Koranindopos.com – JAKARTA — Asap dari kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mengganggu aktivitas warga yang tinggal di sekitar lokasi.
Asap dari sampah yang terbakar dilaporkan masuk hingga ke area perkampungan pada Kamis (10/9/2026). Warga mengeluhkan gangguan kesehatan, mulai dari batuk, mata perih, hingga rasa sesak pada pernapasan.
Salah satu warga, Adin (60), mengatakan arah angin membuat asap kebakaran bergerak menuju permukiman tempat tinggalnya.
“Anginnya ke arah sini, asapnya juga ke sini. Kan sedangkan di sini banyak anak kecil gitu. Takutnya sama anak kecil doang gitu,” kata Adin saat ditemui Kompas.com, Kamis malam.
Adin mengatakan, asap kebakaran TPA Galuga sudah cukup mengganggu dirinya ketika berada di rumah.
Menurut dia, kondisi tersebut membuatnya beberapa kali mengalami batuk. Asap yang terus masuk ke lingkungan permukiman juga mengganggu waktu istirahatnya.
“Bisa batuk-batuk kalau misalnya enggak dimatiin apinya. Tidur bisa keganggu juga,” sambungnya.
Adin mengaku tidak berharap mendapatkan kompensasi dari pemerintah daerah atas dampak yang dirasakan warga.
Menurutnya, hal yang paling diharapkan masyarakat adalah kebakaran di TPA Galuga segera dipadamkan sehingga asap tidak lagi mengganggu permukiman.
“Enggak perlu (kompensasi) sih bagi saya mah gitu ya, yang penting mah tadinya enggak ada api, harus padam lagi,” ujar Adin.
Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, Wardi (34). Ia mengatakan asap kebakaran TPA Galuga turut masuk ke wilayah perkampungan.
Paparan asap tersebut membuat Wardi mengalami batuk dan merasakan matanya perih. Ia juga mengaku sempat merasakan sesak napas.
“Asapnya ini yang saya takutkan bikin batuk, terus terang mata saya juga sekarang agak perih. Napas agak sesak, waktu pas bangun tidur itu kita batuk-batuk semua,” ujar Wardi saat ditemui Kompas.com.
Menurut Wardi, kondisi tersebut menjadi kekhawatiran bagi warga karena banyak anak-anak yang tinggal di sekitar permukiman.
Ia berharap kebakaran segera ditangani sehingga asap tidak lagi menyelimuti kawasan tempat tinggal warga.
Sama seperti Adin, Wardi mengatakan dirinya tidak mengharapkan kompensasi dari pemerintah daerah.
Menurut dia, prioritas saat ini adalah memastikan api di TPA Galuga segera berhasil dipadamkan.
“Enggak dikasih juga enggak apa-apa yang penting padam aja dulu ya. Pengen cepat padam lah, pengen cepat itu. Soalnya kan ininya asapnya ini yang mengganggu,” lanjutnya.
Bagi warga, asap menjadi persoalan yang paling dirasakan dari kebakaran tersebut. Selama api masih menyala, masyarakat khawatir asap akan terus terbawa angin menuju permukiman.
Sebelumnya, Bupati Bogor Rudy Susmanto mengungkapkan adanya kendala dalam proses pemadaman kebakaran di TPA Galuga.
Kondisi tersebut membuat upaya pemadaman tidak dapat dilakukan dengan cepat. Sementara itu, warga di sekitar lokasi harus menghadapi dampak asap yang terbawa angin ke lingkungan permukiman.
Keluhan warga terkait batuk, mata perih, hingga sesak napas menunjukkan bahwa asap kebakaran menjadi persoalan yang perlu segera ditangani.
Masyarakat berharap proses pemadaman dapat segera diselesaikan agar kualitas udara di sekitar TPA Galuga kembali membaik dan warga, terutama anak-anak, tidak terus terpapar asap kebakaran.
Bagi warga sekitar, persoalannya bukan mengenai kompensasi. Mereka hanya ingin api segera padam sehingga asap yang selama beberapa hari mengganggu aktivitas dan waktu istirahat tidak lagi masuk ke permukiman.(dhil/kmps)










