Koranindopos.com, Jakarta – Grup musik legendaris Slank kembali menunjukkan konsistensinya dalam menjaga relevansi di dunia musik Indonesia. Di tengah penantian panjang para penggemar terhadap album studio ke-26, band yang digawangi Kaka, Bimbim, Ivanka, Ridho, dan Abdee itu meluncurkan album spesial bertajuk “Slank – The Greatest Hits Live”.
Album ini menjadi rangkuman perjalanan panjang Slank di atas panggung selama lebih dari dua dekade. Tidak hanya sekadar kompilasi, karya ini diramu dari rekaman konser yang berlangsung antara tahun 2002 hingga 2025, menjadikannya sebuah dokumentasi musik yang berharga sekaligus sarat sejarah.
Dalam konferensi pers di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (17/9/2025), Kaka mengungkapkan alasan di balik pemilihan lagu-lagu yang masuk dalam album tersebut. Menurutnya, kurasi dilakukan dengan mempertimbangkan popularitas lagu sekaligus relevansinya dengan generasi baru.
“Yang pasti dipilih lagu-lagu yang hits. Terus kedua, ini lagu-lagu supaya bisa masuk ke Gen Z juga. Ada little bit riset di media sosial, khususnya TikTok, banyak yang seliweran beredar dan juga rekamannya bagus,” jelas Kaka.
Ia menambahkan bahwa Slank ingin memanfaatkan momentum kembalinya beberapa lagu lama mereka yang viral di platform digital. “Niatnya buat ngeracunin anak-anak Gen Z, karena di TikTok tiba-tiba beberapa lagu Slank kembali viral,” katanya.
Abdee Negara menyoroti perubahan pola konsumsi musik yang kini sangat dipengaruhi oleh media sosial. Menurutnya, walau medium utama tetap digital, cara orang menemukan musik telah berubah drastis dibandingkan era kaset dan CD.
“Sebenarnya kalau dari sisi medium untuk mendengarkan belum banyak berubah, tetap masih digital. Bahkan beberapa tahun terakhir ini vinyl itu memproduksi lagi. Yang berubah itu cara orang mendiscover musik. Dulu dari record label, tapi sekarang musik bisa didiscover dari berbagai macam sosial media. Itu yang jadi tantangan bagaimana lagu kita bisa didengar berbagai kalangan terutama generasi muda,” ujar Abdee.

Bimbim menambahkan, album ini juga menjadi rekaman momen-momen emosional bagi para personel. Beberapa lagu dipilih bukan hanya karena kualitas audio, tetapi juga karena nilai historisnya bagi perjalanan band.
“Ini yang kira-kira bagus hasil rekamannya dan sejarah juga. Ada satu lagu yang pernah ditonton pas Abdee sakit, kita sering main berempat cuma satu gitar zaman Ridho doang. Jadi benar-benar history sampai 2025. Sebenarnya mau ambil tahun 2000-an, tapi pas dicari-cari kabur semua,” ungkap Bimbim.
Ia melanjutkan, “Kita banyak kan ada live 98, 99, cuma karena pertimbangan, ya tetap walaupun kita ngumpulin hasil sejarah perjalanan kita, hasil yang kita dengar ya tetap nyangkut.”
Ivanka, sang bassist, melihat generasi Z sebagai audiens dengan selera musik yang semakin luas. Menurutnya, tantangan terbesar Slank saat ini adalah bagaimana musik mereka bisa tetap relevan, sekaligus diterima lintas usia.
Selain dirilis dalam format digital, album ini juga tersedia dalam bentuk CD fisik melalui kerja sama dengan Jagonya Musik dan Sport Indonesia (JMSI) serta KFC Indonesia. Total ada 15 lagu yang dipilih, di antaranya “I Miss You But I Hate You (Live From Jakarta 2025),” “Ku Tak Bisa (Live from Surabaya 2005),” hingga kolaborasi dengan Mezaluna dan Chaska di konser terbaru mereka.
Bagi Slank, “The Greatest Hits Live” bukan hanya sebuah album, tetapi sebuah catatan perjalanan yang membuktikan bahwa musik mereka mampu bertahan melewati waktu. Di tengah derasnya arus musik baru yang lahir setiap hari, Slank tetap percaya diri membawa pesan mereka kepada pendengar lama maupun generasi baru. (Brg/Kul)










