Koranindopos.com, JAKARTA – Fakta-fakta kasus pelajar keracunan menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus terjadi. Pada awal pekan kedua, Februari 2026 ini, terjadi dua kasus serupa. Yakni di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan (Sumsel) dan Kabupaten Dairi, Sumatera Utara (Sumut).
Dilansir dari merdeka.com, sebanyak 15 santri Pondok Pesantren Al Ittifaqiah Indralaya di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, dilarikan ke rumah sakit diduga akibat keracunan menu MBG. Tujuh santri harus dirawat karena kondisinya cukup serius.
Peristiwa itu terjadi setelah para santri menyantap menu MBG pada Senin (9/2/2026) pukul 09.50. Para korban mengalami sakit perut, mual, hingga muntah. Semua korban akhirnya dilarikan ke RS Ar Royan Indralaya untuk penanganan. Tujuh santri harus diopname dan sisanya diizinkan pulang dengan catatan rawat jalan.
Sementara itu, Humas Ponpes Al Ittifaqiah Ferry Heryadi mengungkapkan, laporan medis para santrinya diduga mengalami keracunan usai menyantap MBG. Namun peristiwa ini masih dalam proses penyelidikan. ”Sedang kami telusuri apakah benar keracunan atau bukan,” ungkap Ferry Heryadi pada Rabu (11/2/2026).
Insiden serupa juga terjadi di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Ratusan pelajar SMK Swasta HKBP Sidikalang dilarikan ke berbagai fasilitas kesehatan karena mengalami gejala keracunan serius usai menyantap menu MBG pada Senin (9/2/2026).
Hingga Selasa (10/2/2026), para pelajar tersebut masih menjalani perawatan di RSUD Sidikalang, RSU Serenapitta, hingga Puskesmas Huta Rakyat. Para siswa mengalami diare hebat, mual, bahkan beberapa di antaranya pingsan akibat kondisi fisik yang drop.
Berdasar pengakuan sejumlah guru dan siswa, petaka ini bermula setelah mereka mengonsumsi menu MBG yang terdiri dari nasi, ayam gulai, sayur selada dan pisang. Namun ada kejanggalan pada hidangan tersebut.
Siswa melaporkan kondisi makanan sudah berbau tidak sedap dan berlendir saat diterima. Usai disantap, efek samping mulai terasa pada Senin malam, dengan gejala diare massal yang memuncak pada Selasa pagi. Dampaknya, sekitar 20 siswa harus dirujuk ke RSUD Sidikalang karena memerlukan penanganan intensif. ”Yang memakan makanan itu diduga terkena bakteri,” ungkap salah seorang guru saat mendampingi siswa di Puskesmas Huta Rakyat, dilansir dari liputan6.com.
Sementara itu, juru masak MBG di SPPG Sidikalang, Dhap, membantah. Dia menyebutkan bahwa pihaknya mendistribusikan total 3.260 porsi ke 19 sekolah berbeda. Menurutnya, seluruh makanan yang keluar dari dapur SPPG sudah dalam kondisi steril dan sesuai prosedur. Meski demikian, pihak SMK Swasta HKBP Sidikalang mengambil langkah tegas dengan menolak seluruh distribusi menu MBG pada hari Selasa, demi menghindari jatuhnya korban tambahan.
Di tengah sorotan publik terhadap program MBG, Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia (IPI) Burhanuddin Muhtadi merilis hasil surveinya. Menurut lembaganya, mayoritas publik menyatakan puas terhadap pelaksanaan program tersebut.
Tingkat kepuasan tersebut paling tinggi ditemukan pada kelompok generasi muda, khususnya Generasi Z. Berdasar hasil survei Indikator Politik Indonesia, sebanyak 12,2 persen responden mengaku sangat puas dan 60,6 persen menyatakan cukup puas terhadap program MBG. Dengan demikian, total warga yang merasa puas mencapai 72,8 persen. ”Jadi memang yang sangat puas 12,2 persen dan cukup puas 60,6 persen,” ujar Burhanuddin dalam konferensi pers daring pada Minggu lalu (8/2/2026). (mdc/lpt6/kpc/mmr)










