Koranindopos.com – JAKARTA – Penyakit kardiovaskular umumnya lebih sering dikaitkan dengan gangguan irama jantung, gagal jantung, atau penyumbatan pembuluh darah yang memasok jantung. Namun, ada kondisi lain yang juga perlu diwaspadai, terutama pada perempuan, yakni penyakit arteri perifer atau peripheral artery disease (PAD).
PAD terjadi ketika plak menumpuk di pembuluh darah yang berada di luar jantung, termasuk arteri di kaki, panggul, dan lengan. Penumpukan plak tersebut dapat membuat arteri menyempit atau tersumbat sehingga aliran darah ke bagian tubuh tertentu menjadi terbatas.
Kondisi ini dapat menimbulkan sejumlah gejala, seperti nyeri pada kaki, mati rasa, perubahan warna atau suhu kulit, hingga munculnya luka atau ulkus yang sulit sembuh.
Salah satu alasan PAD kerap terabaikan adalah gejalanya tidak selalu muncul secara jelas. Pada perempuan, kondisi tersebut bahkan dapat menimbulkan gejala yang lebih samar dibandingkan laki-laki.
Sebuah studi pada 2018 yang diterbitkan dalam Women’s Health and Aging Study menemukan bahwa 63 persen peserta dengan PAD tidak melaporkan nyeri klasik saat beraktivitas sehingga dikategorikan sebagai asimtomatik.
Penelitian dari American Heart Association juga menunjukkan perempuan dengan PAD cenderung lebih jarang mengalami nyeri kaki ketika berjalan. Meski demikian, kondisi tersebut tetap dapat berdampak terhadap kemampuan bergerak, kecepatan berjalan, serta daya tahan tubuh.
PAD juga cenderung memunculkan gejala lebih lambat pada perempuan. Rata-rata, perempuan mulai mengalami gejala pada usia 60-an, sedangkan laki-laki dapat merasakan gejala sekitar satu dekade lebih awal.
Pada perempuan lanjut usia, risiko PAD juga dapat meningkat seiring menurunnya kadar estrogen. Hormon tersebut memiliki sejumlah efek perlindungan terhadap pembuluh darah.
Selain itu, kondisi yang umum dialami pada usia lanjut, seperti radang sendi dan osteoporosis, dapat menimbulkan keluhan yang menyerupai gejala PAD sehingga penyakit arteri perifer berpotensi tidak segera dikenali.
PAD bukan hanya masalah pada kaki. Gangguan aliran darah akibat penumpukan plak merupakan tanda adanya masalah pada pembuluh darah secara lebih luas dan dapat berkaitan dengan peningkatan risiko kejadian kardiovaskular serius.
Jika tidak ditangani, PAD dapat menyebabkan luka pada kaki yang sulit sembuh, gangren, hingga amputasi meskipun komplikasi tersebut relatif jarang terjadi.
Yang juga perlu diperhatikan, penyakit ini berkaitan dengan peningkatan risiko serangan jantung hingga enam kali lipat dan stroke sekitar dua hingga tiga kali lipat.
Semakin lama PAD dibiarkan tanpa penanganan, risiko komplikasi kardiovaskular juga dapat semakin besar.
Masyarakat perlu mewaspadai sejumlah keluhan, seperti nyeri, mati rasa, atau rasa tidak nyaman pada kaki. Penurunan kemampuan bergerak atau berjalan dengan kecepatan seperti biasanya juga dapat menjadi alasan untuk berkonsultasi dengan dokter.
Salah satu pemeriksaan awal yang dapat dilakukan adalah memeriksa denyut nadi di pergelangan kaki. Jika denyut nadi sulit atau tidak teraba, dokter dapat melakukan pemeriksaan ankle-brachial index (ABI).
ABI merupakan pemeriksaan yang membandingkan tekanan darah di pergelangan kaki dengan tekanan darah di lengan. Tekanan darah yang lebih rendah di pergelangan kaki dapat menunjukkan adanya gangguan aliran darah menuju kaki dan menjadi salah satu tanda PAD.
Faktor risiko PAD pada perempuan maupun laki-laki pada dasarnya serupa dengan faktor risiko penyakit kardiovaskular lainnya.
Beberapa di antaranya adalah:
- Merokok
- Diabetes
- Usia lanjut
- Kolesterol tinggi
- Obesitas
- Pola makan tidak sehat
- Tekanan darah tinggi
Penanganan PAD dapat dilakukan melalui perubahan gaya hidup dan, bila diperlukan, penggunaan obat-obatan. Salah satu jenis obat yang dapat digunakan dalam penanganan kondisi ini adalah statin untuk membantu mengendalikan kadar kolesterol dan menurunkan risiko kardiovaskular.
Karena gejala PAD tidak selalu khas, terutama pada perempuan, keluhan seperti nyeri atau mati rasa pada kaki maupun penurunan kemampuan berjalan sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai masalah biasa akibat usia. Pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan penyebabnya dan menentukan penanganan yang tepat.(dhil/dtk)










