Koranindopos.com, Jakarta – Tekanan keuangan dapat berdampak pada kesehatan fisik dan mental. Karena itu, kemampuan mengatur pengeluaran perlu berjalan beriringan dengan kebiasaan menjaga kebugaran tubuh.
Hal tersebut dibahas dalam sesi diskusi bertajuk “Sehat Finansial, Sehat Badan, Sehat Jakarta” di Jakarta Financial Festival 2026, Blok M Square, Jakarta Selatan, Sabtu (24/10/2026).
None Jakarta 2026, Dokter Citra Poerwa, yang menjadi narasumber utama, menjelaskan bahwa kesehatan mencakup tiga aspek, yakni fisik, mental, dan sosial. Ketiganya saling berkaitan dalam menunjang kehidupan sehari-hari.
“Berdasarkan definisinya sendiri, sehat itu ada tiga aspek. Sehat fisik, sehat mental, dan juga sehat sosial. Jadi bukan semata-mata tubuhnya saja, tapi pikiran kita nih, mentalnya bagaimana dalam menghadapi sehari-hari dan juga sosial, interaksi dengan lingkungan sekitarnya,” kata Citra.
Menurut Citra, menjaga kesehatan perlu dilakukan sejak usia muda sebagai investasi untuk mempertahankan produktivitas hingga usia lanjut. Kesibukan bekerja pun tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan aktivitas fisik.
Ia menyarankan masyarakat menyiasati waktu di sela rutinitas, misalnya dengan berjalan kaki selama 10–15 menit setelah makan. Aktivitas sederhana tersebut bisa menjadi pilihan bagi mereka yang belum sempat berolahraga secara khusus.
“Kalau fisik, aktivitas fisik tentunya harus dijaga. Kalau misalkan kita sekarang terlalu sibuk nih kerja, meeting sana sini, waktunya banyak habis di jalan, itu kan sebetulnya kita harus bisa yang namanya curi-curi waktu. Misalkan kita enggak sempat nih untuk ke tempat olahraga, untuk nge-gym, kita siasatin setiap habis makan itu kita jalan kaki lah. Jalan kaki lah 10 sampai 15 menit. Yang adem-adem aja di dalam kantor juga boleh, yang penting kita bergerak,” tutur Citra.
Selain menjaga kebugaran, pola makan seimbang dan kemampuan mengelola pikiran juga perlu diperhatikan. Citra mengingatkan bahwa persoalan keuangan bisa menjadi sumber tekanan yang memengaruhi kondisi tubuh maupun mental.
“Ada jurnalnya yang betul membahas kalau stres finansial itu berpengaruh terhadap kesehatan mental dan juga fisik. Jadi kita harus bisa gimana caranya manage agar kita bisa lebih gimana caranya menghadapi permasalahan itu satu per satu lah. Nanti kalau misalkan dirasa sudah butuh bantuan profesional, jangan segan-segan untuk minta bantuan profesional,” kata Citra.
Persoalan tersebut juga berkaitan dengan tantangan generasi sandwich yang harus membagi penghasilan untuk kebutuhan pribadi sekaligus membantu keluarga. Dalam kondisi ini, Citra menyarankan agar setiap pengeluaran disusun berdasarkan tingkat kepentingannya.
Kebutuhan dasar, baik untuk diri sendiri maupun keluarga, perlu dipenuhi terlebih dahulu sebelum mengalokasikan uang untuk kebutuhan sekunder dan tersier.
“Mungkin kalau dari saya, kalau saya mungkin lebih ke kebutuhan dasarnya dulu ya yang harus dipenuhi. Antara kebutuhan diri sendiri dan keluarga pasti ada kebutuhan dasarnya dulu nih, baru yang sekunder yang tersiernya,” ucap Citra.
Jakarta Financial Festival 2026 berlangsung pada 23–24 Oktober 2026 sebagai bagian dari peringatan Bulan Inklusi Keuangan di DKI Jakarta. Kegiatan perdana di tingkat regional ini digelar bersama Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (FKIJK) DKI Jakarta.
Festival tersebut juga menjadi bagian dari program Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) DKI Jakarta, termasuk Digitalisasi Pasar Inklusif. Melalui kegiatan ini, akses layanan keuangan diharapkan semakin luas, pemanfaatan layanan keuangan digital meningkat, dan perlindungan konsumen semakin kuat.
Dalam diskusi tersebut, Citra turut berbagi sesi dengan Pemimpin Grup Dana Ritel & Transaksional Bank Jakarta, Yuniar T. Manik, serta Corporate Credit Analyst Bank Jakarta, Dedi Akhmadi.(BRG/Kul)










