Selasa, 29 September 2026
  • Masuk
Indopos
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
Indopos
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
Home Kesehatan

Teknologi Baru, Harapan Baru: Masa Depan Terapi Penyakit Jantung di Indonesia

Editor : Hanasa oleh Editor : Hanasa
22 September 2025
in Kesehatan
A A
0
Primaya Hospital Group
Share on FacebookShare on Twitter

koranindopos.com, JAKARTA — Pasien jantung di Indonesia kini memiliki lebih banyak harapan baru. Teknologi medis mutakhir seperti ablasi tanpa panas, angioplasti presisi, hingga operasi bypass minimal invasif kini hadir dan dibahas dalam Primaya Cardiovascular Conference 2025 bertema “Beat for LIfe, Love Your Heart”. Konferensi ini diadakan dalam rangka menyambut Bulan Jantung Sedunia 2025, dengan menghadirkan pakar kardiovaskular nasional dan internasional untuk membahas inovasi terbaru untuk penyakit jantung.

Penyakit jantung dan pembuluh darah masih menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia. Data WHO (2023) mencatat lebih dari 17 juta kematian setiap tahun, sementara di Indonesia mencapai 651.481 jiwa, terdiri dari stroke (331.349), jantung koroner (245.343), dan jantung hipertensi (50.620) . Angka ini menunjukkan urgensi peningkatan layanan kardiovaskular di tanah air.

dr. Esther Ramono, Chief Medical Officer Primaya Hospital Group menyatakan, “Konferensi ini menjadi sarana untuk memastikan bahwa standar layanan kardiovaskular di Indonesia terus berkembang seiring kemajuan global. Dengan teknologi terbaru, pasien tidak hanya mendapatkan terapi yang lebih efektif, tetapi juga lebih aman dan berpusat pada kebutuhan pasien. Teknologi harus diiringi dengan edukasi, karena pencegahan melalui gaya hidup sehat dan deteksi dini sama berharganya dengan terapi mutakhir. Keduanya harus berjalan beriringan untuk menurunkan angka kematian akibat penyakit jantung di Indonesia.”

Inovasi yang dipaparkan dalam konferensi diantaranya terkait Ablasi PFA, Precision PCI, Drug-Coated Balloon (DCB), CTO PCI (Chronic Total Occlusion PCI), Intervensi Darurat (Acute Coronary Syndrome) dan CABG Minimal Invasif.

Artikel Terkait

LVAD Buka Pilihan Terapi Baru bagi Pasien Gagal Jantung Stadium Lanjut

172 Peserta PPDS FK Unair Mengalami Gangguan Kesehatan Usai Konsumsi Makanan di RSUD Dr Soetomo

52 Juta Peserta Non Aktif, BPJS Kehilangan Rp 24 T Setahun

Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, SpJP(K), FIHA, FAsCC, FEHRA, FAPHRs, dari Primaya Hospital Kelapa Gading menjelaskan bahwa PFA lebih selektif dibanding metode berbasis panas, sehingga aman terhadap esofagus dan saraf. Data ADVENT trial menunjukkan efektivitas sekaligus keamanan yang lebih tinggi, menjadikannya terapi masa depan untuk atrial fibrillation.

Selanjutnya, dr. Bambang Budiono, SpJP(K), FIHA, FAPSIC, FAPSC, FSCAI dari Primaya Hospital Makassar memaparkan mengenai Precision PCI. “Intervensi koroner kini tidak lagi cukup hanya mengandalkan angiografi. Dengan dukungan pencitraan intravaskular dan fisiologi koroner, Precision PCI memungkinkan terapi yang benar-benar personal. Pendekatan presisi ini terbukti meningkatkan keberhasilan, keamanan, serta kualitas hidup pasien dalam jangka panjang,” jelasnya.

Sementara itu, dr. Rony M. Santoso, Sp.JP (K), FIHA, FESC, FAPSC, FSCAI dari Primaya Hospital Tangerang mengangkat terobosan stentless era. “Setelah puluhan tahun mengandalkan stent, kini hadir Drug-Coated Balloon (DCB) yang lebih sederhana dan tidak meninggalkan logam di pembuluh darah. Hasil penelitian menunjukkan risiko perdarahan lebih rendah, durasi penggunaan obat DAPT lebih singkat, serta outcome pasien lebih baik. Dengan demikian, tidak semua kasus penyakit jantung harus ditangani dengan pemasangan ring.”

Untuk kasus kompleks, dr. Isman Firdaus, SpJP (K), MPH, FIHA, FAPSIC, FAsCC, FESC, FACC, FSCAI dari Primaya Hospital Bekasi Barat menjelaskan tentang CTO PCI (Chronic Total Occlusion Percutaneous Coronary Intervention). “CTO PCI atau tindakan membuka sumbatan total kronis pada pembuluh darah jantung adalah prosedur yang sangat kompleks. Namun dengan seleksi pasien yang tepat, perencanaan menyeluruh, serta teknologi pencitraan intravaskular dan teknik recanalization modern, angka keberhasilan CTO PCI kini semakin baik. Hasilnya aliran darah pulih, gejala berkurang, dan kualitas hidup meningkat.”

Paparan terkait penanganan darurat disampaikan oleh dr. Robert Edward Saragih, Sp.JP (K), FIHA dari Primaya Hospital Bekasi Barat yang menekankan pentingnya intervensi cepat dengan PCI dini untuk mencegah kerusakan otot jantung lebih lanjut.

Kemudian terkait perkembangan Coronary Artery Bypass Graft (CABG), dr. Jayarasti Kusumanegara, SpBTKV, Subsp.JD(K), FIATCVS dari Primaya Hospital Makassar menjelaskan bahwa penggunaan graft arteri ganda atau total arterial revascularization terbukti menurunkan risiko kematian jangka panjang secara signifikan, dengan survival 12 tahun meningkat dari 54% menjadi lebih dari 63%. Ditambah lagi, penerapan teknik minimal invasif serta protokol Enhanced Recovery After Surgery (ERAS) memungkinkan pasien pulih lebih cepat, membutuhkan transfusi lebih sedikit, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

Teknologi kardiovaskular yang semakin maju memungkinkan penanganan penyakit jantung menjadi lebih presisi dan aman. Namun, edukasi tetap menjadi kunci. “Sebagus apapun teknologinya, pencegahan dan deteksi dini tetap nomor satu. Kami ingin generasi muda lebih sadar akan gaya hidup sehat, olahraga teratur, dan pemeriksaan rutin, agar angka kematian akibat jantung dapat ditekan,” tambah dr. Esther.

Dengan konferensi ini, Primaya Hospital berharap dapat memperkuat edukasi publik sekaligus mendorong kolaborasi tenaga medis lintas disiplin dalam menangani penyakit kardiovaskular di Indonesia. (rls/sh)

Topik: jantungPrimaya Hospital Group

TerkaitBerita

LVAD Buka Pilihan Terapi Baru bagi Pasien Gagal Jantung Stadium Lanjut
Kesehatan

LVAD Buka Pilihan Terapi Baru bagi Pasien Gagal Jantung Stadium Lanjut

oleh Editor : Akula
29 September 2026
172 Peserta PPDS FK Unair Mengalami Gangguan Kesehatan Usai Konsumsi Makanan di RSUD Dr Soetomo
Kesehatan

172 Peserta PPDS FK Unair Mengalami Gangguan Kesehatan Usai Konsumsi Makanan di RSUD Dr Soetomo

oleh Editor : Affandy
29 September 2026
JAMINAN KESEHATAN: Pelayanan kepada masyarakat di Kantor BPJS Kesehatan Jambi pada Senin (20/1/2025). (Foto Ilustrasi: ANTARA/Tuyani)
Kesehatan

52 Juta Peserta Non Aktif, BPJS Kehilangan Rp 24 T Setahun

oleh Editor : Memoarto
29 September 2026
Kemenkes Uji Coba Sistem Rujukan Baru BPJS di Bandung, Tak Lagi Berjenjang
Kesehatan

Kemenkes Uji Coba Sistem Rujukan Baru BPJS di Bandung, Tak Lagi Berjenjang

oleh Editor : Affandy
28 September 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Direkomendasikan

LVAD Buka Pilihan Terapi Baru bagi Pasien Gagal Jantung Stadium Lanjut

LVAD Buka Pilihan Terapi Baru bagi Pasien Gagal Jantung Stadium Lanjut

29 September 2026
7 Motor Listrik Murah 2026, Harga Mulai Rp9 Jutaan hingga Pilihan Baterai Swap

7 Motor Listrik Murah 2026, Harga Mulai Rp9 Jutaan hingga Pilihan Baterai Swap

29 September 2026
Kemendikdasmen: PJJ Terbuka untuk Anak dengan Kondisi Kesehatan Khusus, Termasuk Pasien Kanker

Kemendikdasmen: PJJ Terbuka untuk Anak dengan Kondisi Kesehatan Khusus, Termasuk Pasien Kanker

29 September 2026
172 Peserta PPDS FK Unair Mengalami Gangguan Kesehatan Usai Konsumsi Makanan di RSUD Dr Soetomo

172 Peserta PPDS FK Unair Mengalami Gangguan Kesehatan Usai Konsumsi Makanan di RSUD Dr Soetomo

29 September 2026

Terpopuler

  • Perdana, Kemenag-LPDP Siapkan 10.000 Kuota Beasiswa Pendidikan Profesi Guru

    Perdana, Kemenag-LPDP Siapkan 10.000 Kuota Beasiswa Pendidikan Profesi Guru

    4793 shares
    Share 1917 Tweet 1198
  • Raffi Ahmad Rela Gelontorkan Biaya Fantastis Puluhan Miliar Demi Hak Siar Persib dan Borneo FC di ASEAN Club Championship

    368 shares
    Share 147 Tweet 92
  • Membawa Pulang Standar Dunia ke Sekolah Menengah Kejuruan

    361 shares
    Share 144 Tweet 90
  • Mayoritas Menteri Disentil Presiden, Menag Ingatkan Bawahannya Membeli Produk Dalam Negeri

    965 shares
    Share 386 Tweet 241
  • Timnas Garuda Libas Singapura 2-0 Tapi Belum Puncaki Klasemen

    320 shares
    Share 128 Tweet 80
  • Tentang Kami
  • Redaksi Indopos
  • Pedoman Media Siber
  • Sitemap
Kontak Kami : 0899 064 8218

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya