Koranindopos.com, Jakarta – Sebuah langkah baru diukir oleh influencer sekaligus Top 6 Puteri Indonesia 2024, Ghina Raihanah Tadjoedin. Tepat di momen perayaan hari ulang tahunnya, ia secara resmi meluncurkan karya tulis perdana yang mengusung genre self-development.
Momen istimewa tersebut dirayakan melalui acara peluncuran buku bertajuk Becoming Without Arrival. Agenda ini digelar dengan penuh kehangatan di Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (Macan), Jakarta Barat, pada Minggu (20/9/2026).
Karya ini hadir sebagai rangkuman refleksi perjalanan hidup sang penulis sejak masa kecil hingga genap menginjak usia kuarter abad. Ghina meramu tiap lembarannya tanpa terkesan mengajari, melainkan mengalir lembut lewat analogi kehidupan.
Wanita kelahiran 19 September 2001 tersebut memilih elemen alam dan samudera sebagai gambaran dinamika diri. Pendekatan visual dan filosofis ini ditujukan agar pembaca lebih mudah memahami pentingnya menerima serta menghargai setiap tahap pendewasaan.
”Bagaimana memaknai perasaan sampai akhirnya mengerti kalau proses itu harus sama-sama dihargai. Kita tidak perlu menunggu sampai di titik tertentu untuk baru akhirnya percaya diri dan nyaman sama diri sendiri,” katanya saat ditemui setelah acara.
Daya tarik buku ini tidak hanya terletak pada narasinya, tetapi juga pada visual pendukung yang dihadirkan. Karya tersebut dilengkapi artwork ciamik bertema laut hasil kolaborasi para kontributor, serta lembar khusus journaling bagi para pembaca.
Proses kreatif di balik penyusunan buku ini menyajikan tantangan tersendiri bagi Ghina yang berlatar belakang pendidikan hukum. Terbiasa berkutat dengan penulisan jurnal ilmiah yang kaku, ia dituntut mengeksplorasi sisi kreativitas secara lebih bebas dan emosional.
Pengalaman menyelam (diving) menjadi salah satu ruang kontemplasi utama yang membantu Ghina mengumpulkan ide-ide penulisan. Ketenangan di bawah laut memberikannya inspirasi mendalam untuk menyelesaikan seluruh bagian isi buku tersebut.
”Kesulitannya berbeda karena harus lebih kreatif. Aku menyelesaikan buku ini saat diving trip karena aku suka nyelam. Kalau hukum biasanya baca jurnal, kalau ini memang butuh ketenangan,” tuturnya.
Kehadiran buku Becoming Without Arrival membawa pesan kuat agar masyarakat berhenti membandingkan perjalanan hidupnya dengan orang lain. Ghina tergerak untuk mengajak setiap individu mulai mencintai titik di mana mereka berada saat ini.
”Kita terbiasa menghargai diri kalau sudah sukses atau kaya, tapi lupa menerima diri saat masih berproses. Padahal proses itu sama pentingnya,” tuturnya.
Kehangatan acara puncaknya semakin terasa lewat apresiasi yang disampaikan oleh Tsania Marwa. Kehadirannya memberikan dorongan moral serta pujian atas konsistensi dan ambisi Ghina yang terus berkembang sejak masa sekolah.
”Ghina adalah sosok adik yang justru mengajarkan banyak hal. Fun fact-nya, dulu waktu sekolah dia malah minta saya yang menuliskan tugas puisinya. Seiring berjalannya waktu, ambisi dan konsistensinya yang bikin Ghina bisa jadi seperti sekarang. We are so proud of you. Apa pun yang Ghina lakukan, itu semua jadi untaian seni yang akhirnya mewujud buku ini,” tutupnya. (BRG/Hend)










