Koranindopos.com – JAKARTA – Penyakit perlemakan hati atau fatty liver disease masih menjadi salah satu ancaman kesehatan yang sering kali tidak disadari masyarakat. Kondisi ini dapat berkembang secara perlahan tanpa menimbulkan gejala yang jelas pada tahap awal, sehingga banyak penderita baru mengetahui adanya gangguan ketika penyakit telah memasuki fase yang lebih serius.
Dalam rangka memperingati Global Fatty Liver Day 2026 yang mengusung tema “Act Now”, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bersama Novo Nordisk Indonesia mengajak masyarakat untuk meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya deteksi dini dan pengelolaan faktor risiko yang dapat memicu penyakit perlemakan hati, terutama obesitas.
Tema “Act Now” menjadi seruan untuk mengambil tindakan sejak dini guna mencegah penyakit berkembang menjadi lebih parah. Para ahli menegaskan bahwa perlemakan hati merupakan kondisi yang masih dapat dikendalikan, bahkan diperbaiki, apabila terdeteksi lebih awal dan ditangani secara tepat.
Penyakit perlemakan hati terjadi ketika terdapat penumpukan lemak berlebih di dalam organ hati. Salah satu bentuk yang paling umum ditemukan adalah Metabolic Dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease (MASLD), yakni penyakit hati berlemak yang berkaitan dengan gangguan metabolik. Obesitas menjadi faktor risiko utama karena kelebihan lemak tubuh tidak hanya tersimpan di bawah kulit, tetapi juga dapat menumpuk di berbagai organ vital, termasuk hati.
Meningkatnya angka obesitas di Indonesia turut meningkatkan kekhawatiran terhadap risiko penyakit hati berlemak. Berdasarkan Data Survei Kesehatan Indonesia 2023, prevalensi obesitas pada orang dewasa terus mengalami peningkatan. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena obesitas juga berkaitan erat dengan berbagai penyakit kronis lainnya.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, menegaskan bahwa penyakit perlemakan hati sering berkembang tanpa gejala yang mudah dikenali. Oleh karena itu, masyarakat perlu lebih waspada terhadap faktor risiko yang dimiliki dan tidak menunda pemeriksaan kesehatan apabila diperlukan.
“Kesadaran masyarakat terhadap kesehatan hati perlu terus ditingkatkan. Deteksi dini menjadi langkah penting untuk mencegah komplikasi yang lebih berat di kemudian hari,” ujarnya.
Sementara itu, ahli gastroenterologi dan hepatologi Prof. Rino Alvani Gani menjelaskan bahwa penyakit hati berlemak memiliki spektrum yang cukup luas. Pada tahap awal, kondisi ini mungkin hanya berupa penumpukan lemak sederhana di hati. Namun apabila faktor risiko tidak dikendalikan, sebagian pasien dapat mengalami peradangan serta kerusakan sel hati yang berkelanjutan.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi fibrosis, sirosis, hingga kanker hati. Selain itu, penyakit hati berlemak juga diketahui memiliki hubungan erat dengan berbagai gangguan kardiometabolik seperti penyakit jantung dan pembuluh darah.
Karena itu, individu yang mengalami obesitas, obesitas sentral, diabetes tipe 2, maupun mereka yang memiliki hasil pemeriksaan fungsi hati tidak normal dianjurkan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan guna melakukan evaluasi risiko dan pemeriksaan lanjutan.
Pada kesempatan yang sama, dr. Dicky Levenus Tahapary, Sp.PD-KEMD, PhD, mengingatkan bahwa obesitas perlu dipahami sebagai penyakit kronis yang kompleks. Menurutnya, obesitas bukan hanya persoalan berat badan berlebih, tetapi kondisi medis yang dapat memengaruhi berbagai sistem dalam tubuh.
Lemak berlebih yang tersimpan di area perut dan organ-organ dalam dapat memicu gangguan metabolik yang berdampak pada kesehatan hati, jantung, serta pembuluh darah. Oleh sebab itu, penanganan obesitas perlu dilakukan secara menyeluruh dengan tujuan meningkatkan kesehatan metabolik dan kualitas hidup secara berkelanjutan.
Sebagai bagian dari komitmen dalam mendukung penanganan penyakit kronis dan metabolik di Indonesia, Novo Nordisk Indonesia terus mendorong berbagai program edukasi dan inovasi kesehatan yang membantu masyarakat memahami obesitas serta risiko penyakit yang menyertainya.
Melalui berbagai inisiatif edukasi, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga kesehatan metabolik, mengenali faktor risiko sejak dini, dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum muncul komplikasi yang lebih serius.
Momentum Global Fatty Liver Day 2026 menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan hati tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan. Dengan deteksi dini, pola hidup sehat, serta pengelolaan faktor risiko yang tepat, masyarakat dapat mengurangi risiko penyakit hati berlemak dan berbagai komplikasi yang menyertainya.
Pesan “Act Now” yang diusung tahun ini pun menjadi ajakan bagi seluruh lapisan masyarakat untuk mulai bertindak sekarang, menjaga kesehatan hati sejak dini, dan membangun kualitas hidup yang lebih baik di masa depan.(dhil)










