koranindopos.com – Mengapa skor Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk SMA, MA, SMK, dan sederajat berubah dari 0–100 menjadi 200–800? Pertanyaan ini wajar. Selama bertahun-tahun, masyarakat terbiasa membaca nilai dalam skala seratus. Ketika rentangnya berubah, murid dan orang tua tentu ingin mengetahui alasannya.
Pembaruan ini diarahkan untuk menyajikan informasi kemampuan akademik dalam skala yang sesuai dengan pendekatan pengukurannya. Harapannya, hasil TKA dapat membantu murid mengenali capaian, sekolah memperbaiki pembelajaran, dan perguruan tinggi memperoleh informasi pendukung yang bermakna. Penjelasan yang terbuka menjadi bagian penting agar manfaat tersebut dipahami dan digunakan secara tepat.
Mengapa Skala Skor Diperbarui
Mari mulai dengan contoh yang akrab. Dalam tes berisi sepuluh soal berbobot sama, delapan jawaban benar menghasilkan nilai 80. Cara tersebut mudah dipahami. Akan tetapi, bagaimana jika dua murid mengerjakan paket berbeda? Jumlah jawaban benar mereka sama, tetapi soal pada satu paket berpotensi sedikit lebih mudah daripada paket lainnya atau sebaliknya. Menghitung jawaban benar saja belum tentu menghasilkan gambaran kemampuan yang sebanding.
Pengukuran perlu memperhatikan karakteristik soal. Pendekatan yang dikenal sebagai teori respons butir atau IRT membantu melakukan hal tersebut. Dalam model dua parameter, pengolahan jawaban mempertimbangkan tingkat kesukaran dan daya pembeda soal. Sederhananya, sistem memperhatikan seberapa sulit soal serta seberapa baik soal membantu membedakan tingkat penguasaan peserta. Informasi itu digunakan untuk memperkirakan kemampuan akademik murid.
Cara ini tidak berarti setiap soal sulit otomatis mendapat bonus nilai lebih besar. Kemampuan diperkirakan melalui pengolahan keseluruhan jawaban dan karakteristik soal yang telah dianalisis. Karena itu, jumlah jawaban benar yang sama dapat menghasilkan perkiraan kemampuan berbeda. Metode penskoran berdasarkan pola respons butir menghasilkan lebih banyak variasi nilai. Misal menjawab benar 8 dari 10 butir dapat menghasilkan 45 variasi skor, tidak hanya metode sederhana yang memberikan satu variasi nilai yaitu 80.
Hasil pengukuran tersebut kemudian disajikan dalam rentang 200–800. Di sini, kita perlu membedakan metode pengukuran dengan skala pelaporan. IRT berkaitan dengan cara memperkirakan kemampuan, sedangkan 200–800 berkaitan dengan cara menampilkan hasilnya. Rentang yang lebih lebar tidak otomatis membuat tes lebih akurat. Ketepatan tetap bergantung pada kualitas soal, pengolahan jawaban, dan pelaksanaan tes yang dapat dipertanggungjawabkan.
Masyarakat sudah mengenal rentang nilai hasil tes yang berbeda dari nilai rapor. Calon mahasiswa mengenal skor UTBK dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Tes atau SNBT. Pelamar beasiswa mengenal skor TOEFL. Contoh tersebut membantu menjelaskan bahwa hasil tes tidak harus menggunakan skala seratus. Namun, TKA, UTBK, dan TOEFL memiliki tujuan serta ketentuan masing-masing. Pemaknaan nilai setiap tes tidak cukup dari sekedar angka yang diraih, angka yang sama antara dua tes yang berbeda, memiliki makna yang juga berbeda.
Cara Membaca Skor Baru
Hal pertama yang perlu dipahami ialah skor baru bukan persentase jawaban benar. Skor 600, misalnya, tidak berarti peserta menjawab benar 60 persen soal. Angka tersebut menunjukkan hasil pada skala pelaporan TKA. Karena itu, skor baru tidak boleh langsung diubah menjadi nilai lama melalui pembagian atau perkalian sederhana. Maknanya perlu dibaca berdasarkan pedoman interpretasi yang sesuai.
Hal kedua, perubahan skala tidak berarti soal menjadi lebih sulit. Kesulitan ditentukan oleh rancangan soal, sedangkan skala menentukan bagaimana hasil dilaporkan. Angka yang lebih besar juga tidak membuktikan kemampuan murid meningkat. Peningkatan kemampuan harus dilihat melalui pengukuran yang sebanding.
Hal ketiga, skor perlu dibaca bersama penjelasan capaian yang menyertainya. Pertanyaan yang berguna ialah: apa yang sudah dikuasai murid dan bagian mana yang masih perlu diperkuat? Penjelasan tersebut harus sesuai dengan informasi yang dapat diberikan tes. Selisih kecil antarskor juga perlu dibaca hati-hati karena setiap pengukuran memiliki galat pengukuran. Selisih kecil dalam rentang galat dapat dimaknai sebagai kemampuan yang tidak berbeda.
Jika hasil akan dibandingkan antarpaket atau antartahun, diperlukan prosedur penyetaraan yang tepat. Penyetaraan dilakukan saat dilakukan estimasi kemampuan peserta menggunakan IRT dua parameter. Hasil penyetaraan tersebut kemudian dilaporkan dalam rentang yang baru, yaitu 200–800. Proses penyetaraan yang dilakukan antar tahun bertujuan untuk memudahkan keterbandingan. Rentang pelaporan nilai bertujuan untuk menampung variasi nilai yang terjadi antara satu murid dengan murid lainnya. Karena itu, panduan dan contoh pembacaan hasil menjadi bagian penting dalam mendampingi penggunaan skor baru. Sekolah dapat membahasnya bersama murid dan orang tua agar keluarga memperoleh pemahaman yang sama, bukan membuat kesimpulan sendiri dari angka semata.
Manfaat bagi Sekolah dan Perguruan Tinggi
Manfaat hasil TKA dimulai dari pembelajaran di sekolah. Guru dapat menggunakannya bersama penilaian kelas dan pekerjaan murid untuk menentukan pendampingan. Jika pemahaman bacaan masih lemah, kegiatan membaca dan membahas teks perlu diperkuat. Orang tua dapat membantu dengan menanyakan kesulitan anak dan dukungan yang diperlukan. Dengan demikian, skor membuka percakapan yang membangun dan mengarahkan perhatian pada perbaikan belajar.
Bagi perguruan tinggi, TKA menyediakan informasi capaian akademik dari asesmen terstandar. Informasi ini dapat melengkapi pembacaan nilai rapor dalam seleksi jalur prestasi sesuai ketentuan yang berlaku. Rapor menggambarkan perjalanan belajar murid di sekolah, sementara TKA memberikan informasi tambahan melalui pengukuran terstandar. Keduanya dapat dibaca bersama agar pertimbangan akademik lebih utuh. Kehadiran TKA tidak berarti menghapus nilai rapor atau menyamakan seluruh kebutuhan program studi.
Pemanfaatannya akan lebih optimal jika perguruan tinggi memahami makna skor, relevansi mata pelajaran, dan batas informasi yang diberikan tes. Untuk itu, keselarasan pemahaman antara pendidikan menengah dan pendidikan tinggi menjadi penting. Kriteria penggunaan hasil perlu dijelaskan agar calon mahasiswa mengetahui bagaimana capaian akademiknya dipertimbangkan. Skor hendaknya digunakan sesuai tujuan seleksi, dengan tetap memperhatikan bukti lain yang relevan dan ketentuan penerimaan mahasiswa.
Selain seleksi, hasil TKA berpotensi menjadi bahan merancang dukungan belajar bagi mahasiswa baru. Perguruan tinggi dapat mengkaji manfaatnya untuk mengenali kebutuhan penguatan kemampuan dasar, misalnya melalui program persiapan atau pendampingan akademik. Penggunaan tersebut perlu dievaluasi dengan melihat hubungannya dengan perkembangan belajar mahasiswa. Dengan cara ini, hasil asesmen dapat memberi manfaat lebih panjang, sejak transisi dari sekolah hingga awal pendidikan tinggi.
Pada saat yang sama, kekhasan pendidikan tetap perlu dihargai. Bagi lulusan SMK, TKA tidak menggantikan penilaian kompetensi kejuruan. Karakter, kreativitas, dan keterampilan praktik memerlukan bukti lain. TKA juga tidak menentukan kelulusan sekolah. Menempatkan hasil secara proporsional membantu menjaga agar setiap murid memperoleh kesempatan berkembang dan setiap institusi menggunakan informasi sesuai kebutuhan pendidikan.
Penutup
Kepercayaan masyarakat tumbuh ketika alasan perubahan dapat dipahami dan manfaatnya dirasakan. Karena itu, pembaruan skala pelaporan berjalan bersama tanggung jawab menjaga mutu soal, keamanan pelaksanaan, aksesibilitas, dan kejelasan informasi hasil. Kerja bersama sekolah, keluarga, dan perguruan tinggi menjadi kunci agar hasil TKA dimanfaatkan secara bermakna. Masukan dari para pengguna hasil menjadi bagian berharga dalam penyempurnaan pelaksanaannya.
Angka 200–800 akan bermakna apabila membantu kita membaca capaian murid dan memperbaiki pembelajaran. Manfaat inilah yang menjadi arah pembaruan kebijakan. Mari memahami skor baru TKA sebagai informasi untuk mendampingi anak belajar lebih baik, sekaligus memperluas kesempatan setiap murid memperoleh pendidikan bermutu.
PENULIS : Toni Toharudin (Kepala BKPDM Kemendikdasmen, Guru Besar Unpad)










