Jumat, 23 Oktober 2026
  • Masuk
Indopos
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
Indopos
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
Home Megapolitan

TPS Liar Cilincing Jadi Sumber Penghidupan Ratusan Warga, Pemulung Bertahan di Tengah Tumpukan Sampah

Editor : Affandy oleh Editor : Affandy
13 Agustus 2026
in Megapolitan
A A
0
TPS Liar Cilincing Jadi Sumber Penghidupan Ratusan Warga, Pemulung Bertahan di Tengah Tumpukan Sampah

Foto: dok. kompas.com

Share on FacebookShare on Twitter

Koranindopos.com – JAKARTA – Tempat pembuangan sampah (TPS) liar di Jalan Reformasi, Rawa Malang, Cilincing, Jakarta Utara, bukan sekadar menjadi lokasi penumpukan sampah. Di balik persoalan lingkungan yang telah berlangsung lama, kawasan tersebut juga menjadi sumber penghidupan bagi ratusan warga sekitar.

Dadan (53), salah seorang warga yang sehari-hari beraktivitas di lokasi tersebut, mengatakan banyak masyarakat menggantungkan penghasilan dari aktivitas memilah dan mencari barang bernilai ekonomi di antara tumpukan sampah.

“Wah, banyak kalau untuk berapa warganya sih. Ratusan lah. Yang kerja-kerja orang nyari, mengais-ngaisnya itu kan banyak, orang sini,” ujar Dadan saat ditemui pada Rabu (12/8/2026).

Menurut Dadan, jumlah tersebut baru mencakup warga yang bekerja sebagai pemulung atau pengais sampah. Jumlah orang yang beraktivitas di kawasan tersebut bisa lebih banyak jika pekerja yang mengangkut dan menangani sampah turut diperhitungkan.

Artikel Terkait

Resahkan Warga hingga Lakukan Catcalling, 45 WNA di Apartemen Kalibata City Diamankan Imigrasi

Kasus ISPA di Tangsel Tembus 6.147 dalam Sepekan, Kualitas Udara Jadi Faktor Utama

BEM UI dan Komite Sadar Serukan Aksi Nasional pada Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober

Dadan sendiri telah lama beraktivitas di kawasan tersebut untuk mencari nafkah.

Keberadaan tumpukan sampah membuat warga harus hidup berdampingan dengan kondisi lingkungan yang tidak ideal. Namun, bagi sebagian masyarakat, meninggalkan lokasi tersebut bukan perkara mudah karena aktivitas di TPS liar itu menjadi salah satu sumber penghasilan.

Dadan mengaku sebenarnya ingin memiliki pekerjaan dengan kondisi yang lebih baik. Namun, keterbatasan ekonomi membuatnya tetap bertahan dan mencari nafkah di lokasi tersebut.

“Ya begitulah orang susah. Orang susah begitulah. Kalau mungkin seandainya saya mau jadi kayak mereka-mereka, saya mau. Tukeran saya mau, tapi ini karena memang saya hanya istilahnya cari nafkahnya di sini, hidup di sini, ya saya terpaksa,” tuturnya.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan TPS liar tidak hanya menyangkut masalah kebersihan dan lingkungan. Di balik keberadaannya, terdapat mata pencaharian warga yang selama bertahun-tahun bergantung pada aktivitas pengelolaan sampah secara informal.

Selain mengais barang yang masih memiliki nilai ekonomi, warga di sekitar TPS liar tersebut juga mengklaim telah melakukan pengolahan sampah.

Dadan mengatakan warga secara swadaya membeli mesin yang digunakan untuk mengolah sampah residu yang sudah tidak memiliki nilai ekonomi.

Ia menyebut hasil pengolahan tersebut sebagai refuse derived fuel (RDF), yakni bahan bakar yang dibuat dari sampah yang telah melalui proses pengolahan.

“RDF ini punya kita bersama. Punya warga sini, punya bersama. Jadi, kita sama-sama untuk mendaur ulang sampah-sampah yang sisa residu yang enggak ada nilainya, nilai ekonomisnya itu, kita swadaya masyarakat buat beli mesin ini,” jelas Dadan.

Upaya tersebut, menurut warga, dilakukan untuk mengurangi volume sampah yang terus menumpuk di lokasi.

Juwari, warga lain yang terlibat dalam aktivitas pengelolaan sampah, mengatakan produksi material yang mereka klaim sebagai RDF dapat mencapai sekitar lima ton per hari apabila seluruh mesin beroperasi.

Namun, nilai ekonominya dinilai belum terlalu menjanjikan.

“Kalau penghasilan dari RDF itu ya paling kita per ton itu Rp 300.000,” kata Juwari.

Dengan produksi maksimal sekitar lima ton per hari, nilai yang diperoleh warga disebut mencapai sekitar Rp 1,5 juta per hari. Meski demikian, angka tersebut masih bergantung pada kapasitas mesin dan kondisi operasional pengolahan.

Hasil pengolahan tersebut kemudian dikirim ke salah satu perusahaan untuk dimanfaatkan sebagai bahan bakar dalam industri semen.

“Kalau untuk penghasilan sih sebenarnya kalau untuk RDF itu enggak menjanjikan. Tapi karena punya itikad baik tadi supaya sampah enggak numpuk, jadi kita kirim ke sana, gitu kan, kirim ke semen,” ujar Juwari.

Tumpukan sampah di Jalan Reformasi, Rawa Malang, Cilincing, telah menjadi persoalan yang tidak sederhana. Di satu sisi, keberadaan TPS liar menimbulkan persoalan lingkungan dan mengganggu kualitas hidup masyarakat.

Di sisi lain, lokasi tersebut telah menjadi tempat ratusan warga mencari penghasilan. Aktivitas pemulungan, pengangkutan, pemilahan, hingga pengolahan sampah menjadi bagian dari mata rantai ekonomi yang berkembang di kawasan tersebut.

Karena itu, penanganan TPS liar tidak cukup hanya dengan mengangkut seluruh tumpukan sampah dan menutup lokasi. Pemerintah juga perlu mempertimbangkan nasib warga yang selama ini menggantungkan penghasilan dari aktivitas tersebut.

Jika penanganan dilakukan tanpa menyediakan alternatif mata pencaharian dan sistem pengelolaan sampah yang lebih teratur, persoalan serupa berpotensi kembali muncul di lokasi lain.

Di tengah tuntutan agar persoalan sampah di Jakarta segera diselesaikan, kondisi TPS liar Cilincing menunjukkan bahwa masalah sampah memiliki dimensi sosial dan ekonomi yang tidak kalah penting untuk diperhatikan.(dhil/kmps)

Topik: cilincingtps liar

TerkaitBerita

Resahkan Warga hingga Lakukan Catcalling, 45 WNA di Apartemen Kalibata City Diamankan Imigrasi
Megapolitan

Resahkan Warga hingga Lakukan Catcalling, 45 WNA di Apartemen Kalibata City Diamankan Imigrasi

oleh Editor : Affandy
23 Oktober 2026
Kasus ISPA di Tangsel Tembus 6.147 dalam Sepekan, Kualitas Udara Jadi Faktor Utama
Megapolitan

Kasus ISPA di Tangsel Tembus 6.147 dalam Sepekan, Kualitas Udara Jadi Faktor Utama

oleh Editor : Affandy
22 Oktober 2026
BEM UI dan Komite Sadar Serukan Aksi Nasional pada Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober
Megapolitan

BEM UI dan Komite Sadar Serukan Aksi Nasional pada Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober

oleh Editor : Affandy
21 Oktober 2026
Sempat Ditahan 8 Jam, 6 Aktivis Greenpeace Pembentang Spanduk di Bundaran HI Dibebaskan Polisi
Megapolitan

Sempat Ditahan 8 Jam, 6 Aktivis Greenpeace Pembentang Spanduk di Bundaran HI Dibebaskan Polisi

oleh Editor : Affandy
21 Oktober 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Direkomendasikan

Bee Frontier dan Bee Eclipse: Amazon Rilis Perangkat AI Pintar Pengelola Waktu dan Ingatan

Bee Frontier dan Bee Eclipse: Amazon Rilis Perangkat AI Pintar Pengelola Waktu dan Ingatan

23 Oktober 2026
Menjelajah Nusantara Tanpa Cemas, Chery Boyong Deretan Kendaraan Listrik Berdaya Jangkau Panjang

Menjelajah Nusantara Tanpa Cemas, Chery Boyong Deretan Kendaraan Listrik Berdaya Jangkau Panjang

23 Oktober 2026
Harga Minyak Dunia Melonjak ke US$ 113 Per Barel, Catat Rekor Tertinggi dalam 5 Bulan

Harga Minyak Dunia Melonjak ke US$ 113 Per Barel, Catat Rekor Tertinggi dalam 5 Bulan

23 Oktober 2026
Harga Emas Antam Ambles Rp 10.000 Per Gram, Harga Buyback Anjlok Hingga Rp 30.000

Harga Emas Antam Ambles Rp 10.000 Per Gram, Harga Buyback Anjlok Hingga Rp 30.000

23 Oktober 2026

Terpopuler

  • Perdana, Kemenag-LPDP Siapkan 10.000 Kuota Beasiswa Pendidikan Profesi Guru

    Perdana, Kemenag-LPDP Siapkan 10.000 Kuota Beasiswa Pendidikan Profesi Guru

    5033 shares
    Share 2013 Tweet 1258
  • Mayoritas Menteri Disentil Presiden, Menag Ingatkan Bawahannya Membeli Produk Dalam Negeri

    1086 shares
    Share 434 Tweet 272
  • Singapura Ancam Tutup Bisnis Tujuh Perusahaan Dalang Karhutla

    319 shares
    Share 128 Tweet 80
  • The Pizza Company Buka Gerai Pertama di Jakarta Utara, Bidik Pasar Kelapa Gading

    314 shares
    Share 126 Tweet 79
  • MU Hanya Dua Kali Menang, Nasib Michael Carrick di Ujung Tanduk

    312 shares
    Share 125 Tweet 78
  • Tentang Kami
  • Redaksi Indopos
  • Pedoman Media Siber
  • Sitemap
Kontak Kami : 0899 064 8218

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya