Kamis, 8 Oktober 2026
  • Masuk
Indopos
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
Indopos
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
Home Opini

TKA Mengguncang Zona Nyaman

Editor : Anggoro oleh Editor : Anggoro
11 Februari 2026
in Opini
A A
0
TKA Mengguncang Zona Nyaman

Prof. Toni Toharudin Kepala BSKAP Kemendikdasmen/Guru Besar Unpad

Share on FacebookShare on Twitter

koranindopos.com – TKA tidak sekadar mengukur kemampuan siswa. Ia mengguncang zona nyaman pendidikan kita. Selama bertahun-tahun, sistem pendidikan Indonesia berjalan dalam keseimbangan yang tampak stabil di permukaan. Kita berbicara tentang inovasi pembelajaran, penguatan karakter, dan transformasi kurikulum, tetapi sering kali tanpa instrumen yang benar-benar mampu memotret capaian akademik siswa secara objektif dan berkelanjutan. Ketika Tes Kemampuan Akademik (TKA) kembali hadir, ia membawa sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar asesmen: ia menjadi cermin yang memperlihatkan kondisi nyata kualitas pembelajaran kita.

Tidak semua refleksi dalam cermin itu terasa nyaman. Variasi kemampuan siswa yang lebar, perbedaan kesiapan antarwilayah, serta kesenjangan antara target kurikulum dan capaian aktual menjadi sinyal bahwa sistem pembelajaran kita membutuhkan percepatan perubahan. Reaksi publik yang beragam terhadap TKA sebenarnya menunjukkan satu hal penting: kita belum sepenuhnya terbiasa melihat asesmen sebagai alat refleksi sistemik, bukan sebagai ancaman. Padahal, dalam pendidikan modern, asesmen bukanlah tujuan akhir. Ia adalah kompas yang menunjukkan arah perbaikan.

Alarm bagi Sistem, Bukan Beban bagi Siswa

Kesalahan terbesar dalam membaca hasil asesmen adalah menyederhanakannya sebagai ukuran keberhasilan atau kegagalan individu siswa. Dalam perspektif assessment for learning yang dikembangkan oleh Black dan Wiliam, asesmen seharusnya menjadi bagian integral dari proses belajar yang memberikan umpan balik untuk perbaikan berkelanjutan.

Artikel Terkait

Membawa Pulang Standar Dunia ke Sekolah Menengah Kejuruan

Zakat Sebagai Pengurang Pajak?

TEFA Perlu Kafah, Jangan Mualaf terhadap Deep Learning

Hasil TKA seharusnya dipahami sebagai alarm bagi sistem pendidikan. Ia memperlihatkan area yang membutuhkan perhatian lebih, terutama dalam kemampuan literasi, numerasi, dan penalaran. Namun, alarm tersebut tidak ditujukan untuk menyalahkan siswa. Ia mengajak kita melihat lebih dalam: bagaimana strategi pembelajaran diterapkan, bagaimana kurikulum diterjemahkan di kelas, dan bagaimana guru didukung untuk menghadapi perubahan kebutuhan belajar.

John Hattie melalui meta-analisis Visible Learning menunjukkan bahwa faktor guru merupakan variabel dengan pengaruh terbesar terhadap capaian belajar siswa. Artinya, ketika asesmen menunjukkan kesenjangan kompetensi, fokus perubahan harus diarahkan pada peningkatan kualitas praktik pedagogi. TKA dengan demikian bukanlah beban tambahan bagi siswa, melainkan instrumen refleksi yang membantu sistem memahami di mana perbaikan harus dilakukan. Namun refleksi tanpa tindakan hanya akan menghasilkan laporan tanpa perubahan.

Mengakhiri Ritual Pelatihan Guru

Salah satu area yang paling membutuhkan transformasi adalah paradigma pelatihan guru. Selama ini, pelatihan sering dilakukan dalam format workshop satu arah, di mana guru menjadi penerima materi yang diharapkan langsung mengubah praktik mengajar. Model seperti ini memiliki keterbatasan mendasar karena perubahan pedagogi tidak terjadi hanya melalui transfer pengetahuan. Donald Schön dalam konsep reflective practitioner menekankan bahwa profesional berkembang melalui refleksi atas tindakan nyata. Guru perlu ruang untuk mencoba strategi baru, mengamati dampaknya, dan memperbaiki pendekatan secara berkelanjutan. Tanpa siklus eksperimen ini, pelatihan hanya menjadi ritual administratif yang tidak menyentuh inti perubahan.

Data dari TKA memberikan peluang besar untuk mengakhiri pola lama tersebut. Dengan informasi yang lebih spesifik tentang kemampuan siswa, pelatihan guru dapat dirancang secara kontekstual dan berbasis kebutuhan nyata. Pelatihan tidak lagi bersifat generik, tetapi fokus pada tantangan yang benar-benar dihadapi di kelas. Transformasi ini membutuhkan perubahan mindset. Pelatihan guru tidak lagi dimulai dari teori yang abstrak, tetapi dari data nyata yang menunjukkan apa yang perlu diperbaiki. Jika sebelumnya pelatihan sering berakhir pada sertifikat, maka paradigma baru harus berakhir pada perubahan praktik.

Lebih jauh, pelatihan guru juga perlu bergeser dari pendekatan event-based training menuju process-based professional learning. Selama ini, pelatihan sering dipahami sebagai kegiatan sesaat yang selesai ketika agenda berakhir. Padahal, perubahan kompetensi pedagogik membutuhkan proses berkelanjutan yang melibatkan coaching, mentoring, observasi kelas, serta refleksi berbasis data. Tanpa ekosistem pendampingan yang berkesinambungan, pelatihan berisiko menjadi rutinitas yang menguras energi tetapi minim dampak. Oleh karena itu, reformasi pelatihan guru harus memastikan adanya siklus belajar profesional yang hidup, di mana guru terus bereksperimen, memperoleh umpan balik, dan memperbaiki praktiknya secara sistematis.

Teacher Experimental Training (TET)

Teacher Experimental Training (TET) menawarkan pendekatan yang lebih relevan dengan kebutuhan transformasi pendidikan. Dalam model ini, guru tidak lagi hanya mengikuti pelatihan, tetapi menjadi aktor utama dalam eksperimen pedagogik berbasis data. Pendekatan ini berakar pada experiential learning yang menempatkan pengalaman nyata sebagai pusat pembelajaran profesional. Guru merancang strategi pembelajaran baru, mengimplementasikannya di kelas, kemudian merefleksikan hasilnya secara sistematis. Konsep ini juga selaras dengan design-based research yang menekankan inovasi pendidikan melalui siklus iteratif berbasis praktik nyata.

Selain itu, TET mengadopsi prinsip deliberate practice yang dikemukakan oleh Anders Ericsson, di mana peningkatan keahlian terjadi melalui latihan terstruktur dengan umpan balik yang jelas. Guru tidak hanya mencoba secara acak, tetapi melakukan eksperimen yang terarah berdasarkan data asesmen, termasuk hasil TKA.

Integrasi antara TKA dan TET menciptakan ekosistem peningkatan mutu yang dinamis. Hasil asesmen menjadi titik awal diagnosis, eksperimen pembelajaran menjadi strategi intervensi, dan refleksi berbasis data menjadi mekanisme perbaikan berkelanjutan. Dalam konteks ini, guru diposisikan sebagai inovator pembelajaran yang memiliki otonomi profesional untuk merancang solusi sesuai kebutuhan siswa. Lebih jauh, pendekatan ini juga selaras dengan kebutuhan era kecerdasan buatan dan transformasi digital. Guru tidak lagi hanya menjadi penyampai materi, tetapi desainer pengalaman belajar yang adaptif dan berbasis data. TET memberikan ruang bagi peran baru tersebut untuk berkembang secara sistematis.

Penutup

TKA telah mengguncang zona nyaman pendidikan kita. Namun, guncangan bukanlah sesuatu yang harus dihindari. Dalam sejarah perubahan pendidikan, momentum reformasi sering dimulai dari momen ketika sistem dipaksa melihat dirinya sendiri secara jujur. Pertanyaannya sekarang bukan apakah kita membutuhkan asesmen seperti TKA, tetapi apakah kita siap menggunakan hasilnya sebagai dasar transformasi nyata. Jika TKA hanya berhenti sebagai alat pengukuran, maka dampaknya akan terbatas. Tetapi jika ia menjadi pemicu perubahan paradigma pelatihan guru melalui pendekatan seperti Teacher Experimental Training, maka kita sedang membuka jalan menuju akselerasi kualitas pendidikan nasional yang lebih cepat dan berkelanjutan.

Zona nyaman telah terguncang. Kini saatnya menjadikan guncangan itu sebagai energi untuk melompat lebih jauh, membangun guru sebagai pembelajar sepanjang hayat, menjadikan data sebagai kompas perubahan, dan memastikan bahwa setiap ruang kelas menjadi laboratorium inovasi pembelajaran. Karena pada akhirnya, masa depan pendidikan tidak ditentukan oleh seberapa sering kita menguji siswa, tetapi oleh seberapa serius kita membangun guru yang terus bereksperimen, reflektif, dan siap menghadapi masa depan.

Penulis: Prof. Toni Toharudin (Kepala BSKAP Kemendikdasmen/Guru Besar Unpad)

Topik: Guru Besar UnpadKemendikdasmenProf. Toni ToharudinSistem PendidikanTKA

TerkaitBerita

Membawa Pulang Standar Dunia ke Sekolah Menengah Kejuruan
Opini

Membawa Pulang Standar Dunia ke Sekolah Menengah Kejuruan

oleh Editor : Anggoro
28 September 2026
ZAKAT DAN PAJAK: Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendorong pemerintah segera mengevaluasi skema integrasi zakat dan pajak yang berlaku. Mereka menilai zakat yang telah dibayarkan masyarakat melalui lembaga resmi seharusnya dapat diperhitungkan secara langsung untuk mengurangi kewajiban pajak. (Foto Ilustrasi: iStockphoto)
Opini

Zakat Sebagai Pengurang Pajak?

oleh Editor : Memoarto
22 September 2026
“Echo Chamber”, Pengganggu Pembelajaran Mendalam?
Opini

TEFA Perlu Kafah, Jangan Mualaf terhadap Deep Learning

oleh Editor : Anggoro
23 Agustus 2026
Transformasi Jaminan Sosial menuju Pemberdayaan dan Kemandirian
Opini

Transformasi Jaminan Sosial menuju Pemberdayaan dan Kemandirian

oleh Editor : Anggoro
15 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Direkomendasikan

BULOG Terus Percepat Penyaluran SPHP Jagung Pakan, Pastikan Stok Nasional Mencukupi

BULOG Terus Percepat Penyaluran SPHP Jagung Pakan, Pastikan Stok Nasional Mencukupi

8 Oktober 2026
Penjualan Toyota Crown Tertekan, Camry Terbaru Diduga Jadi Penyebabnya

Penjualan Toyota Crown Tertekan, Camry Terbaru Diduga Jadi Penyebabnya

8 Oktober 2026
UGM Kembangkan Smart Waste Bin Berbasis AI, Bisa Pilah Sampah hingga Hitung Emisi Karbon

UGM Kembangkan Smart Waste Bin Berbasis AI, Bisa Pilah Sampah hingga Hitung Emisi Karbon

8 Oktober 2026
Sering Diabaikan, Penyakit Arteri Perifer Bisa Tingkatkan Risiko Serangan Jantung

Sering Diabaikan, Penyakit Arteri Perifer Bisa Tingkatkan Risiko Serangan Jantung

8 Oktober 2026

Terpopuler

  • Perdana, Kemenag-LPDP Siapkan 10.000 Kuota Beasiswa Pendidikan Profesi Guru

    Perdana, Kemenag-LPDP Siapkan 10.000 Kuota Beasiswa Pendidikan Profesi Guru

    4928 shares
    Share 1971 Tweet 1232
  • Laga Awal Musim Membuka Peluang AC Milan Berkembang

    343 shares
    Share 137 Tweet 86
  • Mayoritas Menteri Disentil Presiden, Menag Ingatkan Bawahannya Membeli Produk Dalam Negeri

    1015 shares
    Share 406 Tweet 254
  • Pemilahan Sampah Warga Rorotan Tembus 90 Persen, Biodigester Olah 1,2 Ton Sampah per Hari

    314 shares
    Share 126 Tweet 79
  • Posting Kalimat Galau di Instagram, Ada Apa Dengan Yogie Nandes?

    313 shares
    Share 125 Tweet 78
  • Tentang Kami
  • Redaksi Indopos
  • Pedoman Media Siber
  • Sitemap
Kontak Kami : 0899 064 8218

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya