Koranindopos.com – JAKARTA — Keluhan seperti sering buang air kecil (BAK), aliran urine melemah, rasa tidak tuntas setelah berkemih, hingga urine bercampur darah kerap dianggap sebagai masalah prostat yang umum terjadi seiring bertambahnya usia. Padahal, berbagai keluhan tersebut dapat disebabkan oleh sejumlah kondisi sehingga diperlukan pemeriksaan untuk mengetahui penyebabnya.
Hal ini menjadi perhatian karena kanker prostat pada tahap awal sering kali tidak menimbulkan gejala khas. Kondisi tersebut membuat kanker prostat berpotensi berkembang tanpa disadari apabila tidak dilakukan deteksi dan pemeriksaan secara tepat.
Urolog dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr Stevano LH Sipahutar, SpU, FICRS, mengatakan evaluasi kondisi prostat dapat dilakukan melalui sejumlah pemeriksaan, salah satunya USG prostat dan pemeriksaan Prostate-Specific Antigen (PSA) dengan mempertimbangkan kondisi serta faktor risiko pasien.
“PSA merupakan salah satu pemeriksaan untuk melihat ada atau tidaknya kemungkinan penyakit pada prostat. Jika terdapat kecurigaan, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan lanjutan, seperti multiparametric MRI (mpMRI) prostat untuk melihat area yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut, kemudian biopsi robotik dengan menggabungkan hasil MRI dan robot untuk menegakkan apakah terdapat kanker atau tidak,” ujar dr Stevano dalam keterangan tertulis, Rabu (12/8/2026).
Menurutnya, pemeriksaan lanjutan juga dapat membantu dokter mengetahui karakteristik kanker apabila ditemukan.
Jika kanker prostat telah terdiagnosis, pilihan terapi tidak dapat disamaratakan untuk setiap pasien. Dokter akan mempertimbangkan tingkat risiko, sejauh mana kanker berkembang, karakteristik kanker, serta kondisi kesehatan pasien secara menyeluruh.
Pada kanker yang masih terbatas di prostat, radical prostatectomy atau operasi pengangkatan prostat dapat menjadi salah satu pilihan terapi bagi pasien yang memenuhi kriteria.
Prosedur tersebut dapat dilakukan dengan bantuan teknologi da Vinci Xi Robotic-Assisted Surgery. Sementara itu, pada kondisi tertentu, dokter juga dapat mempertimbangkan pilihan lain seperti monitoring aktif, terapi hormonal, maupun radioterapi.
“Pilihan terapi tidak selalu sama pada setiap pasien. Dokter perlu mempertimbangkan karakteristik kanker dan kondisi pasien secara menyeluruh sebelum menentukan penanganan yang paling sesuai,” kata dr Stevano.
“Bila operasi pengangkatan prostat menjadi pilihan, pengendalian kanker tetap menjadi prioritas,” lanjutnya.
Pada pasien yang menjalani Robotic-Assisted Radical Prostatectomy (RARP), tindakan dilakukan dengan pendekatan minimal invasif melalui beberapa sayatan kecil yang berukuran kurang lebih sebesar diameter jari tangan.
Pendekatan tersebut dapat membantu dokter melakukan tindakan pada area panggul yang relatif sempit dan kompleks.
Menurut dr Stevano, teknologi robotik berfungsi sebagai alat bantu bagi dokter bedah untuk melakukan prosedur dengan lebih presisi. Dalam operasi kanker prostat, visualisasi 3D yang diperbesar serta instrumen berukuran kecil dengan pergerakan yang lebih terkontrol memungkinkan dokter melihat area operasi dengan lebih jelas.
“Teknologi ini berperan sebagai alat bantu bagi dokter bedah untuk melakukan tindakan dengan lebih presisi. Dalam operasi kanker prostat, visualisasi 3D yang diperbesar dan instrumen berukuran kecil dengan pergerakan yang lebih terkontrol membantu dokter melihat area operasi dengan lebih jelas dan melakukan tindakan secara lebih terarah, sekaligus mengurangi risiko cedera pada organ di sekitar prostat dan meminimalkan risiko perdarahan,” jelasnya.
Selain memastikan keberadaan kanker, dokter juga perlu mengetahui sejauh mana penyakit tersebut berkembang. Informasi mengenai lokasi dan kemungkinan penyebaran kanker menjadi bagian penting dalam menentukan strategi penanganan.
Pada kondisi tertentu, PET-CT Scan dengan penanda PSMA dapat digunakan untuk membantu mengonfirmasi lokasi kanker, termasuk kemungkinan penyebaran ke kelenjar getah bening, tulang, maupun paru.
Setelah pasien menjalani terapi, pemeriksaan PSA tetap diperlukan untuk memantau hasil pengobatan dan mendukung proses pemantauan kondisi pasien.
Dengan demikian, setiap tahapan memiliki peran masing-masing, mulai dari deteksi, diagnosis, penentuan stadium, pemilihan terapi, hingga pemantauan setelah pengobatan.
Keluhan saat buang air kecil tidak selalu berarti seseorang mengalami kanker prostat. Namun, gejala yang muncul sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai kondisi normal akibat pertambahan usia.
Pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebab keluhan sekaligus menentukan apakah diperlukan pemeriksaan prostat lebih lanjut.
Untuk mendukung penanganan gangguan sistem ginjal dan saluran kemih, Tahir Uro-Nephrology Center di Mayapada Hospital menyediakan layanan yang mencakup deteksi dini, diagnosis, hingga penanganan berbagai kondisi, termasuk kanker prostat, dengan dukungan tim multidisiplin.
Mayapada Hospital Jakarta Selatan juga akan menghadirkan da Vinci Xi Robotic-Assisted Surgery, teknologi yang dirancang untuk membantu dokter melakukan tindakan bedah secara lebih presisi dan terarah sesuai kebutuhan pasien.
Masyarakat yang memiliki keluhan terkait saluran kemih atau faktor risiko tertentu dianjurkan berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.(dhil/dtk)










