Jumat, 23 Oktober 2026
  • Masuk
Indopos
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
Indopos
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
Home Nasional

Untuk Saudara di NTT, Menggali Asa dari Reruntuhan

Editor : Affandy oleh Editor : Affandy
18 Agustus 2026
in Nasional
A A
0
Untuk Saudara di NTT, Menggali Asa dari Reruntuhan

Foto: dok. antara

Share on FacebookShare on Twitter

Koranindopos.com – JAKARTA – Gempa bumi dahsyat yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali mengingatkan kita bahwa bencana bukan hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga luka mendalam bagi mereka yang mengalaminya. Bagi sebagian orang, duka akibat gempa mungkin sulit dibayangkan. Namun, bagi mereka yang pernah kehilangan rumah dan rasa aman dalam hitungan detik, pengalaman tersebut meninggalkan ingatan yang tidak mudah hilang.

Pengalaman serupa pernah dirasakan seorang penyintas gempa Yogyakarta pada 27 Mei 2006. Saat itu, guncangan hebat selama hampir satu menit membuat rumah dan berbagai fasilitas yang selama bertahun-tahun dibangun bersama keluarga runtuh dalam sekejap.

Rumah yang sebelumnya menjadi tempat berteduh dan ruang untuk menjalani kehidupan bersama keluarga berubah menjadi puing. Bahkan, ruang yang digunakan untuk mempersiapkan bahan kuliah ilmu hukum bagi mahasiswa pun tidak luput dari kehancuran.

Setelah gempa berhenti, suasana berubah menjadi sunyi dan penuh kebingungan. Warga berhamburan keluar rumah dengan wajah pucat. Sebagian mencari anggota keluarga, sementara yang lain hanya terpaku melihat bangunan yang telah roboh.

Artikel Terkait

Kronologi Pak Ogah Tewas Tertabrak Truk Boks saat Atur Lalu Lintas di Cengkareng

BNPB: 18.421 Hektare Lahan Karhutla di Sumatera dan Kalimantan Masih Ditangani

Usulkan Kerugian Negara Dihapus dari Definisi Korupsi, Luhut Soroti Standar UNCAC dan Risiko Bisnis

Peristiwa tersebut menyadarkan bahwa kehidupan manusia begitu rapuh. Sesuatu yang dibangun selama bertahun-tahun dengan tenaga, biaya, kesabaran, dan doa dapat hilang hanya dalam hitungan detik.

Reruntuhan akibat gempa bukan sekadar tumpukan batu bata, kayu, dan material bangunan. Di baliknya terdapat rasa aman, kepastian, kenangan, serta harapan yang ikut terkubur.

Rumah memiliki arti jauh lebih besar daripada sekadar tempat tinggal. Di dalamnya terdapat berbagai kenangan keluarga, masa tumbuh anak-anak, percakapan sederhana di meja makan, hingga berbagai rencana mengenai masa depan.

Karena itu, kehilangan rumah juga dapat berarti kehilangan sebagian dari dunia yang selama ini dikenal.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kehilangan tidak selalu dapat dijelaskan dengan kata-kata. Ada duka yang hanya benar-benar dapat dipahami oleh orang yang pernah mengalaminya.

Namun, dari situ pula muncul pelajaran penting bahwa manusia kerap menemukan kekuatannya setelah menghadapi keadaan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Ketika tidak lagi memiliki tempat yang nyaman untuk beristirahat, kehidupan harus tetap dijalani dengan segala keterbatasan. Ketika meja kerja dan ruang kehidupan telah berubah, pekerjaan tetap harus dilakukan. Bahkan ketika hati belum sepenuhnya pulih, kehidupan tetap menuntut seseorang untuk perlahan bergerak maju.

Kini, luka serupa dirasakan masyarakat NTT setelah gempa bumi mengguncang wilayah tersebut. Reruntuhan rumah, kehilangan tempat tinggal, serta terganggunya aktivitas masyarakat menjadi pemandangan yang mengingatkan kembali pada pengalaman bencana di masa lalu.

Bagi mereka yang pernah mengalami kehilangan serupa, melihat kondisi masyarakat NTT tentu menghadirkan kesedihan yang lebih dalam.

Ada rasa seolah kembali berada di tengah reruntuhan, menyaksikan dunia yang sebelumnya terasa kokoh berubah dalam sekejap.

Karena itu, masyarakat yang terdampak bencana tidak selalu membutuhkan nasihat panjang untuk segera kuat dan bangkit. Pada masa awal setelah bencana, yang jauh lebih penting adalah kehadiran dan empati.

Mereka membutuhkan uluran tangan, bantuan nyata, serta keyakinan bahwa mereka tidak menghadapi penderitaan tersebut seorang diri.

Pengalaman menghadapi gempa Yogyakarta juga memberikan pelajaran bahwa proses pemulihan setelah bencana bukan perjalanan yang sederhana.

Bangkit dari kehilangan membutuhkan waktu. Ada hari ketika seseorang merasa mulai mampu menjalani kehidupan kembali, tetapi ada pula saat ketika kenangan dan rasa kehilangan datang dengan begitu kuat.

Karena itu, proses pemulihan masyarakat NTT perlu dilakukan dengan kesabaran dan pendampingan yang berkelanjutan. Pemenuhan kebutuhan dasar, tempat tinggal, layanan kesehatan, pendidikan, hingga pemulihan ekonomi masyarakat menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut.

Di tengah puing-puing, harapan mungkin terlihat kecil. Namun, sejarah menunjukkan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk membangun kembali kehidupannya.

Dari reruntuhan rumah, perlahan dapat berdiri tempat tinggal baru. Dari kehilangan, kehidupan dapat kembali ditata. Dan dari kesedihan, tumbuh solidaritas yang menguatkan satu sama lain.

Untuk saudara-saudaraku di NTT, duka yang kalian rasakan tidak harus dilalui sendirian. Kehilangan memang tidak dapat dihapus begitu saja, tetapi dengan kehadiran, kepedulian, dan gotong royong, jalan menuju pemulihan dapat mulai dibuka.

Sebab, pada akhirnya, yang dibutuhkan setelah sebuah bencana bukan sekadar membangun kembali bangunan yang runtuh, melainkan menggali kembali asa yang sempat terkubur di antara reruntuhan.(dhil/kmps)

Topik: Gempa BumiNTT

TerkaitBerita

Kronologi Pak Ogah Tewas Tertabrak Truk Boks saat Atur Lalu Lintas di Cengkareng
Peristiwa

Kronologi Pak Ogah Tewas Tertabrak Truk Boks saat Atur Lalu Lintas di Cengkareng

oleh Editor : Affandy
23 Oktober 2026
BNPB: 18.421 Hektare Lahan Karhutla di Sumatera dan Kalimantan Masih Ditangani
Nasional

BNPB: 18.421 Hektare Lahan Karhutla di Sumatera dan Kalimantan Masih Ditangani

oleh Editor : Affandy
23 Oktober 2026
Usulkan Kerugian Negara Dihapus dari Definisi Korupsi, Luhut Soroti Standar UNCAC dan Risiko Bisnis
Nasional

Usulkan Kerugian Negara Dihapus dari Definisi Korupsi, Luhut Soroti Standar UNCAC dan Risiko Bisnis

oleh Editor : Affandy
23 Oktober 2026
Pastikan Pengelolaan Dana Akuntabel, LPDB Koperasi Perkuat Sistem Keuangan
Nasional

Pastikan Pengelolaan Dana Akuntabel, LPDB Koperasi Perkuat Sistem Keuangan

oleh Editor : Affandy
22 Oktober 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Direkomendasikan

MEVAL Hadirkan Lampu Tenaga Surya Terra Solar Light dan Switch & Socket di HOMEDEC 2026

MEVAL Hadirkan Lampu Tenaga Surya Terra Solar Light dan Switch & Socket di HOMEDEC 2026

23 Oktober 2026
LAGA SENGIT: Penjaga gawang AC Milan Mike Maignan dijatuhi kartu merah dalam laga Liga Europa antara Bournemouth vs Milan di Bournemouth, Inggris pada Kamis (22/10/2026). (Foto: (c) AP Photo/Alastair Grant)

AC Milan Dibantai 0-3 Saat Sambangi Markas Bournemouth

23 Oktober 2026
KOMENTAR TAJAM: Presiden Perancis Emmanuel Macron dalam konferensi pers pada Senin (7/4/2025).(Foto: AFP/LUDOVIC MARIN)

Presiden Emmanuel Macron Sebut Trump Berkomentar Bodoh Soal Demo Prancis

23 Oktober 2026
HADIAH MENARIK: Head of National Tri Brand Galuh Neftita, SVP Head of Digital Growth IOH Reginald Agustian, Head of Circle Jakarta Raya IOH Swandi Tjia, Head of Partnership & Innovation IOH Reno Rizki Yudha, dan VP Head of Loyalty & Engagement IOH Lucida Gloria Utami dalam seremonial di Bengkel Space, SCBD, Jakarta Selatan pada Kamis (22/10/2026). (FOTO: WAYTRI/KORANINDOPOS.COM)

Kebut Hadiah BombasTri 2026 Tawarkan 2.026 Hadiah Menarik

23 Oktober 2026

Terpopuler

  • Perdana, Kemenag-LPDP Siapkan 10.000 Kuota Beasiswa Pendidikan Profesi Guru

    Perdana, Kemenag-LPDP Siapkan 10.000 Kuota Beasiswa Pendidikan Profesi Guru

    5032 shares
    Share 2013 Tweet 1258
  • Mayoritas Menteri Disentil Presiden, Menag Ingatkan Bawahannya Membeli Produk Dalam Negeri

    1086 shares
    Share 434 Tweet 272
  • Singapura Ancam Tutup Bisnis Tujuh Perusahaan Dalang Karhutla

    319 shares
    Share 128 Tweet 80
  • The Pizza Company Buka Gerai Pertama di Jakarta Utara, Bidik Pasar Kelapa Gading

    314 shares
    Share 126 Tweet 79
  • MU Hanya Dua Kali Menang, Nasib Michael Carrick di Ujung Tanduk

    312 shares
    Share 125 Tweet 78
  • Tentang Kami
  • Redaksi Indopos
  • Pedoman Media Siber
  • Sitemap
Kontak Kami : 0899 064 8218

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya