jarak jauh yang berlangsung di iklim tropis seperti Indonesia, minuman isotonik juga dinilai lebih membantu karena mampu menggantikan cairan sekaligus elektrolit yang hilang melalui keringat.
Saat ini banyak pelari menggunakan energy gel atau produk fueling untuk menjaga stamina selama race. Namun penggunaannya tetap harus disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing.
Para ahli menyarankan agar energy gel yang digunakan saat perlombaan sudah pernah dicoba dalam sesi long run atau latihan jarak jauh sebelumnya.
Dengan begitu, pelari dapat mengetahui apakah produk tersebut aman bagi sistem pencernaan mereka.
Runner’s trot memang bukan kondisi yang berbahaya, tetapi dapat mengganggu performa dan kenyamanan saat berlari. Oleh karena itu, selain melatih fisik dan daya tahan, pelari juga perlu memperhatikan strategi nutrisi, hidrasi, dan manajemen stres sebelum perlombaan.
Dengan persiapan yang matang serta mengenali respons tubuh sendiri, pelari dapat mengurangi risiko perut mulas saat race dan menikmati pengalaman berlari dengan lebih maksimal hingga garis finis.(dhil)










