Koranindopos.com – JAKARTA – Warga Bukit Duri, Jakarta Selatan, meminta kepolisian terus melakukan penyisiran di sejumlah gang kecil di sekitar Jalan Bukit Duri Timur setelah tawuran warga kembali pecah pada Jumat (21/8/2026) sore.
Permintaan tersebut disampaikan warga ketika melihat tim gabungan yang terdiri dari polisi, TNI, dan perangkat lingkungan menyusuri kawasan tersebut. Tim gabungan saat itu hendak mendatangi salah satu rumah yang diduga berkaitan dengan orang yang terlibat tawuran.
Seorang warga bahkan meminta polisi tidak segera meninggalkan kawasan tersebut.
“Jangan pulang dulu ya, Pak,” kata seorang perempuan dari Jalan Meliwis yang aksesnya ditutupi batang pohon secara melintang.
Permintaan tersebut disampaikan berulang kali dan diamini warga lainnya. Anggota polisi yang mendengar permintaan itu kemudian menjawab singkat.
“Iya, ibu,” balas anggota polisi sambil terus berjalan.
Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan AKBP Mohammad Iskandarsyah mengatakan, tawuran yang terjadi pada Jumat sore merupakan kejadian ketiga dalam satu pekan terakhir.
“Yang pasti ini sudah tiga kali tawurannya, kalau penyebabnya belum bisa kami sampaikan,” kata Iskandar saat ditemui di lokasi.
Rentetan tawuran tersebut membuat warga Bukit Duri semakin waswas. Suara petasan yang sebelumnya dianggap sebagai hal biasa kini justru menjadi tanda yang membuat sebagian warga bersiap menghadapi kemungkinan terjadinya bentrokan.
Mawar (25), bukan nama sebenarnya, mengatakan dirinya merasa cemas setiap kali mendengar suara petasan.
“Kalau udah bunyi petasan aja, uh… mulai waswas,” kata Mawar.
Menurut dia, tiga tawuran yang terjadi dalam sepekan terakhir sama-sama diawali dengan suara petasan.
Kekhawatiran warga bukan hanya soal keselamatan diri. Mereka juga takut rumah dan harta benda ikut menjadi sasaran ketika bentrokan terjadi di sekitar permukiman.
Mawar menuturkan, sejumlah rumah warga berada cukup dekat dengan lokasi bentrokan. Kondisi tersebut membuat warga khawatir terkena lemparan batu atau benda lain yang digunakan dalam tawuran.
Salah satu rumah di pinggir jalan bahkan tampak memasang karpet tebal di bagian depan kaca jendelanya sebagai perlindungan tambahan.
Sementara itu, bagian asbes pada langit-langit rumah tersebut terlihat berlubang. Kondisi itu diduga akibat lemparan batu ketika tawuran terjadi.
“Kami kan khawatirnya juga rumah nanti rusak, siapa yang mau tanggung jawab?” tutur Mawar.
Kekhawatiran tersebut semakin besar karena menurut Mawar, tawuran yang terjadi pada Jumat sore melibatkan lebih banyak orang dibandingkan kejadian sebelumnya.
Ia juga melihat sejumlah senjata yang menurutnya tampak menyeramkan digunakan dalam bentrokan.
Mawar menduga orang-orang yang terlibat tidak seluruhnya merupakan warga sekitar Bukit Duri. Ia mencurigai adanya pihak dari luar kawasan yang ikut terlibat dalam tawuran.
Situasi tersebut menjelaskan mengapa warga meminta polisi tetap melakukan penyisiran di gang-gang kecil setelah tawuran mereda.
Kehadiran aparat dinilai penting untuk memastikan tidak ada lagi kelompok yang bersembunyi atau membawa benda berbahaya di sekitar permukiman.
Gang-gang sempit di kawasan Bukit Duri juga membuat pengawasan menjadi tantangan tersendiri. Sejumlah akses dapat ditutup dengan berbagai benda, termasuk batang pohon yang melintang seperti yang terlihat di Jalan Meliwis.
Bagi warga, penyisiran tidak hanya diperlukan untuk menangani tawuran yang sudah terjadi, tetapi juga untuk mencegah bentrokan susulan.
Rentetan kejadian dalam satu pekan membuat rasa aman warga terganggu. Setiap suara petasan kini dapat memunculkan kekhawatiran akan terjadinya tawuran kembali.
Sebelumnya, tawuran pada Kamis malam juga terjadi di kawasan tersebut. Namun, kejadian itu tidak sampai mengganggu perjalanan kereta rel listrik (KRL) seperti tawuran yang terjadi pada Jumat.
Warga berharap kepolisian dapat mengungkap penyebab bentrokan sekaligus menelusuri pihak-pihak yang terlibat agar kejadian serupa tidak kembali berulang dan mengancam keselamatan masyarakat di kawasan Bukit Duri.(dhil/kmps)










