Koranindopos.com, Jakarta – Pergantian tahun identik dengan sorak perayaan dan kemeriahan kembang api. Namun, suasana berbeda justru dipilih perancang busana Migi Rihasalay saat menyambut awal 2026. Di tengah duka bencana alam yang masih membayangi sejumlah wilayah Indonesia, ia memilih menjalani malam tahun baru dalam suasana hening, reflektif, dan penuh doa.
Bersama keluarga serta kerabat terdekat, Migi mengawali tahun dengan menyalakan seribu lilin sebagai simbol harapan dan solidaritas bagi para korban banjir bandang dan tanah longsor, terutama di wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Momentum tersebut diisi dengan doa bersama, tanpa pesta maupun euforia berlebihan.
Perayaan sederhana itu dilaksanakan di dua lokasi yang memiliki makna personal bagi Migi dan keluarga, yakni Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, serta Kampung Joglo di Kabupaten Pandeglang, Banten. Di kedua tempat tersebut, malam pergantian tahun diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Pusaka, dilanjutkan doa untuk keselamatan dan keteguhan masyarakat yang terdampak bencana alam di berbagai daerah.
Menurut Migi, pilihan untuk merayakan tahun baru secara sederhana merupakan bentuk empati terhadap kondisi bangsa. Ia menilai, saat banyak masyarakat masih berjuang menghadapi dampak bencana, perayaan yang terlalu meriah terasa kurang selaras dengan situasi yang ada.
“Pergantian tahun kali ini kami jalani dengan cara yang lebih tenang. Kami ingin mengirimkan doa dan harapan untuk saudara-saudara kita yang sedang menghadapi masa sulit,” ujar Migi di Jakarta.

Lilin dipilih karena memiliki makna simbolis yang kuat. Cahaya kecil yang menyala di kegelapan dimaknai sebagai pengingat bahwa harapan tetap ada, meski berada dalam keadaan yang tidak mudah. Melalui simbol tersebut, Migi berharap para korban bencana tetap memiliki kekuatan dan keyakinan untuk bangkit.
Dalam kesempatan itu, Migi juga menyampaikan apresiasi kepada keluarga dan sahabat yang ikut mendukung kegiatan tersebut, termasuk sang suami, Andrew James. Arsitek asal Australia itu dikenal kerap mendampingi Migi dalam berbagai aktivitas kreatif maupun kegiatan sosial.
Sementara itu, Kampung Joglo memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan Migi dan Andrew. Selama hampir delapan tahun, pasangan ini mengumpulkan kayu jati dari Jepara untuk membangun kompleks rumah joglo di kawasan Tanjung Lesung. Kawasan tersebut dirancang sebagai ruang seni dan budaya yang diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan pariwisata lokal di Kabupaten Pandeglang.
Bagi Migi, memasuki tahun baru tidak selalu harus dirayakan dengan gemerlap. Ia percaya, keheningan dan doa justru dapat menjadi wujud kepedulian yang lebih tulus. Melalui langkah sederhana itu, ia berharap masyarakat di daerah terdampak bencana tidak merasa sendirian dalam menghadapi masa pemulihan.
“Semoga cahaya kecil ini bisa menjadi pengingat bahwa harapan selalu ada, dan kepedulian dapat hadir dalam bentuk yang sederhana,” pungkasnya.(Brg/Kul)










