Koranindopos.com, JAKARTA — Ada kisah yang tidak berhenti ketika layar bioskop menjadi gelap. Ada pula kenangan yang justru kembali terasa melalui sebuah cerita. Suasana itulah yang terasa dalam Gala Premiere film Baby Udon di CGV Grand Indonesia, Jakarta pada Rabu (26/8/2026).
Dipersembahkan oleh Sumargo Film dan LYTO Pictures, Baby Udon menghadirkan kisah yang begitu dekat dengan tema cinta, keluarga, dan kehilangan. Nuansa haru semakin terasa melalui instalasi pohon sakura yang menghiasi area bioskop sebagai tribut untuk mengenang mendiang *Hajime Kondoh*.
Usai film selesai diputar, suasana di dalam studio perlahan berubah. Banyak penonton terlihat larut dalam emosi yang dibawa cerita. Namun, momen paling mengharukan hadir ketika sesi press conference dimulai. Sambil mendekap sang buah hati, Fanny Kondoh menyampaikan pesan untuk mendiang suaminya. Dengan suara bergetar, ia mengungkapkan harapannya agar Hajime dapat melihat bagaimana banyak orang hadir untuk menyaksikan sekaligus merayakan kisah cinta dan perjuangan mereka untuk sang buah hati, Kazuki atau yang akrab disapa KazKaz.
“Teruntuk suami tercintaku, aku berharap kamu bisa melihat sebanyak apa orang di sini yang merayakan kisah cinta dan perjuangan kita untuk KazKaz. Film ini ada untuk mengenangmu, dan agar KazKaz bisa tahu kalau ayahnya adalah sosok yang luar biasa.”
Pesan tersebut menjadi salah satu momen yang paling membekas dalam Gala Premiere Baby Udon. Bagi Fanny, film ini bukan sekadar sebuah karya yang ditonton banyak orang, melainkan juga cara untuk menjaga sebuah kenangan dan memperkenalkan sosok seorang ayah kepada putranya.
Di balik perjalanan film tersebut, terdapat pula langkah besar bagi Denny Sumargo dan sang istri, Olivia Sumargo, yang untuk kali pertamanya hadir sebagai produser dalam industri perfilman Indonesia melalui Sumargo Film.
Denny pun memberikan perhatian besar pada proses penggarapan film ini. Dia bahkan memangkas rambutnya hingga botak dan mempelajari rekaman sakratul maut mendiang Hajime sebagai bagian dari upayanya menghadirkan karakter dengan penuh kesungguhan.
Bagi Denny, perjalanan Baby Udon menjadi pengalaman yang jauh lebih dalam dari sekadar membuat sebuah film. “Sebagai produser pertama kali, saya nggak nyangka efeknya bakal sehancur ini di hati penonton. Dari tur di berbagai kota kemarin, saya lihat sendiri orang-orang keluar studio sambil nangis sesenggukan,” ungkap Denny.
Denny mengatakan, salah satu alasan terbesarnya terlibat dalam film ini adalah menjaga amanah yang diberikan Fanny dan Hajime. Ia berharap Baby Udon dapat menjadi cerita yang menemani siapa pun yang pernah merasakan kehilangan. “Kisah ini bukan sekadar tontonan, tapi pelukan hangat buat siapa pun yang pernah kehilangan,” ujarnya. (rls/sha/mmr)










